
POV Eliza.
"Andrew menerima peluru untukmu?! Lalu bagaimana keadaannya?!" Kakak sepertinya langsung bangkit dari kursinya begitu aku mengatakan berita itu untuknya pagi ini.
"Dia baik-baik saja. Sudah lewat dari kondisi kritis, untungnya pelurunya berbelok ke lengannnya, jadi dia tidak berada dalam kondisi berbahaya."
"Paman David sudah tahu?"
"Tadi sore dia dan Bibi sampai ke sini, tapi mereka tak bisa lama karena besok ada acara yang tidak bisa di tinggalkan."
"Kau harus menemaninya kembali ke Montreal, urusan pabrik, serahkan ke orang yang akan kukirim dua hari lagi, aku sudah memilih kepala cabang di sana. Pastikan kau tidak menelantarkannya di rumah sakit sendiri. Paman David sudah banyak membantu kita."
"Iya, aku tahu."
"Kata Laura kau di lamar oleh Andrew?" Aku diam, ternyata Albert tahu apa yang terjadi.
"Aku sudah bilang padanya, aku punya kekasih." Dan mungkin ini saatnya untuk mengatakan pada Albert bahwa aku dan Gilbert Gillian berniat serius dengan hubungan kami.
"Maksudmu Jenderal Gillian, bukankah kau hanya bersenang-senang dengannya, kau sendiri tahu dia tidak mungkin pindah ke Kanada. Selama ini kupikir kalian hanya bersenang-senang?"
Aku mengkerut, jadi apa menurut Albert aku tidak mungkin bisa pindah ke DC? Apa dia akan menentang ide itu sepenuhnya.
"Mungkin aku bisa pindah ke DC setelah bisnis kita di sana besar, ...." Aku menunggu reaksi Albert dengan was-was.
"Pindah ke DC? Kau adalah wajah keluarga kita di politik dan pemerintahan setelah Ayah tak ada, kau ingin meninggalkanku tanpa bantuan? Kita punya banyak akses ke bisnis pemerintah, tender proyek itu karena kau dan Ayah. Kau ingin meninggalkanku tanpa bantuan di sini?" Pertanyaan itu juga berarti dia jelas tidak setuju untuk saat ini.
"Apa bedanya jika tak sekarang?" Dia merespon dengan kaku. Aku diam, Albertpun diam, telepon itu menjadi saat yang tidak mengenakkan kemudian. "Kau ingin meninggalkanku tanpa bantuan di sini? Coba kau pertimbangkan lagi. Bukankah kau lebih baik kau menerima Andrew, jelas-jelas dia kita kenal dari lama dan dia bahkan keluarganya sudah melakukan banyak hal untukmu." Albert pasti lebih setuju aku bersama dengan Andrew.
Aku tak bisa menjawab Andrew.
"Sudahlah, kau tak usah memikirkan terlalu jauh dulu. Pastikan saja kau tak meninggalkan Andrew di rumah sakit sendiri. Aku akan meneleponnya pagi-pagi besok."
Albert mengakhiri telepon itu dengan cepat. Dan pikiranku jadi tambah kusut setelah bicara dengannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku membawa pasta untukmu. Dokter bilang boleh kau boleh makan ini." Dan aku datang paginya sebelum aku ke kantor untuk mengecek keadaan Andrew.
"Terima kasih." Dia tak mengusirku pulang seperti semalam. Pagi ini dia terlihat lebih baik. Setidaknya dia tidak mengusirku di depan pintu karena dianggap mengasihaninya. "Kau akan bekerja bukan, jangan lama-lama di sini? Apa urusan polisi sudah selesai?" Baru aku berpikir dia tidak akan mengusirku, ternyata sedetik kemudian dia mengusirku pergi.
"Aku sudah memberi keterangan ke polisi, tapi hari ini harus pergi untuk tandatangan dokumen. Kakak mengirim pengacara membantuku menyelesaikan semuanya. Kurasa akan tiba hari ini."
"Tadinya jika kau tak punya seseorang mendampingimu aku akan meminta pengacara kenalanku untuk membantumu." Seperti biasa dia memikirkan semuanya.
"Tak usah, Kakak sudah mengaturnya. Dia menanyakan keadaanmu, apa dia sudah meneleponmu?"
"Sudah."