
Jam delapan aku ke ruang makan. Hall luas yang melayani bagian medis dan komando utama itu tidak begitu ramai lagi, jam makan malam sudah dimulai dari jam 6.
Aku melihat ke sekelilingku. Gilbert bilang dia akan semeja dengan komandan Allen, cukup lewat saja didekatnya dia akan memanggilku bergabung.
James tidak terlihat, tapi Rosie ada di sana, di meja yang lain. Gilbert nampaknya sudah memperhitungkan efek yang dia buat. Pria rumit seperti dia memperhitungkan segalanya.
Aku takut, ya aku takut menangis malam ini. Tapi yang akan terjadi, maka terjadilah.
"Jen,..." Aku mendengar panggilannya ketika melewati dekat mejanya. Aku mendatanginya seperti cerita yang kami sepakati dan aku bergabung di mejanya.
"Sir, ..." Komandan Allen melihatku saat aku duduk disamping Gilbert.
"Jen, duduklah." Komandan Allen yang usianya lebih tua dari Gilbert itu masih menatapku dengan heran saat aku duduk di samping sang Komandan Utama.
"Kalian berdua?" Dia menunjuk kami, menyangka kami adalah sepasang kekasih tentu saja.
"Ohh tidak, aku hanya ingin menyingkirkan seseorang. Dia bersedia menjadi teman sandiwaraku." Gilbert sendiri yang menjawabnya.
"Anak muda. Kau ini..." Komandan Allen menggelengkan kepalanya. "Perawat Jen, dengan apa dia membayar jasamu menyingkirkan orang lain, jangan bilang kau mengharapkan pria ini."
"Ohh aku tahu dia tidak bisa diharapkan, tenang saja Komandan. Aku tak pernah mengharapkannya, aku juga ingin menyingkirkan seseorang." Komandan Allen tertawa.
"Kalian anak muda nampaknya persoalan cinta memang menyita pikiran kalian."
"Tidak juga. Ini untuk menghindari cinta." Gilbert membalasnya dengan enteng.
Aku terlibat pembicaraan, lalu kusadari James masuk bersama beberapa koleganya. Dia melihat kami bersama, tapi nampaknya dia tak berniat mengatakan atau melakukan apapun. Dia tetap makan seperti biasa dan bicara dengan koleganya.
Aku harus melanjutkan sandiwara ini dengan resiko apapun. Kemungkinan besar aku akan menangis sudah di depan mata.
Dia sama sekali tak melakukan apapun!
"Kau harus ikut aku sekarang." Kami selesai makan malam, James tak menghampiri meja kami atau melakukan intervensi apapun. Perasaanku sudah tak karuan sekarang.
"Ya baiklah."
Baik Rosie ataupun James masih di sana melihat kami pergi.
Setengah hatiku sudah hancur sekarang. James tak melakukan apapun, dia membiarkan aku bertindak semauku. Jadi mungkin aku memang tak bisa mengharapkannya. Kami hanyalah kakak adik,...
Aku berjalan dengan gontai ke kamar Gilbert berusaha tetap dengan wajah tersenyum. Berpura-pura memegang tangannya sampai ke kamarnya.
"Duduklah." Dia menunjuk sofa yang ada di kamarnya. Kuhempaskan diriku ke sofa, merasa hariku yang patah sudah tak punya harapan.
"Iya." Aku sudah mau menangis di sana, aku duduk diam saja. Kenapa dia tidak mencegahku. Gillian melihatku yang hanya diam sejak masuk ke kamarnya.
"Mungkin dia memang menggangapmu hanya teman dan ...apa kau bilang adik. Kau bisa berjalan dengan itu sekarang. Tak udah terlalu mengharap, ya anggap saja dia memang kakakmu. Kau yang bilang sendiri kalau pertemanan lebih abadi. Atau mungkin dia punya alasannya sendiri tidak mengatakan apapun padamu."
"Hmm, iya mungkin begitu..." Aku sekarang terisak di sana, di depan Gilbert. Rasanya menyakitkan. Kebenaran yang pahit. "Maaf, aku menangis di sini."