BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 95. Blueberry Field 2


"Kenapa tiba-tiba menggelap?" Tommy langsung memandang ke langit. "****, awan hujan dan badai. Kalian membawa jas hujan?"


"Kami bawa." Aku ikut mengangguk. Untungnya aku membawanya. Setiap pendaki pasti membawa jas hujan. Tak ada yang ingin kehujanan dan menggigil di tengah hutan.


"Kita tidak akan berhenti walaupun hujan oke. Kita sudah lebih dari setengah perjalanan. Terlalu jauh sudah ke atas lebih baik ke bawah."


"Iya baik." James menjawab, aku juga mengangguk. Tommy memimpin jalan sementara aku di tengah dan James di belakang.


"Cek status. Tommy, laporkan dimana kalian."


"Boss, kami ada emergency kesehatan, kami baru turun 16.20, tapi ada pemandu memberikan kami jalan pintas tadi. Kami mungkin menghemat 1/5 waktu." Tommy melapor sambil kami terus berjalan.


"Kalian terlalu sore turun, ada hujan akan terjadi, tetaplah di jalur kalian, akan kukurim backup untuk menyusul. Kalian jauh dari jalur mobil?"


"Kami mengambil jalur berjalan kaki. Balance Rock Trail, jauh dari jalur jalan utama, kami akan tetap berjalan walaupun hujan, mereka membawa jas hujan, aku akan melihat situasi nanti."


"Baik, akan tetap kukirimkan empat orang untuk menjemput kalian. Nyalakan GPS locator mu."


Komunikasi akhirnya berakhir.


"Perhatian juga. Merasa bersalah rupanya." James membuat komentar sarkasnya sekarang.


"James."


"James sudahlah." James diam setelah itu. Sementara Tommy bertahan tidak menanggapi, mungkin entah bagaimana dia tahu. Tapi menahan diri tidak ikut campur sama sekali.


Kami tidak beruntung tetesan pertama dari langit datang beberapa detik kemudian.


"Pakai baju hujan kalian." Belum selesai kami memakai baju hujan, berita buruk lainnya datang, kali ini hujan yang dicurahkan datang dengan intensitas tinggi.


"Sial! Sial! Kenapa bisa hujan lebat di hari secerah ini." Tommy mengumpat melihat air yang dicurahkan seperti pancuran itu. Disusul dengan petir dan guntur, plus angin yang cukup kuat. Suhu langsung jatuh begitu saja sekarang.


"Ayo kita jalan saja sebisanya." Aku menenangkan mereka, walaupun topi dan jas hujan ini cukup membantu tapi intensitas air hujan dan angin yang turun benar-benar menyulitkan kami.


"Sebaiknya kita mencari naungan dulu." Thomas akhirnya memutuskan bernaung setelah beberapa saat kami mencoba menembus tirai air lebat ini, " Ini akan jadi berbahaya. Pandangan kita terbatas."


"Kemana kita akan bernaung. Sepanjang jalan kondisinya sama. Kau ingin kita diam saja di satu tempat?" James mendatanginya untuk bicara dengannya.


"Aku membawa kain terpal naungan darurat, kita akan mengikatnya di pohon dan itu menyediakan pelindung sementara. Aku takut resiko kita terpeleset dan jatuh, akan banyak jalan menurun di depan. Kita tunggu setidaknya intensitasnya tak terlalu tinggi lagi, lalu kita lanjutkan dengan pandangan lebih baik, ini berbahaya."


"Baiklah." James setuju. Tommy bergerak mengikatkan terpal itu ke tali yang dia bawa ke lokasi yang dia pilih dibantu oleh James.


"Jen, kemarilah." James memintaku masuk ke tengah sementara dia dan Tommy di pinggir. Udara dingin lebih terasa saat kami diam begini. Jas hujan ini membantu kami tak basah seluruhnya tapi tetap saja ini bukan jas hujan pendaki pro yang punya cover jauh lebih baik, air yang merembes membasahi pakaian membuat kulit mendingin dan badan menggigil di tengah angin.


"Kau kedinginan?" James dengan simpatik bertanya.