
POV Gilbert
"Kau mengambil alasan apa untuk kembali lebih cepat." Malam itu aku masih mengobrol dengan Eliza yang bertopang dagu di sampingku.
Pipinya bersemu merah karena senang, saat dia datang tadi wajahnya hampir menangis, mungkin dia menangis tasi. Aku kasihan padanya, pasti pembicaraan dengan keluarganya membuatnya tertekan. Sekarang aku senang dia sudah terlihat lebih baik.
"Alasan pekerjaan, lagipula besok dia sudah diperbolehkan pulang tak ada yang serius lagi. Tak usah pikirkan pekerjaan dan masalahku di sini aku pasti bisa mengatasinya." Aku hanya ingin dia bahagia akhir pekan ini, sebelum kembali ke sana dan mungkin Andrew akan berusaha mengoyahkan keyakinannya. "Besok kita jalan-jalan seharian oke, kita hanya punya dua hari bersama, aku akan mengajakmu kencan dua hari penuh." Aku memeluk dan menciumnya membuatnya tertawa senang.
"Apa mereka masih memaksamu untuk punya hubungan dengan Kylie. Kau tak punya kewajiban menjenguknya besok? Apa tidak menimbulkan masalah?"
"Hanya secara tersirat, mereka tak berani terlalu memaksa, sebenarnya aku diuntungkan karena sebenarnya aku yang membantu mereka, terutama agar Kakaknya tidak terlempar dari posisi CEO perusahaan utama mereka, jadi kurasa mereka tak punya hak untuk memaksaku terlalu jauh. Asal aku bertanggung jawab saja untuk memastikan Kylie dipèrhatikan, dia sudah sembuh dan aku sudah memastikan membayar semuanya, sampai menjaga semalaman di hari pertama dia kecelakaan Kakaknya hanya mencari kesempatan saja. Dia tahu dia tak bisa memaksaku."
"Baguslah jika tidak begitu pelik. Lalu bagaimana dengan orang yang menabrakmu apa sudah ada titik terang."
"Sayangnya CCTV di daerah tabrakan itu rusak, sulit mencari bukti. Tapi dengan menggunakan CCTV di daerah sekitarnya kami berhasil menentukan mobil ke dua yang membuntutiku, yang menabrakku aku belum tahu apa karena itu sangat cepat. Tapi berbekal itu pasti ada yang bisa dilakukan."
"Kau harus berhati-hati, jangan sampai kau terluka oleh orang licik seperti itu. Aku tak mau jadi janda sebelum menikah."
"Sayang, kau tak akan jadi janda. Kau harus menjadi istri yang berbahagia dulu. Bagaimana dengan ide membuat bayi, kau bisa langsung memaksa Ibu dan Kakakmu setuju."
"Apa itu benar?" Dia malah bertanya lagi.
"Tak sepenuhnya benar, sebenarnya aku juga tak ingin masuk keluargamu dengan cara seperti itu." Aku menghela napas, memandangnya dengan berbagai pikiran melintas di otakku. Aku harus membuktikan diri di depan keluarganya untuk meluluhkan Albert. Itu jalan satu-satunya. Laporan tahun pertama retail yang melibatkan keluarga Eliza harus terlihat berkilau.
"Lebih penting lagi, jangan biarkan Kylie mengharapkanmu. Dia sudah menyukaimu jika kau terlalu baik padanya, dia bisa punya harapan tidak realistis padamu." Eliz mengingatkan.
"Iya aku tahu."
"Tidak, dia sudah di rumah. Aku bisa membuat alasan aku harus ke negara bagian lain besok. Dua hari kedepan untukmu. Tidak akan ada yang menggangu kita." Dia tersenyum manis.
"Kau harus istirahat, ini sudah lewat tengah malam. Kita masih punya waktu dua hari."
"Aku tidak ingin melewatkan detik-detik bersamamu. Dua hari akan berlalu sangat cepat. Entah berapa minggu lagi kita bisa bersama." Aku memahami perasaannya.
"Kita akan berusaha saling mengunjungi dua minggu sekali setidaknya. Kita lama tidak bertemu karena masalah beruntun menimpa kita bulan belakangan ini."
"Dua minggu tetap terasa lama." Aku tak membalas kata-katanya. Karena aku tak tahu bagaimana menghiburnya yang bisa kulakukan hanya memeluknya dengan erat.
"Aku tahu. Aku mencintaimu. Jangan lelah berharap padaku sweetheart..."
"Tak apa, terlalu sering bertemu akan membosankan." Dia tertawa kecil. Aku tahu dia menguatkan diri kami.
"Tidurlah, kau tidak akan kehilangan apapun karena besok aku masih akan ada di sampingmu..Jika kau tidak tidur, aku akan menc*iummu lagi."
"Dasar mesu*m."
"Salahmu sendiri tidak tidur."
"Aku tidur. Besok buatkan aku sarapan."
"Apapun perintahmu Mam."
Dia tertawa dan mulai memejamkan matanya yang terlihat lelah. Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk berusaha dan melakukan yang terbaik untuk membuatnya menunggu tak terlalu lama.