BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 114. Moskow 2


Dengan diputuskannya bagaimana reward setiap orang yang akan menang, akhirnya aku punya cara menjawab Svetluny lebih baik.


Jika dipikir-pikir memang dia benar, tak ada gunanya menghabiskan waktu di Moskow, kehidupanku di Montreal dan USA, Bibi juga mengatakan padaku hal yang kurang lebih sama.


Tak ada gunanya menyeret diriku ke dendam masa lalu. Yang penting aku sudah menang. Masa depan memberiku banyak harapan lebih baik jadi apa gunanya aku terikat dengan masa lalu yang pahit. Yang harus kulakukan adalah merawat dan bekerja dengan baik di masa sekarang.


"Kalau begitu kita bertemu di Kremlin besok ..." Pembukaan faselitas produksi kedua ini jelas karena faselitas produksi pertama kami tak cukup ternyata untuk menangani order yang masuk.


Lab yang memproduksi obat infected itu masih berada di dekat Kremlin. Banyak bagian dunia yang masih memerlukan obat infected ini. Di masa depan lab ini mungkin menjadi lab penelitian militer yang bisa membuat penemuan untuk umat manusia lainnya dengan talenta-talenta peneliti di dalamnya, lab dan faselitas produksi ini didukung penuh oleh pemerintah. Dan itu bisa dibagikan ke divisi produksi di US.


Sekarang aku merasa masa depan tak akan kekurangan hal baik, dan semua hal buruk di masa lalu tak berarti lagi di banding banyak hal baik di masa depan.


Keesokan harinya aku tiba dengan Ayah di pabrik baru kami. Baru kali ini aku berkenalan dengan orang-orang di pemerintahan dan divisi militer. Ayah memperkenalkanku dengan mereka.


"Ini Jenderal Oleq Taktarov. Jenderal Oleg, ini anakku Alexsey Mashkov yang memiliki orang untuk mengatur semua penelitian ini." Ayah memperkenalkanku pada seorang pria yang mungkin akhir 50-an dengan wajah tangguh dan nampaknya tubuh yang masih prima di balik seragamnya. Kharisma seseorang di seragamnya sangat kental.


"Ahhh ini rupanya anak muda yang sudah bersusah payah demi negara kita." Dia menyalamiku setelah diperkenalkan langsung oleh Ayah.


"Anda terlalu memuji Jenderal. Saya hanya mengusahakan yang terbaik, saya hampir mengacaukannya sebelumnya." Kenyataannya aku hampir kehilangan peluang untuk berpartisipasi di proyek pemerintah ini.


"Bagaimana Anda bisa mengacaukannya. Coba ceritakan kepada saya..." Dia orang yang menghargai bagaimana sebuah proses dijalannkan.


"Ohhh aku hampir di deportasi..." Aku bercerita sedikit bagaimana berurusan dengan pemerintah US saat CEOku menculik beberapa orang di Kanada."


"Ini buruk jadi Anda harus merelakan faselitas penelitian Anda di tutup?! Tapi malah akhirnya Anda mencari subjek penelitian ke Meksiko, Anda memang pantang menyerah. Anak muda sekarang harus begini, gagal satu coba lagi... Bagus! Bagus!" Pujiannya seperti Komandan sedang memuji prajurit-prajurit bawahannya tidak diragukan lagi.


"Itulah yang terjadi."


"Lalu sekarang apa Anda sepenuhnya kehilangan semua pasar di US."


"Saya harus menempatkan investasi ulang dengan nama baru. Itulah sebabnya saya tidak ingin nama keluarga saya muncul di sini secara resmi. Bisa-bisa lab saya di sana di tutup lagi. Tidak kondisi saya di US bisa dikatakan sudah pulih bahkan berkembang lebih besar lagi." Dia mengangguk dengan puas mendengarnya.


"Tuan Mashkov, Anda pasti bangga dengan anak Anda ini." Dia memuji Ayahku dengan segera.


"Dia memang pekerja keras, walaupun awalnya dia membuat kesalahan yang fatal. Tapi siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan jadi akhirnya dia melewatinya tentu saya senang."


"Itulah makanya saya tidak bisa mencantumkan nama saya sebagai pemilik bahkan tidak Ayah saya. Harus menunjuk Vladimir sebagai CEO sekaligus pemilik diatas kertas."


"Saya mengerti kekhawatiran Anda. Jangan khawatir kami akan menutup ini. Hanya eselon tinggi yang tahu siapa yang ada di balik ini tentu saja. Kami rupanya berhutang lebih banyak dari yang terlihat. Jika di masa depan ada hal yang bisa saya bantu jangan sungkan mengatakannya." Ini yang kami cari, jika di masa depan ada masalah kami bisa mengatakannya.


"Terima kasih Jenderal, Ayah saya dan saya sudah banyak terbantu karena dukungan penuh Anda. Di masa depan Vladimir akan membantu apapun teknis yang Anda inginkan. Kita punya talenta-talenta peneliti yang hebat."


"Tentu saja, saya punya banyak rencana di masa depan dengan Vladimir, dia CEO uang visioner, mendapatkan dia di tim sangat membantu."


"Ohh ya saya pikir Anda memgenal Jenderal Jovovich. Dia hadir juga di sini. Dia Paman Anda bukan..." Rupanya Jovovich yang tak tahu malu itu mengambil kredit atas kerja kerasku. Aku melihat Ayah dengan mengutuk keluarga istrinya yang tidak tahu malu itu.


"Ohh bukan, dia bukan Paman saya, saya punya Ibu yang berbeda. Apa Jovovich terlibat di kerjasama ini?" Aku bertanya kepada Ayah sekaligus Jenderal Oleq, mungkin ada yang skema yang tidak kutahu untuk meng-gol-kan faselitas ini.


"Tidak, dia tak terlibat apapun." Ayah mengkonfirmasi akhirnya.


"Saya mengerti, begitu rupanya. Saya tadinya mengundangnya karena dia sesumbar adik bungsunya menikah dengan Ayah Anda." Aku mendengus sambil tertawa.


"Ohh begitu. Saya tidak punya hubungan dengannya saya kira. Jika dia mau mengakui saya nampaknya yang diakuinya hanya Ayah saya. Anak muda seperti saya jauh dari pandangannya, lagipula secara hubungan darah kami bukan keluarga."


Aku mengatakannya dengan cukup frontal, ketidaksukaanku orang itu ada disini. Aku tak perlu mengatakan aku tak punya hubungan dengan nyata. Kurasa Jenderal Oleq akan menyadarinya, sesaat dia tak bisa bicara, tak tahu bagaimana menanggapi ke ketusanku kepada Jovovich.


"Baiklah, saya mengerti. Anggap saja dia di sini karena hubungan dengan Ayah Anda."


Aku tak memperpanjang lagi. Ayah melirikku, aku tak perduli, sebelum Jovovich meminta maaf padaku, walaupun dia tidak mengganguku lagi, aku akan tetap menganggap mereka sebagai musuh.


Keluarga Jovovich ingin mengambil hidupku, jelas saja aku menolak untuk mengatakan kami punya hubungan baik. Hubungan baik rival lama yang saling mengirimkan pembunuh. Mungkin itu maksudnya.


Untuk orang yang memfaselitasi rencana pembunuhanmu jelas tidak ada yang baik di sana. Apalagi dengan tidak tahu malu dia memanfaatkan jasa orang yang ingin dibunuhnya. Betapa tidak punya moral dan tidak tahu malu.


Aku mendatanginya sekarang karena kesal dia muncul di sini dan mencari panggung.


"Tuan Artur Jovovich, tak kusangka kau muncul di sini." Orang tua dengan ekspresi tenang di depanku tersenyum padaku. Ayah mengikuti disampingku nampaknya khawatir dengan apa yang akan kukatakan.


"Kau pasti Alexsey, aku pernah melihatmu waktu kecil. Sekarang kau sudah jadi orang sukses. "Aku diundang karena Jenderal Oleq tahu aku dan Ayahmu adalah saudara ipar." Dia langsung menjelaskan kehadirannya.


"Ohh begitu. Kau benar-benar tak tahu malu jika begitu."


Wajahnya langsung berubah, dia di level Ayahku, apalagi dia adalah seorang yang berada di rank milter, terbiasa dengan penghormatan, aku sekurang ajar itu untuk menyindirnya, tentu saja aku mendapat perhatiannya, wajahnya langsung berubah.


"Apa maksudmu perkataanmu, itu sangat ...kasar?" Wajah kakunya menunjukkan bahwa dia tersinggung dengan kata-kataku, tapi bagiku semangkin dia tersinggung akan semangkin baik.


"Jika kau tahu orang yang mengatur pembunuhanmu ada di depanmu memanfaatkan pamer dengan hasil pekerjaanmu apa kau dapat mentolerirnya. Apa lagi yang bisa kau ucapkan selain berkata kasar, sudah bagus aku tak membuat keributan dengan mengusirmu dari sini." Jika ini kurang kasar untuk mengusirnya maka dia memang bermuka tebal. Atau memang dia tak perduli dan ingin sengaja merentangkan duri di depan jalanku.


"Apa maksudmu mengatur pembunu*han. Pembun*uhan siapa yang kuatur." Dia memasang ekspresi naif sehingga aku muak melihatnya.


"Baiklah, jika pencuri dengan mudah mengakui perbuatannya penjara memang sudah penuh." Aku memberikan kalimat pamungkas singkat dan meninggalkannya. Aku tahu aku tak punya bukti kuat jadi berdebat dengannya adalah usaha sia-sia.


Kutinggalkan dia dengan Ayah. Yang kemudian bicara panjang dengannya. Apa Ayah percaya dengan kata-kata dia tak tahu apapun.


Keluarga Jovovich ini membuatku muak.