
Sebuah karangan bunga bernuansa pink dan putih di ruang pamer hari itu. Anggrek, tulip dan mawar dengan paduan sempurna. Aku melihatnya dengan sedikit terpesona. Perangkai bunga di toko bunga langganan kami mungkin sedang mendapat inspirasi bagus di akhir pekan ini.
"Ini bagus, apa mereka memperkerjakan perangkai bunga baru? Atau kau berganti toko bunga?" Aku langsung bertanya pada Jasmine yang kebetulan lewat.
"Ohh itu, itu datang dari penggemarmu Boss. Kartunya di mejamu. Aku baru berencana menganti bunga ketika itu datang pagi-pagi sekali? Nampaknya memang untuk menyambutmu." Jasmine tersenyum lebar.
"Ahh..." Aku mau tak mau meringis. "Pink yang manis..."
"Warna kesukaanmu kurasa."
Iya, warna kesukaanku. Pink selalu terlihat bagus bagiku. Dan kartu pink di mejaku itu segera kubuka.
...'Pagi Svetluny......
...Semoga harimu menakjubkan hari ini.'...
Kata-kata sederhana untuk menyemangatiku. Dia benar-benar mematuhi tak boleh merayuku, karena kami hanya menjadi teman.
Apa aku bisa bertahan dengan rayuan macam ini. Ini malah terasa lebih menyentuh.
Pertanyaan Eliza beralasan, apa aku bisa memilih aku jatuh cinta pada siapa. Setelah beberapa tahun sendiri, aku merindukan seseorang yang memperhatikanku lagi. Dan mafia Rusia ini mencoba cara yang paling sabar untuk menaklukkanku.
Aku iri pada Eliza dan Gillian, mereka berdua terlihat sangat bahagia. Aku hanya bisa ikut tersenyum melihat mereka tersenyum satu sama lain. Seperti aku jatuh cinta pada Markus,... masa lalu yang tak mungkin terulang lagi.
'Terima kasih bunganya.' Kukirim pesan singkat padanya.
"Kembali." Alexsey membalasnya dengan singkat. Sebuah pesan masuk lagi. "307 Avenue Carlyle."
"Alamat apa ini."
"Itu dimana aku tinggal jika kau ingin mengunjungiku. Kita teman, kau boleh tahu tempat tinggalku. Kau boleh mengunjungiku kapan saja."
"Aku belum ada keperluan untuk mengunjungimu." Dasar over percaya diri apa perlunya aku mengunjunginya di rumahnya.
"Jangan terlalu berharap."
"Kau boleh membalas dengan memberitahu alamatmu."
Aku tak mau membalas pesannya lagi, nanti dia besar kepala jika aku membalasnya. Tapi aku kembali ke ruang pameran butik untuk memperhatikan bunganya lagi.
Ini memang cantik.
\=\=\=\=\=\=
Aku bertemu Eliza kembali malam ini, dia bilang dia sudah menanyakan pada Andrew bagaimana pendapatnya tentang hubungan kami. Aku ingin segera tahu hasilnya, walaupun aku pesimis dia mendapat jawaban yang bagus.
"Bagaimana." Eliza duduk di depanku dan mengambil ponselnya.
"Lebih baik kau dengar sendiri." Dia mencari file di ponselnya dan mulai memutar.
"Kau dan Gillian akan segera menikah? Berarti kau akan pindah segera. Aku akan kehilangan teman negosiasi yang handal." Itu suara Andrew.
"Aku akan bergabung membantu jika diperlukan, penerbangan DC Montreal hanya satu setengah jam, kau tak usah khawatir. Kau bisa meneleponku jika benar-benar butuh." Suara Eliza.
"Iya, kuusahakan tidak, kau pasti sibuk di sana. Sekarang juga Monic sudah bisa banyak membantu. Dia punya bakat jadi peri baik hati. Orang-orang bisa dibawa ke sisi terlemah mereka jika melihat dia terutama pria." Suara Eliza tertawa kemudian.
"Baguslah kalau dia memang bisa membantu." Diam sebentar sebelum Eliza melanjutkan. "Andrew..."
"Hmm?"
"Apa Monic cantik bagimu?" Pertanyaan awal sudah diberikan. Dadaku berdebar keras sekarang.
"Apa? Kenapa kau bertanya begitu. Semua orang pasti menganggap dia cantik. Memangnya kenapa?"