
Pembicaraan selanjutnya lancar karena dia menganggapku sudah bagian dari keluarga dan dia pu*as dengan jawabanku, kami punya kesempatan berbicara banyak hal dengan terbuka. Albert yang jauh lebih banyak pengalaman dariku jelas adalah mentor yang baik, bicara dengannya membuka beberapa jalan pikiran.
"Jika kau tidak menang apa rencanamu."
"Akan terlalu mengecewakan jika aku tidak menang. Aku tidak mau membayangkan perkara itu sama sekali, karena yang kupikirkan adalah aku akan menang dengan pantas."
"Kuharap kau berhasil, tapi apapun itu, jangan biarkan Monic menunggu terlalu lama."
"Iya aku tahu. Aku akan bicara dengannya nanti." Mungkin dalam waktu setahun lagi, aku bisa berhasil mengurus semuanya aku berniat bicara dengan Monic tentang pernikahan kami, jika dia mau cepat aku khawatir tidak akan punya waktu untuk menemaninya.
...π΅πΊπ΅πΊπΊπ΅πΊπ΅πΊπΊπ΅πΊπ΅...
Monic sudah kembali dari Milan. Hidupku yang dulu kembali lagi, punya seseorang di sampingku terasa menyenangkan.
"Tuan Mafia, belakangan nampaknya kamu sangat gembira, ada apa denganmu." Dewi bulan ini dengan lem*but beredar di sampingku. Saat dia bicara suaranya yang riang bisa membuat hati lebih gembira. Kurasa aku sudah terpera*ngkap padanya sekarang.
"Karena kau ada di sini, semuanya jadi lebih mudah." Aku membuat komentarku membuatnya tersenyum kecil.
"Apa kau sedang berusaha mera*yuku."
"Iya aku senang mendengar suara riangmu Moon. Lagipula aku sudah mendapat izin Kakakmu, jadi semuanya terasa lebih membahagiakan, aku senang kau sudah kembali, saat kau pergi adalah penderitaan." Svetluny tersenyum senang dengan kata-kataku.
"Mulutmu itu memang manis sekali." Dia menc*ubit pipiku dengan senyum lebar diwajahnya. Membuat senyumanku muncul begitu saja, aku bahagia bersamanya tidak bisa mengatakan yang lain.
"Moon, kau ingin kita menikah?" Sebuah pertanyaan yang membuatnya memandangku dengan mata indahnya dan dia kehilangan senyumnya karena terlalu terkejut dengan pertanyaanku.
"Apa sekarang kau sedang membuat lamaran?" Dia bertanya dengan mata berbinar bahagia.
"Bukan, beberapa minggu yang lalu saat aku bicara dengan Albert dia menyarankan kita tidak menunda pernikahan terlalu lama. Tapi kupikir aku takut masih banyak yang kukejar dalam setahun ini. Jika kita menikah setelah aku menyelesaikan semua masalah di Moskow apa kau keberatan. Apa itu terlalu lama untukmu. Aku hanya takut tak bisa terlalu banyak menemanimu mempersiapkan pernikahan, ini moment sekali seumur hidup."
Dengan kesepakatan ini aku bisa menjawab Albert juga jika aku bicara dengannya lagi.
"Baiklah, jika begitu bisa diputuskan kita akan menikah akhir tahun depan."
"Kau tahu sepertinya Eliza akan melahirkan sebentar lagi, aku bisa melihat keponakanku yang baru lahir sebentar lagi. Kurasa sebulan lagi dia melahirkan."
"Kita juga akan punya bayi sendiri nanti. Kau tak usah iri." Dia tertawa.
"Aku tak iri, hanya sama-sama berbahagia untuk mereka berdua."
Pembicaraan yang membahagiakan itu dibarengi dengan pemahaman bahwa aku akan menyelesaikan semua urusanku di Moskow tahun depan, aku tak akan mengambil jabatan CEO, hanya di masa depan aku akan menguasai 60% saham Ayah dan perusahaan yang sekarang akan menjadi milikku sepenuhnya terp*isah dari kantor pusat. Aku dan Sergie masing-masing bertanggung jawab sebagai Direktur Regional, kami tak mengurusi satu sama lain.
Pengaturan yang membuat Svetluny tersenyum lebar saat mendengarnya.
"Itu pengaturan yang bagus. Seharusnya memang seperti itu jadi kalian tidak bertengkar satu sama lain. Ayahmu akhirnya berpikir dengan bijaksana. Hidupmu disini bersamaku." Dia meme*luk*ku dengan erat.
"Jika kau pergi lagi seperti kemarin aku akan mengurungmu di rumah selama hari kau pergi." Dia tertawa sekarang.
"Aku sudah minta maaf."
"Dimaafkan, setidaknya memang kau sudah menerima hukuman."
"Dasar mesum."
Giliran aku tertawa, dengan dia di sampingku semuanya terasa lebih mudah.