
"Kau tak melihat Andrew, ..." Ibu mampir ke kantorku sore itu dengan sebuah pertanyaan yang sudah kuduga kemana arahnya.
"Besok saja, aku sudah mengirimkan pesan padanya. Aku punya pekerjaan hari ini. Lagipula dia baik-baik saja."
Ibu duduk di depanku dan menatap lurus ke depanku. Aku tahu ini akan jadi pembicaraan yang sulit kemudian.
"Kenapa kau tidak mempertimbangkan lamaran Andrew?"
"Aku sudah punya kekasih Mom, kami saling mencintai. Aku menganggap Andrew sudah seperti Saudara. Bagaimana aku bisa menerima lamarannya."
"Aku mendengar dari Laura. Kau akan meninggalkan Kanada?"
"Ya mungkin..."
"Albert masih membutuhkanmu di sini. Kalian semua pergi, Laura juga sering menghabiskan berbulan-bulan di Eropa. Kau akan ke US..." Sekarang dia mengatakan keberatannya.
"Mom, DC hanya berjarak satu setengah jam, aku masih bisa kembali ke sini. Akupun tidak akan pindah sekarang. Masih lama, masih banyak masalah yang belum kami selesaikan."
"Kau penganti Ayahmu di partai, Albert di perusahaan, kau juga membantunya di beberapa pekerjaan. Kau yakin kau bisa meninggalkan Kanada? Semua pekerjaanmu di sini." Aku menghela napas.
"Tidak sekarang Mom. Aku tak akan pergi sekarang. Masih lama, setidaknya menunggu bisnis kita di USA lebih berkembang. Dan Gilbert yang mengembangkan investasi kita disana."
"Tapi akhirnya kau akan pergi." Dia melihatku dengan pandangan memelas. "Nampaknya saat Mom tidak ada nanti, tidak ada satupun dari anak-anak perempuan Mom ada di dekat Mom. Laura pindah benua dan kau pindah negara." Mom memasang kesedihan di wajahnya. Pembicaraan ini benar-benar membuatku terpojok.
"Mom, kenapa kau membuat pembicaraan ini. Kau ingin memisahkan kami dan menjodohkan aku dengan Andrew. Aku hanya mengangkat Andrew sahabat bahkan keluarga. Kau pikir aku bisa menikah dengan orang yang kuanggap teman."
"Dia melakukan semuanya untukmu bahkan berani menerima peluru untukmu. Kenapa kau sedikitpun tak melihat itu."
Mama diam.
"Yang Mama bilang, adalah kau harusnya tidak meninggal Canada. Kau mengorbankan keluargamu demi bersama dengannya."
"Dan Mom ingin aku membuang perasaanku dan mendengarkan kalian. Apa Mom pikir aku tak punya perasaan. Kalian tega mengatur pernikahan dengan orang yang tak kucintai. Aku melakukan semua untuk keluarga ini, tapi kalian meminta terlalu banyak sekarang." Sekarang aku berdiri dari dudukku.
"Mama tak bermaksud begitu. Mama hanya ingin kau mempertimbangkannya." Sekarang Mama mundur.
"Aku mempertimbangkan semuanya, bahkan aku dan Gillian menunggu sampai dia bisa membuktikan bisa mengembangkan investasi kita di US. US punya pasar yang jauh lebih besar dari kita, kenapa Mama dan Albert tidak melihat dia yang sudah mengatur banyak hal untuk kita, jika boleh kukatakan jika tidak ada dia kita tak akan bisa berkumpul di sini. Bisakah saat ini aku meminta Mama mempertimbangkan itu."
Mama tak bisa menjawabku lagi sekarang. Aku juga mundur.
Kuambil tasku. Sesak rasanya di sini. Akhir pekan ini lebih baik aku pergi. Aku merindukan Gilbert, sudah lama kami tak bertemu, lebih baik aku pergi ke DC dengan penerbangan terakhir yang bisa aku dapatkan sore ini.
"Kau mau kemana?" Mom ikut berdiri melihatku membereskan tasku.
"Aku mau pergi Mom."
"Ke mana?"
"Ke Washington DC, menemui kekasihku. Aku lelah kalian menekanku begini."
Mom hanya bisa terdiam melihatku pergi begitu saja.