BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 146. Popular Nurse 4


"Kau yang terbaik Paul sayang." Aku juga menanggapinya dengan bercanda.


James diam saja, yah dia memang tak terlibat dalam pembicaraan ini, aku hanya mencoba memancing di air keruh dan nampaknya tak mendapat apapun.


"Laura, kemarilah." Aku melihat Laura. Dia kembali ke tugasnya di bangsal rawat inap setelah tidak bertugas di zona merah.


"Jen!" Dia dengan cepat bergabung dengan meja kami. "Halo semuanya."


"Halo imut." Sekarang Paul kembali yang menggodanya.


"Playboy, kau tadi bilang mau menjadi pacarku, tapi kau menggoda gadis lain di depanku. Dasar murahan." Aku melemparnya dengan sepotong kentang goreng. Dia menangkapnya dan memakannya sambil tertawa.


"Kau jangan percaya dengan Paul, Jen. Dia menyapa semua orang dengan sweetheart, honey, my darl, cute, itu senjata andalannya." Paul langsung tertawa ngakak.


"Itu caraku memudahkan semua urusan Laura sayang." Laura mencibir padanya .


"Ohh ternyata begitu. Aku baru tahu kau playboy."


"Playboy sebenarnya itu, Rear Admiral Gilligan. Lihat berapa banyak gadis-gadis cantik di mejanya berkumpul, teman-teman perawat di bangsalku juga sering membicarakan tentang dia." Laura menunjukkan padaku dengan gerakan dagunya. Kulihat seseorang pria tampan, dengan beberapa wanita di sampingnya.


"Siapa dia."


"Hmm, katanya lulusan terbaik di eranya, kariernya cepat naik, Ayahnya adalah salah seorang Vice Admiral. Masa depannya terjamin. Benar bukan Kapten Tom."


"Ya benar. Tapi memang dia lulusan, soal Ayahnya ya itu memang previllage yang dia punyai. Lulusan yang sama denganku, hanya dia di angkatanku yang sudah mencapai Rear Admiral."


"Mau mencoba Jen?" Paul mengomporiku.


"Tidak, aku tak suka harus bersaing begitu berebut perhatian."


"Dokter James, kau tidak punya pacar di sini?" Sekarang Laura yang bertanya. Aku sekarang menunggu apa yang dia ingin katakan.


"Tidak aku masih bersemangat menunggu wilayah zona hitam menghilang." Itu jawabannya. Entahlah, mungkin itu tindakan yang benar, menunggu semuanya menetap bukannya itu terlalu lama. Dia melanjutkan


"Aku mendengar dari Komandan Operasi Utama wilayah Florida, Kissimmee, Orlando dan sekitarnya sudah hampir selesai, pasukan akan seger! mulai bergerak ke pesisir utara. Kurasa kita sebentar lagi akan ke pesisir, mungkin ke Daytona Beach segera. Kita akan sangat sibuk jika sudah masuk ke Daytona Beach. Orlando sudah jadi kota aman, walaupun sebagian pengungsi pindah ke sini, tapi pinggiran Orlando sendiri sudah mulai berbenah, rumah sakit di sana sudah mulai difungsikan, kurasa sebentar lagi kita akan mengikuti ke sana dengan tim yang lebih kecil untuk membackup zona merah jika ada kejadian. Karena Orlando, lebih dekat ke Daytona


Ohh ternyata kami akan pindah lagi. Aku akan merindukan Danau Toho, padahal aku sudah mulai betah di sini.


"Apa aku akan ikut kalian." Laura bertanya.


"Iya, kau dari CDC Atlanta, kemarin aku sudah melatih dokter lokal yang akan tetap di Kissimme untuk menangani kasus infeksi jika ada."


"Bersemangat ayo kita pindah lagi." Aku menyemangati diriku sendiri.


"Kau tak ingin tinggal di sini Jen." Aku tahu mana mungkin dia meninggalkanku di sini.


"Tidak Boss, aku mengikutimu kemanapun." James menatapku dengan senyum yang tak kutahu artinya. "Kecuali aku bertemu walikota baru. Kau bisa pindah sendiri. Sayang sekali walikota yang ini sudah punya istri." Sekarang satu meja tertawa.


"Ternyata spesifikasimu tinggi sekali. Kurasa kita semua tak punya kesempatan." Paul langsung pura-pura meratapi nasib.


"Kita sudah putus begitu tadi kau memanggil Laura cute. Kau berselingkuh di depanku, kau memang tega Paul." Aku membalasnya dengan kalimat yang tak kalah absurdnya.


"Laura hanya selingan sayang, kau tetap nomor satu bagiku."


"Kau bilang aku seĺingan, kau hati-hati minumanmu kucampur obat nyamuk." Laura membalasnya sehingga kami tertawa tak henti


Mungkin memamg belum bisa punya hubungan apapun. Yah sampai nanti aku akan tetap mengikutinya.