BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 100. Acceptance 5


"Akhirnya kita akan segera bisa bersama setelah sekian lama."


"Kita akan punya banyak waktu bersama, dan mungkin banyak waktu bertengkar nanti, kau tidak sedih meninggalkan kota ini?"


"Hmm... sedikit, tapi aku bisa kembali kapan saja. Keluargaku selalu ada di sini. Aku tak kehilangan apapun. Dan mereka melepasku dengan rela itu yang terpenting. Terima kasih sudah bersabar mengusahakan semua ini." Setelah bersabar setahun lebih dengan segala macam drama yang terjadi, kami sampai ke titik ini.


"Aku tahu persetujuan mereka sangat penting bagimu, jadi tak apa menunggu untuk ini. Kita sudah melewatinya." Aku tersenyum padanya, punya seseorang yang berani berjuang untukku seperti ini membuat perasaanmu melambung. Benar kata Monica, dia pantas iri padaku.


"Kira-kira apa yang akan mereka katakan pada kita."


"Entahlah, tapi apapun itu pasti hal yang bagus bukan."


"Iya pasti hal yang bagus."


Aku tak sabar untuk menunggu hari esok. Entah kapan dan bagaimana mereka ingin aku pindah. Ini adalah pengaturan Albert. Pekerjaan yang dia ingin aku lakukan di US. Apa yang harus di awasi. Kami punya investasi besar di sana, mungkin saatnya membuka kantor satelit di Washington DC.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua hari kemudian, minggu malam akhirnya kami berkumpul di rumah Mom. Ada istri Albert juga ikut dalam makan malam, Mom dan Albert nampaknya ingin menjadikan ini sesi perkenalan keluarga.


"Kakak ipar, aku anggota keluarga paling cantik disini, tidak bisa dibantah, selamat datang." Monica menimpali perkenalan itu asal-asalan dan menanggil Gilbert Kakak ipar.


"Baiklah adik ipar, aku setuju saja apapun katamu." Yang lain tertawa karena panggilan aneh yang dibuat oleh Monica itu. Setelahnya mereka memanggil nama masing-masing kembali tentu saja.


"Brother, ini rumah kami berkumpul, jika kalian sudah di DC nanti, setiap Thanksgivings dan Natal pulanglah ke sini. Itu harus dan tidak boleh dilewatkan." Albert sudah memanggil Gilbert 'brother', dia sudah menerima kekasihku ini sebagai keluarga.


"Ayo, kita makan semuanya..." Ibu mengajak kami ke ruang keluarga dan sekaligus ruang makan yang digabung di lantai pertama rumah kami, tempat ini selalu istimewa, jantung rumah ini dan tempat kami berkumpul bersama.


Semua orang nampak santai, Gilbert pun tanpa kesulitan bergabung dan mengobrol di makan malam itu.


Setelah makan malam meriah itu kami menikmati dessert kami berkumpul di ruang tengah, Ibu memulai pembicaraan lebih serius.


"Eliza, Gilbert, kami mengerti kalian ingin bisa bersama, Albert bilang dia akan segera membuka kantor satelut di Washington DC, beberapa fungsi pengawasan perusahaan di sana akan segera di limpahkan dibawah Eliza dan tim profesional. Tapi sebelum kalian pindah Ibu ingin keluarga kita saling mengenal dengan keluarga kalian dan kalian harus menikah dulu..." Aku dan Gilbert berpandangan, tak mengira Ibu akan meminta kami menikah dulu. Ini cepat sekali. "Apa kalian setuju, ini memang tiba-tiba tapi jika kalian memang setahun ini sudah banyak berusaha untuk bersama setahun ini kenapa kalian tidak menikah saja?" Tapi Ibu tetap meminta pendapat kami berdua.


"Aku sangat setuju." Gilbert langsung menjawab.


"Astaga, dia langsung setuju kakak." Monica yang menyambar dan tertawa, aku meringis geli. Ibu juga kelihatannya tak menyangka Gilbert langsung menjawab begitu.