BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Paty 55. Laura Missing 3


"Bilang tunggu saja di lobby." Dasar penggangu, apa lagi mau gadis itu. Dengan kesal kututup telepom intercom yang berada di dinding itu.


"Ada apa, kau kelihatan kesal?" Aku kembali pada Eliza, mengenyahkan urusan penganggu itu sementara, dan melanjutkan apa yang tertunda.


"Jangan pikirkan." Kugapai bibirnya begitu aku mengeratkan pelukanku kembali.


"Apa yang jangan dipikirkan?" Eliza penasaran. Aku lebih penasaran lagi jika ini tidak di tuntaskan dengan keadaan kami yang sudah kacau ini. Kuabaikan pertanyaaannya dan kutarik dia ke kamar.


"Jenderal, kau belum membawa pertanyaanku." Dia dibawahku menahanku mengapainya.


"Bisakah kau tak bertanya dulu, sayang. Aku merindukanmu. Jika kita tak menyelesaikan ini, aku akan melampiaskan emosi tak tertahan ini ke siapapun yang kutemui setelahnya... Apapun itu dia bisa menunggu." Dia tersenyum padaku.


"Apapun itu dia bisa menunggu. Tapi yang dibawahku sudah diujung, ini memang hanya punyaku." Jemarinya yang nakal sekarang bermain dengan berani, membuat sesak itu bertambah tak tertahan lagi.


"Ini sangat sulit ditahan sayang, dengan kau jauhnya ratusan mil apa yang bisa kulakukan."


"Ehm...itu sangat manis, punya seseorang yang menantikanku begitu rupa."


"Aku memikirkanmu terlalu banyak wonder woman."


Jemarinya bekerja cepat melepaskan bahan yang melekat disana, menghilangkankan rasa sesaknya, tapi setelah itu ada keinginan yang lain yang sama kuatnya. Walaupun aku ingin lebih menahan diriku tidak langsung melakukannya.


"Sekarang, kenapa kau menunggu Jenderal, aku juga sudah terlalu lama menunggumu." Sentuhan dibawah sana sudah memanas, aku merasakannya sudah siap.


Erang*an dan pelukan yang saling membutuhkan itu terlalu nikm*at sekarang, pelukan dan gerakan tergesa.


"Aku suka rasanya kau kuasai begini Jenderal."


"Wonder woman, mulutmu itu sangat nakal. Jangan bicara lagi, kau membuat aku ingin membuahimu lagi sekarang juga." Dia tertawa.


"Kau sangat suka ide itu bukan Jenderal."


"Aku sangat suka ide itu tentu saja,..." Aku berbisik padanya dan dengan pelan membuatnya mengerang lagi. " Tidak, akan kulakukan setelah semuanya bisa dilakukan. Aku cukup tahu diri." Jika bisa akan kulakukan saja sekarang. Tapi aku pernah melewatinya dan tahu itu tidak bisa dilakukan.


"Gilbert ..." Paduan rindu dan hasrat, membuat gelombang pertama begitu cepat menyentuhnya.


"Fu*ck, ..." Dan saat itu barulah aku bisa melepaskan diriku sendiri. Kelegaan itu tercapai dan aku merasa bisa menghadapi apapun masalah di depan setelah ini.


Dia melihatku yang menenangkan napasku sendiri. Bertopang disatu tangannya, jarinya berjalan di dadaku. Aku menangkap jemarinya dan merengkuhnya dalam pelukanku.


"Terima kasih." Sebuah ciuman mengapai keningnya atas pengertian yang dia berikan, membuatnya tersenyum padaku.


"Apa yang menggangu kita tadi?" Sekarang dia bertanya karena sudah penasaran.


"Hmm... Laura ada dibawah, entah apa yang dia mau. Katanya darurat."


"Laura? Darurat? Bukankah kau bilang dia menghilang?"


"Entah, kita akan tahu apa yang terjadi saat kita menemuinya nanti. Entah apa yang darurat aku juga tidak ingin tahu sebenarnya."


"Baiklah, ayo kita temui saja dia. Mungkin benar ada yang darurat."


"Tak usah buru-buru, biarkan saja. Mau mandi bersamaku sayang..." Eliza meringis.


"Mandi tak akan lama. Lagipula aku bukan keluarganya, bukan orang yang harus menangani keadaan daruratnya. Ayo... kita harus menunda makan malam kita gara-gara darurat ini." Dia tak menolak tarikanku kemudian.


Dalam dua puluh menit kemudian kami sampai ke lobby, dia terlihat dengan seorang pria yang kurasa perawakannya terlihat seperti orang yang kulihat beberapa hari yang lalu.


"Kurasa itu kekasihnya."


"Benarkah."


Kami berjalan ke arah mereka. Mereka mau kubiarkan menunggu setidaknya sejam. Entah apa alasannya, berdua melihat kami dan langsung berdiri.


"Ayahmu mencarimu kemana-mana dan kau muncul di sini." Perkataan pertama yang kukatakan padanya.


"Aku tahu. Hallo Nona Dugard, maaf kau harus bertemu denganku lagi." Aku ingat Eliza pernah menyebutkan nama keluarganya padaku.


"Kekasihmu?" Pandanganku lurus kepada seorang pria yang berada di sampingnya.


"Iya ini kekasihku yang tidak di setujui keluargaku." Sudah kuduga. Tuan Putri ini rupanya muak juga dengan laki-laki Top 2000. Mungkin dia muak denganku juga. Bicaranya saja yang tidak mau kalah. Harga dirinya begitu tinggi.


"Dan apa alasan kau kesini? Langsung saja."


"Kami ingin bertanya karena kau sering pergi ke Kanada, apakah kau bisa mengenalkan kami pada seseorang yang bisa memberi kami pekerjaan. Aku programmer berpengalaman dan Laura punya basic pendidikan keuangan. Kami bersedia bekerja dari level karier awal jikapun tidak ada. Maaf, namaku Henderson sebelumnya. Kami ingin punya kehidupan sendiri di Kanada, tak bisa di sini." Tiba-tiba yang pria bicara. Aku menatapnya dengan rasa heran dan beralih ke Laura.


"Kau bersedia meninggalkan keluargamu? Kau serius?" Ini kejutan, aku melihat Laura. Tuan putri pemuja ketenaran ini tiba-tiba merubah arahnya ke hidup sederhana.


"Aku minta tolong padamu. Aku serius, ini cara yang terpikirkan olehku."


Jika aku terlibat ini, ini akan menyulitkanku dan sekaligus menyulitkan Ayah.


"Aku tak tahu apa aku bisa membantumu walaupun aku mungkin bisa melakukannya. Bukan apa-apa jika aku terlibat, Ayahku dan Ayahmu sahabat."


"Nona, kau pasti bisa membantuku bukan. Kau pimpinan perusahaan." Sekarang dia mencari bantuan ke Eliza. Eliza memandangku bertanya. Kalau dia meminta bantuan ke Eliza itu bukan jadi masalahku lagi.


"Itu terserah padamu." Aku melihat ke Laura. "Kau yakin? Di luar sana kehidupan tidak mudah, kau terbiasa hidup dengan semuanya tersedia. Kau yakin kau bisa melewati ini, kau bahkan tidak pernah bekerja selama ini."


"Aku bekerja, kau yang tak tahu. Aku tak selemah itu, lagipula di masa infected siapa yang bisa hidup enak. Kau sangat meremehkanku."


"Aku hanya mengatakan padamu, tidak ada barang mewah dan selalu tersedia untuk kau pakai, tidak ada cukup uang kau selalu kau gunakan. Kau harus berhemat, kau tahu hidup seperti itu? Kau terbiasa hidup enak."


"Susah kubilang kau tak mengenalku." Dia kembali ke Eliza.


"Nona kumohon tolong kami, kau pasti butuh beberapa orang di perusahaanmu." Dia memohin ke Eliza sekarang.


"Jika ingin mencari pekerjaan kalian harus ke Montreal, kalian punya uang bukan. Aku tak ingin bertanggung jawab terhadap kehidupan kalian tentu saja. Aku bukan dinas sosial. Mungkin saja ada lowongan untuk kalian, tapi aku tak bisa memastikan kalian diterima, jika kalian diterimapun kalian harus mengukuti semua aturan pegawai, kalian tak akan si istimewakan."


"Kami mengerti, aku sangat mengerti." Laura lansung menjawabnya


"Kami punya uang untuk bertahan tentu saja, tapi secepatnya kami ingin punya pekerjaan. Kami sadar jika kami di sini kami akan dipisahkan. Kami perlu menjauh dari orang tua kami dan hidup mandiri." Sang prka menambahkan.


bersambung besok-----