BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 97. Sloppy 2


"Tidak, jika ada bahaya lagi akan sulit, kita tunggu hujan reda dulu. Ini masih deras. Kita bisa terpeleset di depan banyak jalanan menurun air sedang deras. Bagaimana menurutmu Doc."


"Aku setuju. Kau tetap duduk dulu, kepalamu masih sakit? Aku akan memberimu analgesic dulu."


"Iya baiklah, aku menurut saja. Seharusnya aku tak naik dan menyusahkan seperti ini."


"Jangan berpikir macam-macam." James memberikan obatku dari tas yang dibawanya.


"Ini kecelakaan Nona, tidak ada yang menyalahkanmu. Siapa yang sangka hari secerah ini bisa hujan. Sudah dua minggu tak hujan. Aku juga senang bisa hiking ke atas kupikir ini akan jadi perjalanan menyenangkan."


Aku melihat hari semangkin gelap. Walaupun hujan masih turun tak sederas tadi, sakit kepalaku berkurang karena obat.


"Bagaimana kita turun, akan semangkin gelap dan sulit, kita cuma punya satu senter." Aku memberi usul.


"Doc?"


"Kau bisa? Tak perlu kami papah?" James bertanya.


"Tidak, aku bisa berjalan. Ini hanya sedikit berdenyut." Aku takut kami harus bermalam di hutan ini dengan baju basah dan kedinginan.


"Baiklah. Tapi jika kau merasa pusing kau harus bilang." James menyetujui kami turun. Dia menutup kepalaku dengan kantong plastik yang entah dari mana dia dapat dan mengelem nya dengan perban.


"Iya."


"Ayo. Aku di depan. Dokter James berjalan dengan Nona Jen." Tommy memberi tahu di radio bahwa kami berjalan turun mengejar masih adanya cahaya. Pasti akan gelap saat kami sampai tapi turun lebih cepat lebih baik.


Aku mengigil karena bajuku basah. Sementara kami harus pelan-pelan memakai pegangan kayu yang di berikan oleh Thomas untuk menjaga keseimbangan karena jalanan licin dan mempunyai aliran yang mengalir ke bawah.


"Kau kedinginan? Pusing?" James dari tadi memegang lenganku sambil membawa tongkatnya sendiri. Setidaknya ada James yang tahu apa yang harus dilakukan.


"Sedikit dingin, tak apa kita asal kita bisa berjalan. Aku tak apa, aku akan bilang jika pusing."


Kami berusaha dengan kecepatan yang terbatas, dan hujan yang masih terus turun, dan nampaknya udara terasa semangkin dingin, setengah jam kemudian, kegelapan mulai menyelimuti, tapi kami terus turun dengan bantuan senter, dan aku masih bisa walau kepalaku mulai pusing, sudah satu jam lebih kami mencoba turun. Hujan tinggal rintik


"Tim penjemput tak jauh lagi." Perkataan Thomas membuatku bersyukur kerena kepalaku sudah pusing dan pandanganku berputar.


"Kita berhenti Tommy." Aku berpegangan dengan erat ke James. "Bersender padaku, pejamkan matamu." Aku ingin sekali duduk kepalaku pusing sekali.


"Bisakah aku duduk." Kurasa aku hanya ingin berbaring sekarang tapi tak bisa. Mataku mulai menggelap. Sebelum tabir gelap mengistirahatkanku.


"Jen.. Jen." Seorang menepuk pipiku tapi aku menyerah pada rasa lelah yang menderaku.


\=\=\=\=\=\=


Aku terbangun. Langit-langit putih ini mengatakan bahwa aku di rumah sakit.


"Kau sadar,... bagaimana perasaanmu?" Ini suara James. Dia menungguiku


"Kita sudah sampai. Jam berapa ini."


"Baru jam 9, sudah di rumah sakit tentu saja kau sudah aman." Aku lega, walau kepalaku masih pusing.


"Apa mereka membuang blueberry-nya?" James mau tak mau tertawa.


"Ternyata yang kau pikir malah blueberrymu."


"Jadi benar blueberrynya dibuang. Aku memetik itu berjam-jam." Aku masih sedih dengan blueberrynya.


"Aku membawanya Tootsie, besok kau bisa makan berkilo-kilo semaumu." Aku langsung tersenyum, ternyata blueberryku selamat.


"Thanks James..."


"Istirahatlah, besok kau akan lebih baik."


Seseorang mengetuk pintuku. Andrew...


"Kau sudah sadar." James langsung tidak memasang wajah tidak senang.


"Kau. Kita bicara di luar!" Andrew mundur tidak jadi masuk begitu James berdiri. "Kenapa kau kesini! Dia begini semua karenamu!" Aku masih bisa mendengar apa yang dikatakan James.