
Akhir pekan yang membuatku tak sabar sebenarnya, aku akan bertemu dengannya lagi, menghabiskan saat-saat berdua dengan orang yang kusukai.
Aku takut harapanku terlalu tinggi. Sedangkan ini mungkin baginya hanya selingan. Walaupun bukan salahnya juga, dia tidak bisa meninggalkan kariernya, aku juga tidak. Apakah dia menganggapku hanya selingan di sini, pikiran itu saja membuatku merasa sakit hati.
Aku merasa bersalah dengan diriku sendiri. Mengirim diriku sendiri ke ketidakpastian dan rollercoaster ini. Aku tahu aku akan menangis di akhir cerita ini. Tapi merindukannya terlalu menggoda. Aku ingin bertemu dengannya.
"Kau besok mau makan siang dengan Albert? Kau mau aku ikut? Apa yang akan kalian bicarakan?" Aku memberondongnya dengan pertanyaan saat aku meneleponnya malam itu.
"Aku merindukanmu... Besok terasa lama." Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah mengeluarkan kata-kata manis yang membuatku tersenyum. "Boleh aku ke apartmentmu."
"Ada Monica disini hari ini, itu akan memalukan." Aku mencari alasan.
"Datanglah ke sini."
"Besok saja, aku lelah. Oke." Perasaan ini, aku ingin ke sana tapi harus mengatakan sebaliknya. Entahlah kurasa aku harus menahan diri tak terlalu mabuk dengan perasaan ini.
"Baiklah, itu terserah padamu."
"Apa yang ingin kau bicarakan dengan Albert."
"Hmm... bisnis, investasi retail semacam bisnis 7eleven store, tapi kami memakai konsep lebih ke komunitas bisa berpartisipasi, menyewa kios atau lot kecil untuk mengerakkan ekonomi. Aku membawa proposal penawaran sebenarnya, tapi belum membawa timnya. Ini hanya pembicaraan awal.
"Ohh, gerai retail seperti toko kelontong tapi ada sewa lot penjualan."
"Pemerintah akan mensubsidi bisnis kecil seperti ini. Kami perlu mengerakkan semua roda ekonomi. Nanti akan menjadi tempat orang lokal menjual produk mereka juga. Kami akan memasukkan modal pribadi ke sana juga."
"Hmm... aku yakin kalian serius jika kalian pemerintah terlibat secara langsung."
"Bicaralah dengan Albert nanti, dia lebih baik dalam menilai. Dia punya timnya juga." Keputusan stategis seperti ini akan diambil Kakak, aku tak ikut campur. Aku hanya akan ikut campur jika ada masalah.
"Jika kalian punya banyak bisnis di US, mungkin kalian bisa mempertimbangkan membuka kantor di Washington."
"Hmm... mungkin." Jika kami bisa membuka kantor di sana, mungkin hubungan kami lebih lancar. Mungkin itu bisa terjadi, apa dia mengharapkannya. Tapi di sisi lain, siapa yang membantu Albert di sini di hubungan dengan kolega kami di sini. "Itu masih harus melalui pembicaraan panjang."
Dia diam tahu kebenaran kata-kataku. Aku tak mungkin bisa memutuskan hal itu dalam waktu singkat.
"Mashkov menganggu kalian lagi."
"Tidak kurasa, mungkin dia tahu dia tidak akan berhasil. Monica tidak akan menanggapinya."
"Mashkov mungkin menyerah tapi belum tentu dengan yang lain. Banyak yang mengincar survivor kalian. Mungkin bukan group Mashkov tapi group lain."
"Mungkin ada yang nekat untuk uang. Yang jelas kami sudah menjalankan program kami sendiri. Lagipula kami sudah membuat program pengawasan untuk mereka. Lagipula sebenarnya mereka menaruh nyawa mereka dalam bahaya sekali lagi dengan lab diluar pemerintah."
"Ya itu benar." Dia diam sebentar. "Kau benar tak ingin kesini?" Aku tertawa kecil.
"Tidak, kita bertemu besok saja oke. Aku mau tidur cepat saja, hari ini melelahkan."
"Baiklah. Sampai ketemu besok."
"Sampai bertemu besok."
\=\=\=\=\=\=\=