BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 57. Susan and D Angelo 1


"Mereka membuat banyak soup supaya hangat di winter ini." Andrew mengambilkanku soup cream hangat yang kuterima dengan terima kasih. "Hanya ada kentang dari pertanian, supply tepung sangat terbatas."


"Ini saja sudah sangat bagus, aku sering melihat pengungsi yang tak punya makanan datang makan seperti orang yang tak pernah makan. Ini sudah sangat mewah di masa sulit ini..."


"Kau benar..." Andrew masih di markas untuk menunggu pemetaan dan tactical review beberapa hari ini, dan kami banyak bicara sekarang. Aku merasa dia tulus setidaknya, walau aku belum mengatakan apapun padanya.


"Apa rencanamu jika ini berakhir..."


"Rencanaku jika ini berakhir?"


"Aku tak pernah memikirkannya, aku takut dunia akan berakhir seperti film zombie, keadaan begitu keras, manusia saling membunuh. Aku hanya ingin berkumpul dengan Ibu di El Paso. Itu saja..."


"Banyak yang mengatakan begitu. Hanya ingin hidup tenang tanpa takut dunia akan kiamat dan pemangsa mengintai mereka. Perasaan menjadi bagian dari rantai makanan itu memang tidak menyenangkan." Andrew tertawa, aku melihat wajahnya yang tenang.


Dan aku takut jika mencintai seseorang itu akan menghilang. Andai saja obat itu langsung bisa tersedia sekarang. Itu akan sangat bagus, tak akan ada lagi yang menjadi korban. Tapi kadang kau tak bisa memilih kapan kau jatuh cinta.


"Aku... hanya ingin kembali ke El Paso. Aku merindukan Ibu, El Paso sekarang menjadi rumah bagi banyak pengungsi, semua penduduk membuka rumahnya untuk pengungsi. Semoga dia tetap sehat."


Fred, sebenarnya kenapa kau tak bisa kembali. Sudah tujuh bulan berlalu, mataku selalu berkaca setiap aku teringat Fred. Rasanya sangat sulit melepaskannya.


Andrew menatapku yang menerawang.


"Maaf aku hanya melamun." Aku tersenyum padanya.


"Ini sulit bagi siapapun." Susan dan D'Angelo bergabung dengan kami. Mereka sulit dipisahkan sekarant, seakan saat berdua ini sangat berharga bagi mereka. Makanpun mereka tak terpisahkan, saling menyuapi seperti anak abg jatuh cinta.


"Kalian ini, seperti newlywed..." Andrew yang rupanya gerah juga melihat kelakuan dua insan yang sedang jatuh cinta itu.


"Hati-hati dengan pengaman kalian. Kalian tak mau memperoleh bayi mungil di saat-saat seperti ini." Aku mengingatkan terang-terangan. Aku tak mau mendapat kesulitan seperti itu.


"Kami tahu... Mungkin keadaan masih akan sulit bahkan dua tahun ke depan. Bayi dan anak-anak yang dilahirkan sekarang sangat menderita. Kami juga tak ingin anak kami menderita seperti itu. Tapi kurasa aku dan Susan akan mengambil keputusan pernikahan. Kami sudah bicara pada komandan untuk menikahkan kami sebelum kuta pergi ke Tulsa..."


"Kalian akan menikah? Benarkah..." Ohh aku sangat bahagia untuk Susan sekarang. Lihatlah wajahnya yang berseri-seri itu sekarang. "Susan, selamat... sayang."


"Dia baru melamarku tadi malam..." Susan yang sedang bahagia mengatakan kabar gembira itu ke kami.


"Selamat Brother..." Giliran Andrew menepuk bahu sahabatnya itu.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Kurasa dalam dua hari, lusa malam... Aku menemukan seorang pendeta diantara pengungsi disini. Sepertinya itu sebuah pertanya, aku memikirkannya saat kemarin berminggu-minggu diluar sana. Saat aku menemukan pendeta itu, aku seperti merasa diberi tanda untuk melakukannya."


"Susan kau akan menikah, ...kita harus mencari baju yang pantas. Bagaimana kita mendapatkan sesuatu disini...."


"Sudahlah, ini masa sulit, apa saja yang penting kami menikah. Yang penting kalian berdua mau menjadi saksi kami, kita lakukan sederhana saja. Banyak yang kehilangan aku tak mau terlihat seperti tidak pantas dengan pernikahan ini."


"Kita akan menemukan sesuatu. Kau akan jadi pengantin cantik."


____ bersambung


Mak up dikit dulu biar gak bolong. besok sambung lagi.