
Kami tiba di Ottawa minggu berikutnya, kota ini tambah ramai karena sebagian pengungsi masih tetap di sini sementara Toronto masih dalam tahap pemulihan.
Walau begitu Canada jauh lebih baik dari USA, kami hanya terkena satu kota besar yaitu Toronto, sementara US, hampir 40% kotanya jatuh ke wilayah hitam sebelum pelan-pelan mereka bisa memulihkan semuanya lagi.
"Mana Jenderalmu itu, aku sudah tak sabar melihatnya." Monica menempel di sampingku sebagai assisten, kali ini dia memakai setelan resmi, walaupun begitu tetap saja dia tidak terlihat sebagai assisten di kantor. Lebih terlihat sebagai model yang sedang dalam pemotretan sebuah model pakaian kerja.
"Kau bersabarlah, kenapa kau malah yang berisik sekarang." Dia cekikikan di sampingku di saat kami masih dalam jamuan selamat datang di sebuah hotel di Ottawa.
"Dia belum ada, di sana ada perwira tampan."
"Dia memakai pakaian sipil tak terlihat dengan pakaian militer." Ini acara orang bisnis bukan acara resmi militer, tak mungkin dia memakai pakaian militer, satu-satunya saat aku bisa melihat dia memakai pakaian militer adalah saat upacara resmi. Sayang sekali padahal aku juga ingin melihatnya dengan jas upacara resminya.
"Ohh, begitu." Monica mengangguk mengerti sementara mataku mencari dan lalu aku menangkap sosoknya. Kali ini dengan jas abu-abu dan kemeja putihnya.
"Itu arah jam 9, kemeja abu-abu dengan cukuran rapi. Rambutnya pendek." Mata Monica mencari, nampaknya dia menemukannya. "Bagaimana?" Dia langsung memasang ekspresi menilai.
"Hmm... tepat seperti kubayangkan model daddy-daddy kaya, yah... tampan, gagah, kharismatik, tapi Alexander, Timothy, Duncan lebih tampan dari dia. Yahh tapi sekali lagi dia Jenderal." Aku tersenyum, berdasarkan teman-temannya yang dia kenalkan padaku aku bisa menduga selera adikku itu.
"Selera kita memang berbeda." Itu jelas selara kami jelas berbeda.
"Kau tak menyapanya? Pergilah sana." Monica langsung mendorongku mendatanginya.
"Aku harus menyapanya sekarang? Bukankah itu terlihat ... terlalu mengharapkannya." Tapi aku ragu untuk langsung bertindak sekarang.
"Kau memimpikannya berhari-hari, sekarang orangnya di depan mata kau membiarkannya lewat. Dasar pengecut. Dimana keberanianmu." Monica menyindirku sambil menarik tanganku.
"Ehhh kau mau apa..." Aku protes saat dia menarikku.
"Nanti juga kami bertemu, apa harus sekarang." Aku langsung menahan tangannya, keberatan jika harus melakukannya sekarang.
"Sekarang saja, nanti kau tak bisa tidur." Aku meringis saat dia terus saja menarikku. "Aku assistenmu, jangan bilang aku adikmu. Jalanlah yang benar, apa aku harus mendorongmu dari belakang begini. Kau jangan jadi pengecut." Monica malah memarahiku. Adikku yang terlalu berpengalaman pada pria ini sedang meremehkanku.
Aku terpaksa melangkah kedepan, jantungku berdebar seperti aku menghadapi pertemuan dengan cinta pertamaku. Aku terpesona padanya begitu saja, karena merasa dia melakukan sesuatu yang berarti untukku. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain, bertindak sebagai pelindung.
"Tuan Gillian, ..." Suaraku hampir berbisik menyapanya. Untungnya dia masih bisa menangkap suaraku.
"Oh, Nona Eliza. Selamat siang, senang bertemu denganmu lagi. Bagaimana kabarmu." Akhirnya aku mendengar suaranya lagi.
"Aku baik, senang bertemu denganmu juga." Aku senang dia tersenyum padaku, mungkin dia punya perasaan juga padaku.
"Ya, cuacanya di Ottawa bagus hari ini." Dan aku kehilangan bahan pembicaraan, membicarakan tentang cuaca, apa ini, otakku beku. Monica menyentuh punggungku, dia pasti mengatakan aku bodoh sekarang. Aku memang merasa bodoh.
"Iya cuacanya memang bagus." Dia melanjutkan. "Aku senang kesepakatan hari ini akan di tandatangani. Kalian katanya sudah melakukan survey ke Alaska?" Dia langsung bicara bisnis, kenapa dia tak mengajakku bicara hal yang lebih menyenangkan. Sekarang aku merasa aku sedikut tidak rasional.
"Sudah tentu saja, kami perlu melihat semua faselitas yang kau katakan sebelum memutuskan menyetujui penawaranmu. Sekarang perbaikan dan pemesanan bahan sedang dilakukan. Kami tak menunggu bunga investasi berjalan."
"Kalian memang pebisnis tulen. Kapan-kapan jika bisa aku ingin bertemu dan mengobrol dengan Kakakmu."
"Tentu saja, Albert kebanyakan di Montreal sekarang, jika kau suatu saat ke Montreal, bilang saja padaku akan kupertemukan kalian."
"Siapa di belakangmu?" Monica sedikit lebih tinggi dariku, dari tadi dia membelakangiku, pura-pura sibuk dengan ponselnya, sikapnya sedikit tak sopan sebenarnya.
"Ohh ini Monica, assistenku." Aku mengakuinya sebagai assistenku. Monica terpaksa berbalik, kurasa dia hanya ingin tidak menarik perhatian ke arahnya.
"Selamat siang Tuan." Monica tersenyum sedikit sambil mengulurkan tangannya. Tapi dampak senyum itu membuat Gilbert tak berkedip. Walaupun itu bukan hal yang asing untuk pandanganku, tak urung aku kecewa juga.