
"Apa dia mengatakan sesuatu padamu?" Dia dan Kakak cukup dekat, apa Kakak mengatakan padanya soal Gillian. Mungkin mereka berdua sudah merencanakan sesuatu soal ini.
"Mengatakan apa maksudmu?" Andrew yang binggung dengan pertanyaanku. Kemudian aku merasa salah mengatakannya Mungkin aku terlalu jauh berpikir, bagaimanapun Andrew sedang sakit sekarang. Tak mungkin Kakak langsung merencanakan sesuatu dengannya.
"Lupakan aku bertanya."
"Dia hanya bilang jika aku sudah pulih, kau akan menemaniku kembali ke Montreal. Tak ada yang lain. Jika kau keberatan kau tak usah melakukannya, aku bisa pulang sendiri. Aku tak selemah itu harus kau temani." Ada nada tersinggung di nada bicaranya.
"Bukan aku keberatan, aku akan menemanimu." Dia menatapku dengan pandangan rumit.
"Tidak usah aku pulang sendiri. Pergilah bekerja. Nanti malam tak usah datang." Sekarang dia marah dan aku harus memperbaiki perkataanku.
"Aku hanya bertanya apa yang Kakak katakan, kenapa kau sensitif sekali. Aku tidak merasa terbebani, aku akan menemanimu." Aku ikut mengerucutkan bibirku, mengajaknya bercanda.
"Pergilah." Dia menolak dikasihani. Mungkin dia tahu aku hanya merasa ini kewajiban karena dia terluka karena kesalahanku dan dia sudah kalah duluan. Aku tahu apa yang ada di hatinya.
"Terserah padamu. Pergilah ke kantor sekarang." Dia mengusirku lagi.
"Aku akan kembali malam. Kau mau dibawakan sesuatu."
"Tidak." Dia bahkan berpura-pura sibuk dan tidak melihatku saat menjawabnya.
"Baiklah. Aku pergi." Baiklah, aku lebih baik mundur daripada menyinggungnya lagi.
Saat aku kembali malamnya, aku memilih tak melihat sikapnya yang tadi siang. Aku akan bicara seperti biasa, membahas sedikit pekerjaan, tidak akan mengasihaninya, membuatnya melupakan dia sakit.
Aku masuk dan mengetuk pintu jam lima. Sengaja pulang lebih cepat.
"Aku datang lagi." Dia melihatku masuk, aku tersenyum kecil padanya.
"Kau tahu, Tommy bilang Oliver Huerter akan masuk ke pecalonan Senate, Ayahmu mempertimbangkannya, aku dan teman-teman pengusaha sama sekali tidak menyukainya, dia vokal sekali di organisasi buruh, tuntutannya kadang tak masuk akal sama sekali. Negosiasi dengannya sangat menyebalkan, teman-teman pengusaha yang menyokong partai juga semuanya tidak menyukainya...." Aku memberondongnya dengan berita yang baru aku dengar.
"Dia popular, kita bisa memanfaatkannya dulu. Kau harus melihat gambaran besarnya, tak ada gunanya menaruhnya menjadi oposisi murni. Jika dia dekat dengan kita, kita bisa mengendalikan lebih banyak hal."
"Kita punya rekannya Antony Hill, kenapa tidak dia saja."
"Pengaruh dan kharisna Oliver jelas jauh lebih bagus untuk dipegang dibanding Antony yang hanya bagus di mata kalian para pengusaha. Dengan memegang Oliver kita akan punya lebih banyak peluang masuk ke kalangan buruh. Ke depannya dia juga bisa kalian ajak kerjasama." Dia langsung menjawab panjang lebar dengan jelas jika menyangkut pekerjaan.
"Hmm... ya kau mungkin benar soal itu. Tapi di masa lalu banyak diantara kami yang sakit hati jika berhadapan dengannya. Di mata kami dia 100% memihak ke arah sana. Apa kau punya bukti dia orang yang bisa diajak berunding, di masa lalu dia tidak punya keistimewaan itu."
"Aku tahu apa kekhawatiran kalian. Jika aku sudah di Montreal akan kupertemukan kalian dengannya. Ayah kemungkinan besar sangat menginginkannya bergabung dengan kita. Kalian akan melihatnya berbeda setelah bicara dengannya nanti, dia memang idealis, tapi dia masih bisa diajak bicara. Aku jamin itu."
"Hmm...Begitukah? Kau harus berusaha keras meyakinkan kami jika begitu." Pembicaraan berjalan dengan lancar jika berhadapan dengan pekerjaan, beberapa berita yang ku bawa kami diskusikan seolah kami tidak punya masalah sebelumnya.
"Aku bawa makanan enak, orang lokal menyarankanku untuk mencoba makanan di restoran ini. Ayo makan dulu..." Sekarang aku mengajaknya bicara biasa lagi.
"Makanan di rumah sakit ini memang benar-benar hambar. Untungnya kau membawakanku makanan..."
"Aku akan membawa lebih banyak makanan jika begitu." Sekarang sikapnya lebih baik, dia berterima kasih padaku. Membuatku bisa tersenyum padanya, berterima kasih sepantasnya atas apa yang dia lakukan untuk membelaku.
"Terima kasih."
"Kau tak perlu berterima kasih, aku yang harus mengatakan itu Andrew. Jadi izinkan aku melakukan sedikit untukmu. Aku tahu aku tidak bisa membayar hutang ini seumur hidupku padamu."
"Sejak kapan aku memintamu membayarnya." Dia menjawabku dengan nada lembut, aku tambah merasa bersalah tak bisa membalas perasaannya padaku. Aku bahkan tak bisa membalas tatapannya sekarang. "Sudahlah, kau bilang kau membawa makanan ayo makan, aku sudah lapar." Dia memilih tersenyum padaku dan aku membalas senyumnya dengan segera.
"Tentu saja, kau harus makan yang banyak."
Saat ini aku harus memastikan dia kembali ke Montreal bersamaku dan dia baik-baik saja. Setidaknya kakak tak menyalahkanku karena menelantarkannya.
Seiring waktu dia akan mengerti hati tak bisa dibohongi. Aku menganggapnya teman, dan akan selalu begitu.