BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 54. Laura Missing


Sorry, belakangan pendek-pendek lagi musim ujian anak-anak dua minggu ini jadi gak bisa fokus sama sekali.


Oh ya, minta semua vote dan gift dipusatkan ke Law Firm saja ya.


Makasih untuk semua dukungan kalian. 🤗



Laura tidak mengatakan apapun lagi di perjalanan itu. Akupun tidak, tidak ada yang bisa dibicarakan lagi. Apapun permintaan yang diminta oleh orang tuanya tidak akan mungkin bisa kupenuhi.


"Terima kasih sudah mengantarku." Kami sampai di depan apartmentnya. "Ayah mungkin akan menyulitkanmu, dia tidak terbiasa permintaannya di tolak. Aku tak bisa melawannya. Kau dan keluargamu yang harus mengatakan tidak."


"Aku bisa menanganinya."


"Baiklah, kalau begitu terima kasih."


Kulihat dia berjalan menjauh. Yah ada saatnya dia merasakan putaran di bawah.


Aku menepi ke parkiran depan apartmentnya yang kebetulan ada yang kosong untuk melihat beberapa pesan yang masuk ke depanku.


Dari jauh aku melihat siluet berjalan keluar kembali ke lobby. Laura nampaknya punya banyak acara. Aku mengambil teropong binocular yang ada di mobilku dan memastikan itu dia, kali ini dia memakai pakaian pesta dan keluar mengandeng seorang pria aku tak mengenalnya, dan tak melihat jelas wajah pria itu lagipula, Pantas saja dia diminta diantar ke apartmentnya tadi dia rupanya sudah punya acara sendiri.


Kutinggalkan tempat itu beberapa saat kemudian. Aku tak punya firasat apapun saat meninggalkannya. Sampai kemudian sebuah telepon saat makan siang mengejutkanku.


"Gilbert, semalam apa kau mengantar Laura kembali ke rumah. Ibunya sampai sekarang belum mendapatkan kabar darinya."


"Dia belum pulang? Aku mengantarnya ke apartmentnya sebelum jam 9, kami tak kemana-mana, aku lihat dia dia kembali dan pergi dengan pria lain setelahnya. Tapi tentu saja aku tak tahu siapa itu."


"Dia belum pulang dan tak bisa dihubungi Ibunya nampaknya mengkhawatirkannya..."


"Ohh benarkah, mungkin dia pergi bersama pria itu. Tak ada yang perlu dikhawatirkan menurutku. Dia pergi ke pesta dengan sukarela dengan dandanan lengkap."


"Jangan sampaikan ke Ayahnya, nampaknya dia cukup bermasalah dengan Ayahnya."


"Tidak, Ibu hanya akan menyampaikan ke Ibunya terlebih dahulu."


"Jika polisi ingin melacaknya kukira bisa, mereka pergi dari lobby, tapi kurasa dia hanya sedang bersama pria itu."


"Entahlah, mungkin dia juga tahu. Ya baiklah, Ibu tidak ingin menggangumu. Kau lanjutkan pekerjaanmu."


Tapi nampaknya sampai sore Paura belum bisa dihubungi. Aku dihubungi oleh Ayahnya.


"Dia pergi bersama seseorang Paman, kurasa kau bisa mengeceknya jika kau mengakses CCTV lobbynya, aku tak tahu siapa temannya yang jelas dia tidak pergi dengan terpaksa..."


"Pria atau wanita yang kau lihat pergi bersamanya?"


"Pria kurasa, kau bisa melihatnya di CCTV lobbunya dia pergi bersama siapa. Jika Paman butuh bantuan dengan polisi aku akan menugaskan seseorang membantu Paman."


"Paman bisa, terima kasih Gilbert, gadis itu sidah banyak menyusahkanmu. Dia seharusnya minta maaf dengan benar." Ini pasti yang dia mau, definisi tuntutannya soal meminta maaf ini berat.


"Dia sudah meminta maaf, aku sudah bilang sudah lama melupakan apa yang terjadi, lagipula aku juga sudah punya kekasih sekarang." Kukatakan saja sekarang supaya dia tidak berharap lagi. Meringankan semua urusan tidak perlu diantara kami.


Ayah Laura terdiam sebentar. Sebelum dia menghela napas dan melanjutkan.


"Kalau begitu terima kasih, nanti mungkin Paman menelepon lagi jika perlu bantuan."


"Tentu Paman."


\=\=\=\= bersambung besok