BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 63.


Jangan lupa... vote masih dipusatkan ke Louis ya


💙💙💙💙


"Nanti biar kuberikan kau beberapa vitamin oke. Ikutlah bersamaku nanti. Walikota yang sakit tak akan baik." Dia tersenyum padaku sekarang.


"Terima kasih, aku senang punya perawat pribadi yang perhatian."


"Sejak kapan aku jadi perawat pribadimu. Jangan terlalu meninggikan dirimu." Dia meringis lebar sekarang.


Mungkin perhatian kecil saja membuatnya senang aku mau tak mau tersenyum juga. Kata-kata Susan terbayang lagi, Walikota militer yang hot ini terlalu menggoda untuk di lewatkan.


Perasaan bersalah karena teringat Fred, entah kenapa itu masih ada, padahal Ibunya sendiri sudah bilang padaku untuk merelakannya. Karena mustahil dia tidak bisa menghubungi siapapun setelah berbulan-bulan, karena semua kota aman itu punya sistem informasi orang hilang. Jika kau mencari saudaramu hanya berdasarkan nama pasti kau temukan bersama fotonya. Tapi sudah sembilan bulan tak ada namanya muncul jika dicari.


"Kenapa kau tiba-tiba melamun?"


"Tidak... " Aku menggelengkan kepalaku. Berharap aku bisa menerima kenyataan dan tidak lagi memikirkannya.


"Di luar udara tidak terlalu dingin, mau jalan-jalan sebentar ke taman di samping gedung ini."


"Ehm baiklah, ..." Aku menerimanya ajakannya.


Kami berjalan-jalan di taman samping gedung rumah sakit, beberapa orang terlihat di kursi taman, sedang menikmati malam, setidaknya di sini aman. Aman adalah sebuah kemewahan, tidur dengan aman adalah sebuah kemewahan.


"Kadang kita merasa di saat yang tak menentu. Bukan kau saja, semua dari kita. Kau mau membicarakan apa yang kau rasakan?" Andrew memulai pembicaraan karena melihatku hanya berjalan dalam diam.


"Tidak, aku cukup bersyukur, tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Jika dibilang mereka yang bertahan sejauh ini mungkin mereka yang mempunyai keinginan dan kemampuan untuk bertahan hidup."


"Kau masih ingin hidup bukan walaupun dia mungkin sudah tak ada harapan." Aku tersenyum mendengar pertanyaannya.


"Dan kau masih punya aku." Dia mengatakan itu dengan keyakinan yang membuat aku harus menatapnya. "Aku serius dengan perkataanku."


"Aku tak tahu harus mengatakan apa sekarang Andrew..." Aku memang tak tahu.


"Tidak, kau tak harus mengatakan apapun. Hanya aku ingin kau tahu aku akan ada selalu untukmu. Kau bisa mengandalkanku untuk apapun." Aku tersenyum kecil.


"Aku tersanjung. Kau sangat baik padaku."


"Aku akan selalu baik padamu." Dia tiba-tiba memelukku. Aku tak bìsa menolaknya tapi juga tak bisa membalasnya. Pelukan hangat ini, seseorang yang bisa mengatakan dia akan selalu ada untukmu. Di tengah ketidakberuntungan aku menemukan penganti, entah ini sebuah keberuntungan atau ironi yang getir.


"Maaf, apa aku kelewatan." Dia melepasku, rasa hangat itu menghilang. Rasanya aku menginginkannya lagi, seseorang yang mengatakan semua akan baik-baik saja.


"Tidak, tidak apa." Aku tersenyum. "Terima kasih."


"Terima kasih untuk apa?"


"Untuk mengatakan hal semanis itu untukku kurasa." Dia mengamit tanganku.


"Izinkan aku menemanimu. Nanti kau akan melupakannya karena aku terlalu baik." Mau tak mau aku tertawa kecil sambil kami berjalan.


"Kurasa itu usaha yang bagus." Dia tertawa juga.


"Hanya ini yang bisa kulakukan, aku tak tahu cara lainnya, toko bunga sudah tak ada yang buka, mungkin aku harus mencari bunga liar di hutan."


"Jangan bodoh kau pimpinan walikota ada banyak orang bergantung pada keputusanmu." Aku jadi memarahinya.


bersambung besok