BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 31. It's Me 2


"Begitu..." Dia tersenyum ketika aku menunjuk wajahnya. Sebenarnya aku tak ingat wajahnya, tapi seingatku tak setampan ini. "Yang aku ingat kau itu jelek. Kenapa bentukanmu lumayan sekarang." Dia tertawa lepas dengan pertanyaan kurang ajarku.


"Iya waktu itu aku pasti terlihat menyedihkan, kurus, rambut acak-acakan, kotor karena meringkuk ke tanah, kurang makan, tak perduli tentang diriku sendiri. Aku pasti jelek sekali saat itu."


Aku tersenyum saja padanya saat dia menertawakan dirinya sendiri. Itu pujian, anak kecil dekil ini berubah menjadi mafia rusia tampan yang banyak diburu wanita, bagaimana dia bisa berubah sebanyak itu.


"Yang kuingat memang begitu. Maaf aku hanya terlalu terus terang."


"Tak apa memang begitu kenyataannya. Terima kasih atas bantuanmu. Aku pernah mencarimu, tapi aku tak pernah menemukanmu, belakangan aku tahu saat itu kau pindah sekolah."


"Hmm itu bukan apa-apa. Kau sampai menyanjungku begitu tinggi, saat itu jika dipikir-pikir aku terlalu berani dan bodoh juga melawan empat orang. Untung saat itu aku cuma luka di lutut." Mau tak mau aku tertawa, saat itu aku sampai dimarahi Ibu karena pulang dengan luka-luka apalagi setelah dia mendengar apa yang terjadi dari Paman yang menjemputku.


"Iya kau terlalu berani dan aku saat itu sangat pengecut, aku tak bisa membela diriku sendiri." Aku tersenyum padanya sekarang.


"Tapi lihatlah dirimu sekarang, penjahat besar, mafia Rusia yang hampir di deportasi. Kau nampaknya banyak kemajuan."


"Aku bukan mafia, tapi aku menerima kata penjahat besar. Kau benar juga." Dia tertawa mendengar kata-kataku. Aku akhirnya bisa tersenyum padanya. Dia senang karena aku melabelinya penjahat. Sungguh aneh.


"Bagaimana kabarmu Oomnitsa?" Pertanyaan simpatikku membuatknya tersenyum. Matanya melihatku seperti memutar kilasaan memori yang jauh.


"Nampaknya kau banyak berubah. Itu mungkin hal yang bagus. Tak ada yang berani macam-macam lagi denganmu saat ini. Pengalaman masa lalu selalu mengajarkan sesuatu bukan." Rasanya aneh, anak lemah dan jelek yang dihajar habis-habisan itu sekarang berubah 180° menjadi mafia Rusia tampan.


"Dan kau masih sama, masih berani, masih suka memarahi orang, masih sama seperti aku pernah mengingatmu. Kupikir aku tak pernah lagi bertemu denganmu, tapi ternyata cara kita bertemu lagi benar-benar tak terduga. Saat kita bertemu yang aku bayangkan aku akan mengucapkan terima kasih padamu, yang terjadi adalah kau memarahiku." Aku ingat saat kami bertemu di restoran bersama Eliza, aku langsung mengancamnya sambil menunjuk mukanya.


Kami saling memandang beberapa saat, jadi semua bunga itu benar untuk meminta maaf padaku. Bukan karena dia menjadikanku semacam target rasa penasarannya.


"Baiklah, aku terima maafmu. Jangan mengirim bunga lagi. Pot bunga sudah terlalu banyak di kantor. Kenapa kau mengirim bunga sebesar itu."


"Supaya kau tak bisa melemparnya di tempat sampah." Jawabannya membuatku tertawa tertawa sampai menangis.


"Tidak, aku menaruhnya di ruang pameran. Aku tak mungkin membuang bunga sebesar itu. Aku masih sedikit punya hati." Aku masih tersenyum lebar.


"Syukurlah, hatiku tak terlalu sakit. Setidaknya itu masih berguna sebagai pajangan." Aku meringis mendengar kata-katanya.


"Jadi akhirnya apa yang kau lakukan dengan orang yang mengeroyokmu." Aku ingin mendengar cerita setelahnya, nampakya akan seru.


"Aku membayar tukang pukul untuk menghajar mereka. Dan sejak itu aku belajar memukul orang sendiri. Tak ada yang berani membullyku lagi sejak itu." Aku bertepuk tangan kecil untuknya, nampaknya setelah di hajar dia mendapat pelajarannya sendiri.