
Tubuh kami bergesekan satu sama lain. Perasaan yang ditimbulkannya melenakan. Saat dia menguasaiku aku menggelia*t dengan puas. Punggungku melengkung dengan antisipasi saat dia mempercepat dirinya.
"Lihat dirimu, kau dan aku saling membutuhkan satu sama lain. Kenapa kau pergi begitu saja..Jangan pergi lagi Moon." Ciumannya putus asa, rasa kepemilikan yang kuat membuatku menginginkannya lebih lagi.
"Jangan berhenti..." Aku menguncinya tanpa ragu, menginginkan untuk pelepasanku.
"Kau mau aku, berjanjilah Moon, jangan pergi lagi."
"Aku tak akan pergi." Tak lama untuknya membuat jari dan telapak kakiku melingkar karena perasaan melenakan yang menyebar di sekujur tubuhku.
Perasaanku kacau di bawah tatapan matanya. Rasa bersalah tidak membalasnya satu katapun membaatku tak berani menatapnya lama. Aku hanya berani melihat padanya sebentar, sebelum menyusupkan kepalaku di dadanya.
"Berjanjilah ini terakhir kalinya kau berlari dariku seperti ini, kau boleh berteriak, marah atau apapun padaku. Tapi tidak melarikan diri seperti ini. Jangan seperti anak kecil, kita akan menyelesaikan masalah kita bukan melarikan diri dari masalah."
"Aku minta maaf."
"Dimaafkan." Dia hanya berkata pendek. "Tadinya aku mau membuatmu menangis menyesal minta maaf, tapi ternyata kau menangis sendiri." Aku melihatnya dengan ekspresi datar, sementara dia sudah bisa tersenyum, mungkin karena dia sudah mengeluarkan sumber frustrasinya di bawah sana.
"Kau memang Tuan Mafia." Dia tertawa dengan ringan.
"Tadi berapa kali Moon?" Dia menggodaku sehingga wajahku memerah, aku juga terlalu lama merindukannya, empat bulan dipenuhi air mata dan kerinduan. Mendapatkannya lagi serupa dengan mimpi indah dan aku tak bisa bertahan untuk menggapainya berkali-kali.
"Alex! Hentikan itu..." Dia tidak mendengarku, kali ini tanpa peringatan dia membukaku dan menguasaiku.
"Aku masih punya banyak, empat bulan kau hilang hanya meninggalkanku dengan sebaris kata di email. Kau pikir kau bisa lolos begitu saja? Kau harus dihukum , bekerjalah dengan benar untuk meminta maaf Moon."
Kali ini dia tak perduli memuaskanku, dia memuaskan dirinya sendiri, berniat memuntahkan dirinya padaku tanpa ampun sekali lagi, dengan ritmenya sendiri.
"Alex..." Dia menghantamkan dirinya padaku dengan kasar dan cepat seakan ini untuk melampiaskan fasa frustrasinya . Dengan cepat aku siap diterbangkan, aku menge*rang lagi, dengan tubuh terguncang hebat dan pasrah.
"Moon, ambil ini lagi, masih banyak yang bisa kau ambil..." Dia mempercepat dirinya, tubuhku terlempar ke awang-awang lagi. Aku hanya bisa menyerah di bawahnya dan menerima dikalahkan oleh baji*ngan yang berkedut memuntahkan isinya dibawah sana. Pan*as, lengk*et dan berde*nyut, tubuhku menge*jang sekali lagi ketika mendengar era*ngannya dan dia menekan dengan puas dirinya ke diriku.
"Kau mengej*ang lagi seperti yang kuharapkan." Aku tak perduli lagi dia menyindirku sekarang. Hanya memejamkan mata merasakan sisa-sisa gelanyar yang masih tertinggal. "Ini terlalu lama bukan Moon, kenapa kau bodoh sekali."
"Diamlah." Aku mencubit bibirnya, menyuruhnya diam saat dia masih diatasku.
"Aku punya ketergantungan ini padamu. Kau ingin aku melakukannya ke gadis lain?" Aku tak bisa menjawabnya. Sekarang setelah semua ini terjadi bagaimana aku bisa membiarkannya.
"Alex, lepaskan aku. Ini sesak." Dia terus berada di atasku.
"Moon sayang, kenapa kau bisa sekejam ini padaku."