
POV James
Jen pergi karena kesal padaku. Aku akan menanganinya nanti. Dia akan mengerti apa yang aku lakukan pada saatnya.
Ada hal yang lebih penting lagi. Dan ini harus dibicarakan secepatnya ke Gilbert, hanya dia yang punya kemungkinan bisa mengatur ini.
"Dia sudah pergi, apa yang ingin kau bicarakan. Kau tahu dia menangis di depanku semalaman bulan lalu karena kau sama sekali tak memperdulikannya. Aku jadi kasihan padanya."
"Aku tahu dia akan baik-baik saja soal itu. Lagipula dia tahu aku di sampingnya tak kemana-mana. Tapi sebenarnya masalahnya bukan tentang kami."
"Ohh, apa masalahnya?"
"Sebenarnya aku ingin minta tolong, bisakah kau mengatur menyelipkan Jen ke sebuah perjalanan dari Florida sini ke pangkalan militer El Paso di Texas."
"Ohh, Kau ingin memindahkan Jen ke El Paso? Bukankah El Paso itu asal resimen kalian? Kenapa?"
"Dia tidak tahu kalau Ibunya sakit keras. Sirosis hati, kemungkinan besar satu-satunya jalan adalah donor. Ibunya berkeras dia tidak ingin menyusahkan Jen, dia meneleponku untuk menitipkan Jen, jika terjadi sesuatu padanya, tapi aku tahu Jen akan menyalahkanku menyimpan ini. Sebulan yang lalu aku hampir tak punya jalan karena load pekerjaan kami tidak memungkinkan, pemulangan untuk alasan apapun tidak bisa dilakukan di semua lini tugas militer, tapi sekarang aku melihat kemungkinan untuk bisa mendapatkan izin."
"Ternyata begitu."
"Aku bisa mengatur surat pemindahannya, dengan bicara pada Professor Hans di Atlanta, Jen tenaga pengajar penanganan infeksi dan protokolnya, di tempatkan di manapun dia berharga, El Paso sejak dulu kota aman, mereka belum punya. Tapi yang aku tak bisa adalah mengatur perjalanan amannya. Apa kau bisa membantuku, aku tahu mungkin kau tidak bisa mengirimkannya melalui perjalanan darat, apa ada transport antar pangkalan militer, mungkin dia bisa transit di satu tempat, mungkin seseorang bisa menitipkannya?"
"Oh jadi kau ingin mengatur Ibunya menjalani transplant?"
"Itu satu-satunya jalan, aku tak tahu apa dia cocok atau tidak, tapi dokternya mengatakan dia memerlukan Jen sendiri ke sini. Rumah Sakit militer El Paso bisa melakukan transplantnya, tapi banyak tes yang harus dilakukan jika dia bersedia, jika dia tidak cocokpun setidaknya dia bisa berada di dekat Ibunya. Dan bisa merawatnya."
"Ternyata begitu, kau tahu aku tak bisa menjawabnya sekarang. Aku harus bertanya ke beberapa orang."
"Iya, aku tahu. Jika kau bisa membantunya, ini akan sangat berarti baginya."
"Akan kucoba membantu. Tapi aku tak janji bisa janji kapan mendapatkan schedulenya. Akan kuusahakan secepatnya jika memungkinkan."
"Kau bersiap-siaplah, setelah ini dia akan memarahimu. Karena dia tak tahu apa-apa." Aku meringis.
"Iya, aku tahu dia akan mengamuk. Tapi aku juga tak tahu bagaimana menyampaikan berita ini. Dia akan lebih khawatir lagi. Terima kasih atas bantuannya Komandan."
"Kalian juga banyak membantu Dok."
Pembicaraan itu selesai. Sekarang Jen pasti akan marah padaku. Terpaksa aku harus menjelaskannya besok. Semoga Gilbert benar bisa membantu.
\=\=\=\=\=\=\=
Tootsie melihatku dengan muka ditekuk tadi pagi ini. Tapi tetap bekerja seperti biasa. Aku belum siap bicara dengannya, dia akan kuatir setelah aku mengatakan soal kondisi Ibunya. Semoga waktunya masih cukup untuk melakukan transplant.
Yang lebih penting adalah semoga Gilbert bisa menemukan cara mengatur transportnya.
Tapi cepat atau lambat aku harus menjelaskannya juga. Jika tidak mungkin dia akan lebih sakit hati lagi.
"Jen..." Aku memanggilnya saat dia sudah selesai shift dan makan malam.
Dia melihatku, membuang muka dan berjalan ke kamarnya. Aku menangkap tangannya.
"Akan aku jelaskan semuanya. Ikut aku." Dia tidak menjawab apapun tapi bersedia kutarik tangannya.
"Kemana?!"
"Ke kamarku saja sebentar."
Dia duduk di sofa kecil di kamarku dan tidak ingin melihatku sama sekali. Aku menarik kursi kecil yang ada di sana dan duduk di depannya.