BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 138. You Don't Need Say Anything



POV James


Jen menatapku saat aku mengatakan dia adikku. Apa ada yang salah dengan itu? Aku menganggapnya bagian dari keluarga. Dia adalah orang yang harus kulindungi, itu yang kupahami.


Kenneth sahabat dekatku, Ibu, Ayahku mengenalnya dengan baik saat kami dulu masih bersama. Apa itu salah baginya. Dia sudah kuanggap adikku.


"Aku bukan adikmu James. Jangan bertindak seperti kakakku. Kau mau pacaran, ayo kita lakukan. Supaya ****** itu kesal dan aku tak keberatan." Dia melihatku dengan sekarang, aku tak pernah meyangka dia berpikir seperti itu. Setelah Fred yang ditangisinya selama hampir setahun, lalu bangsat Andrew itu?


"Kau bercanda bukan..."


"Di bagian mananya aku bercanda?" Dia mengharapkanku? Kupikir dia malah sedang dekat dengan Tom. Tom yang tampan itu juga tampaknya bisa menjadi teman bicara yang baik untuknya setelah Andrew bangsat yang tidak bisa diharapkan itu.


"Kau adik Kenneth."


"Lalu, kenapa kalau aku adik Kenneth."


Aku tak bisa menjawabnya. Dan dia pun nampaknya kesal. Dia pergi berbalik meninggalkanku.


Tak kusangka dia bisa mengatakan ini. Apa yang harus kulakukan sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=


Aku bingung menghadapinya. Dia tak bicara apapun setelah itu. Di satu sisi, aku belum mau terlibat hubungan terlalu dalam, memiliki seseorang, mempunyai ikatan, kepergian Clarence karena kecelakaan masih membuatku trauma tentang apa itu terlalu mencintai dan kehilangan. Aku memperlakukan Jen sebagai adik yang harus kulindungi, aku marah karena Andrew menyakitinya, aku takut dia terluka karena sesuatu, tapi untuk mengatakan cinta? Entahlah.


Kadang aku malah merasa dia ada untuk membuat diriku sendiri punya tujuan hidup kembali setelah kehilangan Clarence dan Mama.


Lagipula keadaan yang belum pasti seperti ini, bertanggung jawab atas sebuah hubungan serius membutuhkan banyak hal. Apa aku menyukainya, entahlah... kukira hubunganku dengannya dari dulu adalah kakak dengan adik perempuan, karena aku tak punya adik perempuan, ada kakak laki-laki. Jadi seperti Kenneth aku memperlakukannya sebagai adik yang kusayangi. Bahkan mungkin  kebanyakan aku lebih toleran padanya dari pada Kenneth, kakaknya sendiri.


Bagaimana harus menjelaskan padanya.


“Jen.” Kali ini dia datang untuk menganti perbanku seperti biasa.


“Hmm...” Dia tidak menyinggung pembicaraan kami tadi siang.


“Tak usah dibicarakan.” Dia langsung memotongku, sementara dia menganti perban di belakang punggungku. “Aku tahu kau tidak ingin punya hubungan  serius sekarang. Yang aku bilang adalah aku bukan adikmu. Aku tahu kau baik padaku karena hubungan masa lalu kita, kau memang selalu baik padaku, tapi kau bukan Kakakku. Mungkin bagimu aku bukan tipe gadis yang kau suka, itu tak apa. Kau bisa mengatakannya terus terang. Jadi tak usah bicarakan lagi. Tetaplah begini...”


Tetaplah begini. Jika dia sudah mengatakan ini jelas keadaan berubah.


“Sudah selesai, luka  jahitannya sudah mengering sempurna, kurasa dalam 2-3 hari kau bisa mencabut benang jahitannya. Apa masih sakit?”


“Sedikit.”


“Aku pergi dulu oke.”


“Iya. Thanks Jen.” Dia hanya tersenyum dan meninggalkanku sendiri di kamar  tanpa berkata apa-apa lagi.


Tetaplah begini, sementara semua jelas sudah berubah. Hal yang membingungkan.


... ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Tom, orang yang menembakku itu sudah  dilepas?” Aku bertemu dengan Tom keesokan harinya saat dia membantu Emergecy dan klinik umum menyelesaikan gelombang pengungsi yang cukup  padat hari ini.


“Belum Doc. Walikota masih menahannya.”


“Kenapa dia masih menahannya.”


“Pria itu masih menyalahkan walikota karena menahan putrinya di sini.”


“Begitukah.” Kupikir mereka sudah menyelesaikan masalahnya.


“Nampaknya orang itu sangat keras kepala.”


“Kau benar, dia orang kaya yang berpikir kalau dia penguasa suatu wilayah. Dia punya ranch luas di sini, dia seperti penguasa di kotanya sendiri.”