BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 43. Don't Give Up 2


"Aku berpikir kau mungkin menyukai Monic yang lebih cantik dariku. Ini hanya pikiranku, mungkin aku salah..." Andrew terdiam, mungkin sama sekali tak menyangka arah pertanyaan Eliza.


"Apa maksudmu? Aku sudah menganggapnya adik, apa kau mau menjodohkan adikmu padaku?" Andrew tertawa. "Ini ide siapa, apa Monic tahu?"


"Aku hanya bertanya, sudah kubilang ini hanya pikiranku. Kupikir kalian berdua akan cocok. Jika kau menyukainya akan kusampaikan padanya... Sekali lagi ini hanya pikiranku. Kau tiba-tiba mengatakan kau ingin melamarku tanpa pernah kuduga, mungkin kau memendam sesuatu tapi belum kau ungkapkan." Eliza memberi alasan bagus, aku bisa berpura-pura aku tak tahu apapun tentang pertanyaan Eliza.


"Tidak-tidak. Aku hanya menganggap Monic adiķ. Tidak lebih dari itu. Tidak ada cerita seperti itu. Kau jangan salah paham apapun. Aku benar-benar menganggapnya sebagai adik." Pupus sudah harapanku. Seperti yang kuduga Andrew tak punya perasaan apapun padaku. Aku hanya bertepuk sebelah tangan.


"Baiklah, kalau begitu aku tak membahas lagi masalah ini oke. Selesai sampai di sini saja oke. Jangan katakan aku menanyakan ini ke Monica oke." Eliza mengakhiri pertanyaannya.


"Baiklah, aku tak tahu bagaimana kau bisa berpikir semacan itu, tapi aku tak ada pikiran romantis sedikitpun ke Monica, kau harus tahu itu..."Tak lama kemudian rekaman itu berakhir. Aku sudah mendengar semuanya. Itu jawaban Andrew, sudah jelas aku dan dia tidak punya harapan.


"Aku sudah menduga sebenarnya Kakak, sudahlah kita lupakan saja. Aku bukan tak pernah menggodanya, tapi memang dia tak tertarik, akan ada seseorang untukku nanti, tenang saja kakak masih 3 milliar pria di luar sana..." Eliza menepuk bahuku dengan pengertian, ikut merasakan apa yang aku rasakan.


"Akan ada seseorang untukmu. Tentu saja. Tak mungkin tak ada."


Untungnya Eliza punya ide bertanya dulu, jika tidak aku akan mempermalukan diriku sendiri. Entah kenapa sekarang setelah beberapa saat kurasa aku tak begitu terpukul pada kenyataan di depanku.


Aku berada di pesta kolega partai untuk ke sekian kalinya bersama Andrew. Kali ini setelah beberapa kali mendampinginya aku sudah terbiasa dengan caranya mengarahkan pembicaraan. Kulihat Alexsey juga di pesta ini bersama Anna. Mereka juga pasangan kerja yang serasi.


Acara hampir selesai ketika aku mendengar beberapa gadis dan pemuda bercakap-cakap ketika aku akan lewat kembali di depan mereka setelah dari kamar kecil.


"Monica yang cantik itu penyakitan. Aku permah melihat dia terkena serangan panik, plus dia adalah survivor. Tak akan ada yang mau menjadi pasangannya walaupun cantik dia akan jadi single sampai tua. Yang mau menyentuhnya pun tak ada sekarang." Aku merasa sebuah pisau dihunjamkan padaku sekarang.


"Kurasa iya, siapa yang mau punya istri penyakitan. Sayang sekali padahal dia cantik sekali. Jika dia tidak penyakitan aku akan segera mendatanginya begitu tahu Mark ikut jadi korban. Tapi kau lihat orang-orang sepertinya menjauhinya walaupun dia cantik dan keluarga Dugard yang sempurna." Seorang pria yang bicara sekarang.


"Tak usah di dengarkan. Ayo..." Tiba-tiba Alexsey mengandeng tanganku. "Ayo berjalan bersamaku." Dia sekarang menyisipkan jemariku ke lengannya. "Bersikaplah kau terpesona padaku. Ikuti aku..."


Aku tak punya kesempatan untuk bertanya karena dia sudah menarik tanganku untuk ikut bersamanya.


"Apa yang..." Aku tak punya kesempatan bicara karena dia sudah menarikku dekat ke mereka yang membicarakanku.


"Hallo semua..."


"Tuan Alexsey, halo, kau sudah akan pulang?"


"Ah iya, aku hanya mampir menyapa." Dia basa-basi sebentar dengan group ini.


"Kau pulang bersama siapa, ini akhir pekan tak ada gunanya buru-buru." Seorang gadis tanpaknya berusaha menggoda Alexsey.


"Iya, justru itu, kami perlu banyak waktu supaya tidak buru-buru, betul bukan sayang." Aku mengulum senyum padanya dengan takjub. Ternyata dia melakukan ini untuk membelaku di hadapan gadis-gadis itu. Dia memang tidak buruk, banyak yang mengharapkannya.


"Terserah padamu, aku menurut saja." Dan aku kemudian menimpalinya dengan segera.


"Baiklah, ayo kita pulang. Sampai jumpa semuanya." Dia merangkul pinggangku dengan akrab, meninggalkan mereka yang membicarakanku mengangga tak percaya.


Tak ada yang mau menyentuhku.


Kata siapa, aku punya malam panjang dengan salah satu single paling diinginkan di pesta ini.