
. Dua hari nampaknya keadaan tenang. Donna dan adiknya masih aman bekerja di support medis. Apa yang dia rencanakan, aku tak percaya pria itu akan menyerah begitu mudah.
"Maria apa pria itu menganggumu disini?"
"Kurasa tidak, dia tidak muncul. Yah walaupun baru dua hari tapi dia tidak muncul sekarang. Tenanglah. Aku akan menjaganya, kami semua."
Entahlah aku tidak tetap tidak tenang.
Suatu sore di hari ketiga, sudah mulai malam seharusnya para pekerja sudah kembali dan makan malam sudah dimulai. Akupun sudah akan berganti shift sebentar lagi.
Aku menuju ke ke arah asrama untuk para pekerja medis dan supportnya di sebuah sayap rumah sakit, saat itulah aku melihat Donna sedang dipojokkan di sebuah sudut taman rumah sakit yang gelap.
"Ikut aku atau aku akan menjadikan adikmu target. Adikmu boleh tetap disini tapi kau harus ikut denganku!" Laki-laki mengancam dengan suara beratnya.
"Aku tidak mau..." Dia melawan tapi bulanan trauma kurasa tidak membuat keberaniannya muncul begitu saja.
"Ohh jadi kau lebih memilih menjadikan adikmu sebagai korban? Aku bisa mengusahakan apapun yang terburuk disini. Kau ingin melihat bagaimana aku mengurus adikmu itu sampai selesai, kau akan melihatnya." Laki-laki itu hanya perlu mengucapkan ancaman untuk melemahkan Donna. Aku tahu dia akan langsung kalah.
"Siapa yang kau ancam bodoh. Kau pikir kau bisa mengancam orang di sini seenakmu!" Aku langsung membentaknya.
"Kau lagi perawat sialan! Kau pikir siapa dirimu." Dia mendatangiku. Aku tahu sekarang dia akan mencoba memukulku bagaimanapun. Laki-laki ini sudah terbiasa dengan hukum rimba.
"Donna pergi, panggil keamanan. Dan kau jika kau berani melayangkan satu tanganmu saja padaku, kau akan mati!" Dia tetap maju walau aku sudah mundur sambil mengancamnya.
"Kau pikir ancamanmu itu akan menbuatku takut. Wanita kurang ajar." Aku tak membawa senjata sekarang, jika dia main fisik tetap aku kalah, lebih baik aku lari.
"Tolong! Tolong!" Aku berteriak sekuatku, pasti ada orang yang mendengarku. Sebuah tamparan mengenaiku langsung. Membuat pipiku langsung panas.
"Perempuan sialan, kau benar-benar menyusahkan heh, kau pikir aku tak bisa menghajarmu." Satu lagi tamparan mengenai wajahku sambil dia mencekik leherku.
Kuarahkan cakarku pada wajahnya berniat meraih matanya dan menyerang kelemahannya yang paling mudah kujangkau. Tapi dia tahu, sebuah tonjokan menghantam wajahku sambil dia melepaskan jaraknya yang terlalu dekat. Aku tersungkur di tanah yang keras. Laki-laki kurang ajar ini perlu dibunuh.
Tapi baru sampai situ, serangan lain datang. Kali ini kakinya menghajar perutku. Rasa sakitnya membuatku menggulungkan badanku ke rumput. Aku bisa bayangkan apa yang Donna alami sekarang, psychopath ini tak punya masalah untuk menghajar wanita.
"Bangsat, kau hanya berani menghajar wanita heh."
"Kau masih mau ikut campur salam urusanku? Itu yang akan kau terima. Kau masih mau lagi?" Sebuah tendangan lagi membuatku terbungkuk.
"Tolong!" Aku berteriak sekuat tenaga karena hanya itu yang kupunya.
"Aku akan membunuhmu sekarang!" Pria ini gila, aku harus menyingkir segera. Aku merangkak menjauh, tali aku tak bisa melawan kecepatannya dan pergerakkannya yang masih bebas.
"Apa.yang kau lakukan!" Sebuah suara menyelamatkanku akhirnya.
...----------------...
bersambung besok
Ohh ya Cold Revenge tanggal 1 ya up crazy up nyamasih proses blm dibayar view nya kalau blm kontrak. Mohon bersabar