BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 38. Dinner with Friend


"Usiamu berapa?"


"35." Sesuai dengan perkiraanku.


"Kau tidak punya pacar?" Sedikit bertanya masalah pribadinya karena penasaran


"Tidak." Karena dia senang pergi denganku seperti ini maka pasti jawabannya tidak. Tapi dia punya janji tidak akan merayuku karena kami teman. Teman tidak saling merayu.


"Kenapa tidak?"


"Belum menemukan yang menggerakkan hatiku."


"Hmm..." Aku memikirkan alasan yang lain dari yang dijawabnya.


"Mungkin juga terlalu sibuk untuk menemukan jalan kembali." Dia diam sekarang, aku membayangkan dengan semua kejadian yang menimpanya, kebenciannya pada Ibu tirinya pasti sangat besar, dia berusaha keras membuktikan diri pada Ayahnya di sini.


"Kau benar kurasa. Wanita tidak pernah masuk menjadi daftar prioritasku."


"Karena banyak hal yang harus di selesaikan bukan. Kau tidak mau nenambah masalah yang tidak perlu. Banyak gadis yang berharap padamu, tapi kau membiarkannya di tangani oleh Anna. Akhirnya aku mengerti motivasimu."


"Iya, itu benar." Dia setuju dengan mudah.


"Kau tak membiarkan aku ditangani oleh Anna?" Dia tertawa kecil. Aku menikmati ekspresinya, apa yang dia akan jawab.


"Svetluny, jawaban apa yang kau inginkan? Katamu aku tak boleh merayumu. Maka tak akan kulakukan, tapi jika kau berpikir sebaliknya katakan saja keinginanmu. Tapi yang jelas kita teman, aku menangani temanku sendiri."


"Kita teman, kau tak boleh merayuku." Aku mengulum senyum, mengingatkannya kembali, walau perhatian ini bukan dari orang yang kuinginkan aku menikmatinya.


"Jadi kau tidak akan pernah membiarkanku ditangani oleh Anna bukan?"


"Tidak akan pernah. Karena kita teman dan aku menghargaimu lebih dari apapun." Dia mendekatiku dengan jaminan teman. Sedikit banyak aku tahu apa yang sedang dilakukannya.


Tapi aku sekarang masih memilih mengejar Andrew, hubungan dengan mafia Rusia ini akan sangat complicated. Dan aku tak pernah membayangkan akan tinggal di Moskow di masa depan.


"Kita sudah sampai." Kami sampai ke sebuah gedung, setengah gedung ini di fungsikan sebagai hotel dan Nacarat ini menempati bagian teratas gedung ini. "Pernah ke sini?" Aku mengangguk.


"Pernah sekali dengan Mark kurasa..."


"Hmm..." Dia tidak banyak bicara soal itu.


"Sir, selamat datang, tempat yang kau inginkan sudah dikosongkan." Seorang staff datang dan melapor padanya.


Kami naik ke atas, sebuah pub dan restoran di penuhi oleh tamu, dan dia bisa mengakses sebuah meja di sisi jendela kaca dimana pemandangan lanscape Montreal terlihat jelas. Sesaat aku duduk dan memandang semua yang ada di depanku dengan kagum.


"Ini cantik sekali, terima kasih sudah mengajakku ke sini."


"Senang bisa mengajakmu ke sini." Dia kemudian menawarkan minuman dan makanan yang bisa kupesan dengan murah hati.


Sementara aku kadang mencuri pandang mengagumi sosok tampannya. Selain itu kusadari dia sama sekali tak punya aksen asing, sudah dua puluh tahun di sini nampaknya itu menghapus aksen asingnya.


Lalu kami terlibat pembicaraan panjang. Dia bercerita sedikit dia berinvestasi di bisnis ini dan bahkan bekerja di sini sekaligus saat umurnya baru 16 tahun dengan meminjam uang Bibinya, dan setelah belasan tahun mereka sudah punya beberapa cabang lain.


Sementara dia bercerita, pikiranku tetap memikirkan Andrew dan Anna. Apa Andrew setelah lepas mengharapkan Eliza akan bersama Anna.