
"Anak kecil gila!" Seseorang akhirnya bisa menendang gadis kecil itu dan membuatnya jatuh tersungkur. Dengan cepat gadis itu bangkit lagi.
"Lihat itu, Russian tak berguna, anak kecil itu lebih baik darimu, kau hanya bisa meringkuk tak berguna di sini." Orang itu kembali menghina dan menendangnya.
Melihat itu bukannya takut, gadis kecil itu semangkin marah.
"Akan kulaporkan kalian ke kepala sekolah... Awas kalian, menjauh darinya. Pergi pembully!." Dia malah maju membawa kayu yang jatuh dari gengamannya tadi dan memburu mereka agar tak menendang anak laki-laki itu.
"Penganggu! Kau benar-benar menyusahkan." Kali ini anak yang besar itu merebut kayu di tangannya dengan cepat sebelum dia bisa memukul mereka, lalu mendorongnya dengan keras sehingga dia terjatuh di tanah bersalju itu.
"Nona! Hei berandalan bangsat kalian!" Seorang berlari dengan cepat ke arah mereka. Membuat empat orang pemuda itu terkejut dan berhamburan pergi dengan seketika.
"Nona! Kau tidak apa-apa?" Orang itu adalah penjemput gadis kecil itu. Dia terlambat datang karena tiba-tiba ban mobilnya bermasalah.
"Paman, aku tak apa. Tapi empat orang itu mengeroyok kakak itu, mereka semua penjahat!" Dia bangkit membersihkan diri, lututnya tergores tapi dia bangkit dengan cepat.
"Nona Monica, harusnya Nona tidak nekat melawan mereka sendiri." Pria penjemput itu melihatnya dengan perasaan was-was, bagaimana kalau Nonanya terluka dan dia disalahkan Ayah Nonanya ini karena telat menjemputnya.
"Aku tak apa Paman..." Dia berjalan menuju ke pemuda itu. Pemuda berbadan ringkih itu rambutnya acak-acakan, dia berusaha bangkit dan mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Merasa malu dia tidak bisa melakukan apapun, kalah oleh gadis kecil itu.
"Aku tak apa, terima kasih." Dia malu dia tidak bisa melakukan hal yang sama, membela dirinya sendiri. Dia mengibaskan salju dan tanah yang bercampur di baju dan celananya mencoba memantaskan dirinya sendiri. Tapi rambut acak-acakan, wajahnya yang kotor membuatnya terlihat menyedihkan di mata gadis kecil itu.
"Paman, bukankan di sana ada rumah sakit." Gadis kecil baik hati itu menolongnya tak setengah-setengah, dia memastikan yang ditolongnya akan pulang dalam kondisi baik, dia bahkan memikirkan akan membawanya ke rumah sakit.
"Iya Nona. Ada, tak jauh dari sini." Paman dan gadis yang baik hati itu mencoba membersihkannya dari tanah dan salju, beberapa bagian wajahnya memerah, gadis kecil itu yakin nanti dia akan kesakitan makanya dia berusaha membawanya ke rumah sakit.
"Kakak bagaimana kalau kita ke dokter, apa kau tinggal di asrama, di asrama tidak ada dokter bukan, kau yakin kau baik-baik saja. Aku punya uang, Paman yang menjemputku punya uang. Kau tak usah khawatir aku akan membayarnya..." Dan hati pemuda itu gadis itu sebaik malaikat, dia bahkan menawarinya membawanya ke dokter.
"Aku tak apa, terima kasih. Ini bukan apa-apa." Sekarang dia bertekad pergi sendiri ke dokter. Malu, dikasihani gadis kecil pemberani ini. Dia menegakkan tubuhnya. "Tidak ada darah, mungkin hanya memar, aku punya obat memar di asrama, aku akan baik-baik saja." Anak laki-laki itu tidak ingin terlihat cenggeng. Dia dengan cepat merapikan rambutnya, sementara gadis kecil cantik itu membantunya.
"Kakak, jika kau tak melawan mereka, selama kau bersekolah di sini kau akan jadi bully-an mereka, kau harus menghajar mereka kembali. Jika kau tak bisa melawannya, kau harus mengajak orang lain melawan mereka, jangan hadapi sendiri." Tiba-tiba kata-kata nasehat meluncur dari mulut gadis kecil itu.
Kata-kata berikutnya dari mulut gadis kecil itu semangkin menamparnya. Gadis pemberani itu bahkan mengajarinya bagaimana melawan. Dia merasa gagal dengan dirinya sendiri.
Sebelumnya dia merasa dia tinggal di dunia yang terlalu kejam, Ibu yang mencintainya meninggalkannya terlalu cepat. Dan dia tak bisa bertahan melawan Ayah dingin dan Ibu tiri yang ingin menyingkirkannya.