BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 40. Lover 2


Lalu aku kemudian berpikir aku belum bahkan bicara apapun ke Albert, Kakaknya itu pasti membenciku karena merasa aku menjebak adiknya. Akan tambah sulit bagiku... Sial, tadi benar aku tak berpikir panjang. Bodoh! Kau sangat bodoh Gilbert!


"Eliza..." Dia duduk di sofa kembali agak jauh dariku, melihatku, aku tak tahu apa yang ada di pikirannya.


"Apa yang kau inginkan?"


"Kau kembali padaku, kau tak membenciku bukan? Bicaralah padaku apa yang kau pikirkan."


"Kau sering melakukan itu?"


"Melakukan apa?"


"Menghamili wanita..." Dia pasti berpikir banyak hal setelah melihat pil itu.


"Itu hanya tindakan pencegahan jika aku tak yakin. Sudah lama ada di tas-ku, kau lihat saja tanggal expirednya, itu mungkin beberapa bulan lagi." Dia menggangapku bangsat sekarang. Dia melihatku dengan tatapan tak percaya. "Aku bersumpah itu yang sebenarnya."


Dia memelototiku tapi tak bicara apapun setelahnya, entah dia percaya atau tidak.


"Maaf, tadi aku benar-benar tak berpikir panjang, emosi sesaat. Itu kebodohanku."


"Itu memang bodoh. Anakmu akan tak bahagia karena aku tak bahagia." Saat dia mengatakan anakmu tak bahagia, aku yakin dia punya perasaan yang sama denganku.


"Eliza, aku berharap hubungan kita akan berhasil. Apa kau punya orang lain yang sedang mengejarmu? Atau kau dikenalkan oleh Albert?"


"Tidak. Kau terpancing oleh kecemburuan tak beralasan. Sungguh konyol, mengatakan apapun kau tidak, tapi kau merasa aku milikmu!


"Baiklah, aku percaya. Itu kebodohanku, boleh aku memelukmu lagi." Dia menatapku dan menepuk sofa dengan lembut, tanda aku boleh duduk disampingnya dan memeluknya lagi. Kupeluk dia dengan erat dan kucium keningnya.


"Terima kasih memaafkanku. Aku mencintaimu." Kukatakan aku mencintainya sekarang, karena aku memang mencintainya. Aku tak bisa lepas memikirkannya.


"Kau mencintaiku Jenderal." Setidaknya dia tersenyum mengatakan itu, setidaknya dia punya perasaan yang sama.


"Aku mencintaimu."


"Kenapa."


"Aku tak tahu. Yang kutahu aku hanya tak bisa berhenti memikirkanmu." Dia hanya tersenyum. Aku lega dia tidak marah, mungkin dia juga punya perasaaan yang sama denganku. "Kau setidaknya menyukaiku bukan."


"Wonder woman, tak ada di kamusmu kau mengaku kalah bukan." Dia tertawa atas sindiranku.


Kami duduk diam saja sekarang dengan lenganku melingkar di bahunya.


"Kau tahu, sejak awal kita bertemu. Kau menipuku tapi dengan mudah aku memaafkanmu, aku tahu ada yang salah dengan diriku sendiri." Dia tersenyum kecil padaku.


"Aku juga tak tahu apa ini akan berhasil. Mungkin... Aku tak tahu apa aku bisa meninggalkan Kanada. Aku tak tahu pendapat Albert, selama ini aku membantunya dalam hubungan politik dan nama keluarga. Mungkin dia akan mengizinkan bagaimanapun ini hidupku, tapi itupun perlu waktu. Dan kau harusnya tahu itu. Kenapa kau seperti anak kecil yang cemburu. Kau bahkan tak mengatakan apapun padaku. Aku bahkan tak pernah tahu apa kau menganggapku serius atau aku hanya ..."


"Maafkan aku. Itu dorongan sesaat yang memang benar-benar egois."


"Kau memang seperti anak kecil. Cemburu tak beralasan." Aku senang dia tak apa aku cemburu dan dia akhirnya masih bersedia tinggal bersamaku.


"Terima kasih untuk mau tinggal di sini malam ini." Aku memeluknya erat. Dia melihatku, bibirnya mengulaskan senyum. "Kau mau tidur dengan baju seperti ini aku bisa meminjamkanmu kausku."


"Kau senang sekali nampaknya."


"Aku senang melihatmu memakai bajuku, rasanya seperti kita sudah tinggal bersama."


"Kau memang berlebihan."


"Bukannya wanita sering tinggal bersamamu."


"Sudah lama tidak. Jangan bicarakan orang lain oke. Sekarang kau dan aku saja. Aku hari Senin sudah harus kembali. Kita hanya bisa bersama sampai besok. Dua minggu lagi aku akan kembali dengan tim."


"Washington DC ke Montreal hanya 1.5 jam, kita bisa bertemu di akhir pekan bukan." Dia memberikan usul.


"Saling mengunjungi, akhir pekan. Itu usul yang bagus." Aku menyetujuinya.


"Jadi sekarang kita kekasih." Dia menanyakan hal yang sudah jelas.


"Kita kekasih, jelas saja."


\=\=\=\=\=\=