BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 3. Call Me Oomnitsa 3


Tapi melihat seorang gadis kecil yang berani melawan empat orang pria dewasa sendirian bahkan akhirnya bisa membuat mereka pergi. Dia akhirnya sadar bahwa dia sendiri yang memilih untuk kalah bahkan sebelum berjuang.


Dia merasa dirinya sungguh memalukan.


"Aku tak apa, terima kasih atas pertolonganmu, ini cuma akan memar, aku pergi dulu. Tenang saja, ini kali terakhir mereka bisa mengeroyokku. Terima kasih." Dia mencoba tersenyum pada gadis kecil itu.


"Kakak, kita ke dokter saja. Kau tinggal di asrama sekolah bukan?" Gadis kecil itu bahkan masih menahan tangannya karena kasihan.


"Anak muda, kau baik-baik saja, pulang ke asrama dengan keadaan babak belur tidak akan menolong. Nona Monica bermaksud baik. Lebih baik kami mengantarmu ke dokter." Pria yang menjemput Monica itu bertanya pada pemuda itu. Dia melihat penampilan menyedihkan pemuda itu, dia bahkan takut ada luka dalam yang akan membuat pemuda itu dalam masalah.


"Tidak apa Paman, aku baik-baik saja. Monica terima kasih, kau sangat pemberani."


"Kakak lain kali lawan mereka Kakak, kau jangan diam saja." Monica berusaha menberinya keberanian, bagaimanapun melihatnya meringkuk seperti itu sangat menyedihkan.


"Aku akan melawan. Aku berjanji." Entah bagaimana kata-kata gadis kecil cantik itu akhirnya seperti bisa menumbuhkan keberanian di hatinya.


"Nama kakak siapa? Mungkin kita bisa bertemu lagi nanti walau berbeda tingkat. Apa kau yakin kau akan baik-baik saja tanpa ke dokter."


"Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Panggil saja aku, Oomnitsa." Nama itu terdengar aneh, karena memang bahasa asing. Itu adalah panggilan dalam bahasa Rusia, panggilan sayang Ibunya yang telah meninggal padanya. Oomnitsa - Умница - yang berarti seseorang yang pintar. Walaupun terdengar asing tapi gadis kecil itu tersenyum saat menyebutkan namanya.


"Oomnitsa, kau harus berjuang, kau pasti bisa menang dari mereka." Gadis kecil itu, seperti di kirim dari surga oleh Ibunya mengirimkan pesan untuknya di tanah yang asing ini. Matanya langsung memanas mendengar pesan itu tapi dia berusaha keras tersenyum.


"Aku akan berjuang. Mereka tidak akan mengalahkanku lagi." Dengan senyum dan entah mungkin dia merasa mendapat kekuatan. Langkahnya lebih tegap, dan walaupun sekujur tubuhnya sakit dia bisa mengabaikannya.


"Terima kasih. Aku akan berhati-hati. Kau juga jaga dirimu. Paman terima kasih" Pemuda itu melambai ke mereka, pertemuan dan usaha mereka menyelamatkannya hari ini tak akan pernah disesalinya.


Dia melihat kebelakang, melihat gadis kecil cantik yang tersenyum dan melambai kepadanya, di dalam pikirannya gadis itu adalah malaikat yang harus dia ingat. Wajah secantik malaikat itu, bahkan dia adalah malaikat itu sendiri. Dia melambai kembali pada gadis kecil yang dia tahu dipanggil Monica itu.


Aku akan berjuang Ibu, tak akan kubiarkan wanita itu menang. Mereka tak akan pernah mengalahkanku mulai sekarang.


Dia berjanji ke pada jiwa Ibunya dan melangkah lebih tegak. Jiwanya bertumbuh, jika beberapa lalu awan hitam seperti menjadi bagian dari harinya dan membuatnya tak bisa hidup, sekarang walaupun kelabu adalah warnanya, dia akan merasa membuat warna di hidupnya dengan tangannya sendiri. Dia berani untuk hidup dan berjuang, bukan hidup dan menyerah...


Nama anak laki-laki muda itu adalah Alexie Kulkov.


Dan nama gadis kecil itu adalah Monica Dugard.


Mungkin benar, ada malaikat yang mengatur pertemuan mereka hari itu. Anak laki-laki muda itu berjalan dengan tegak setelah hari itu, tak membiarkan dunia menindasnya lagi.


Walau mereka tak pernah bertemu lagi setelah itu, Alexie Kulkov tak pernah melupakan gadis kecil itu, malaikat yang pernah memanggilnya Oomnitsa itu tak akan tahu apa yang sudah dia lakukan pada pria muda itu.


💜💜💜💜💜


Selamat datang di season baru kita, makasih masih mengikuti kisah ini yaaa.