BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 104. Mom


Hari yang baru di tengah kesibukanku menyusun pemindahan base operasi darurat. Hari ini emergency tidak ada kejadian.


Tapi sekarang tiba-tiba seorang wanita datang ke emergency. Dari pakaiannya kukira dia bukan pengungsi yang baru datang dia nampaknya sudah lama di sini.


"Perawat, tolong bayiku terjatuh!" Dengan muka panik dan pucat dia memegang bayinya yang terbungkus selimut bayi. Dia berlari-lari dari luar dengan panik. Dari caranya mengendong bayinya nampaknya bayinya masih dibawah enam bulan.


"Ikut aku Mom." Aku melihat siapa saja yang ada disana dan bebas. "Noah! Ruang 4!" Sementara aku memandu wanita panik itu ke kamar emergency, Noah bergegas masuk ke ruangan berserta perawat yang membantunya Carla.


"Mam, aku Dokter Noah kenapa bayimu." Kami belum melihat bayinya, dia memegangnya erat sekali, seakan takut bayi itu diambil darinya.


"Dia terjatuh, dia tidak menangis, tidak bergerak."


"Berikan dia padaku, biarkan aku memeriksanya." Dia seperti sulit sekali memberikan bayi di tangannya itu. Padahal bayinya harus diperiksa.


"Mam, berikan dia untuk diperiksa." Aku meyakinkannya. Wanita berambut coklat itu akhirnya menyerahkan bayinya.


Dari saat meneriman bayinya Noah sudah mengerutkan alis. Aku langsung heran.


"Mam? Ini boneka?" Dan kami melihat sebuah boneka bayi sekarang. Kami semua berpandangan binggung. Apa dia gila karena kehilangan anaknya.


"Tidak...tidak, tolong dia, dia jatuh tak bernapas. Kau harus menolongnya." Sekarang air matanya berderai seperti hujan yang jatuh dari langit, sampai suaranya bergetar karena panik. "Kumohon dia benar-benar jatuh. Kalian harus menolongnya." Aku dan Noah berpandangan, bukan kami yang harus menangani ini.


"Carla, panggil Dokter Javier." Ini harus ditangani oleh psikolog.


"Noah berpura-puralah kau membawa bayinya ke unit perawatan intensif untuk menenangkannya." Aku berbisik pada Noah setelah menariknya menjauh.


"Ahh baiklah Mam, biarkan kami membawanya ke unit perawatan intensive untuk merawatnya. Kau harus menunggu di sini bersama perawat." Noah mengerti maksudku.


"Aku harus mengantar anak kita, kau mengabaikannya!" Sekarang dia menuding suaminya dengan keras.


"Anakmu sedang ditangani, kau suaminya?" Pria itu binggung sekarang.


"Apa maksudmu ditangani? Dia membawa ..." Aku memotong perkataannya.


"Kau bisa ikut denganku." Aku mengajaknya ke luar dari UGD, menunggu dokter Javier, psychiatrist kami.


"Jen? Kau memanggilku? Kalian ada emergency apa butuh bantuanku." Dokter Javier jarang ke emergency, kami baru mendapatkan psychiatrist dua bulan ini, dia ada diantara pengungsi yang bergabung. Sebenarnya kami bersyukur, banyak sekali yang membutuhkannya.


"Ehm, ada wanita yang mengira boneka yang dibawanya adalah anaknya. Dia benar-benar menangis meminta kami menolong anaknya. Ini suaminya Tuan ..." Aku memperkenalkan suaminya pada dokter Javier.


"Aku Ben Olsen, istriku Carole. Anak kami sudah pergi dua tahun yang lalu, sebelum infected datang, dia berjalan dan jatuh di tangga rumah kami. Dia saat itu koma, dan anak kami juga dalam kondisi kritis saat itu. Dokter mengatakan anak kami cedera kepala, menaruhnya dalam operasi kemungkinan besar tak akan membuatnya selamat dengan umur semuda itu. Jadi aku memutuskan tidak menaruhnya dalam penderitaan lebih lanjut. Istriku akhirnya sadar dua minggu kemudian, dia bahkan tak sempat melihat bayinya dikuburkan. Dan sejak itu dia menyalahkanku tak berusaha menyelamatkan anak kami, puncaknya dia menjadikan boneka sebagai anaknya sekarang setelah kami menetap lagi."


"Aku meminta Noah pura-pura membawa bonekanya ke unit perawatan intensive untuk menenangkannya."


"Itu tindakan yang benar. Biarkan aku bicara dengannya sebentar untuk memastikan. Tapi tunggu dulu, kenapa dia tiba-tiba bisa membawa bonekanya ke sini. Apa dia benar-benar menjatuhkan bonekanya?"


"Iya dia menjatuhkannya, makanya dia benar-benar panik."


"Hmm... aku mengerti." Javier pergi ke ruang tunggu untuk bicara dengan Ibu


Itu kisah Ibu yang tak bisa menyalahkan dirinya sendiri. Sungguh kasihan.


bersambung besok