BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 157. Not Perfect Time 2


"Ehm tidak, aku malas ke dapur. Ludo biasa sudah menyisakan di kotak khusus untukku. Aku tinggal menitipkan kepada Laura untuk mengambilnya. Kau sudah makan?"


"Belum, sudah lama kita tak makan semeja." Aku jadi melihatnya. Apa arti perkataannya.


"Kita sibuk." Jawaban terpendek dan masuk akalku. "Mereka punya telur rebus kali ini, daging asap, hari ini sopnya enak, nampaknya ada cream. Ini cobalah punyaku ini banyak."


James bersedia mengambilnya, dan makan dari kotak makananku. Ludo yang baik hati selalu memastikan dia memasukkan cukup banyak untukku.


"Kau benar ini enak. Hari ini nampaknya koki kita punya bahan yang cukup." Aku tersenyum dengan balasannya.


"Mungkin ada kiriman susu dari Kissimmee ke sini, kudengar mereka mengaktifkan lagi perternakan. Kita cuma punya perternakan unggas di sini dan ikan di sini.


"Sayang kita belum punya keju setelah bertahun-tahun bukan."


"Iya aku merindukan keju. Sayangnya itu masih termasuk produk yang dilarang, kecuali itu di proses lagi dengan dimasak. Mungkin nanti kalau sudah normal kita bisa punya cheesecake buatan Mom."


"Iya jika kita sudah kembali, semoga tak lama lagi."


Pembicaraan tentang makanan yang tak penting ini entah kenapa bisa membuat perasaan bersalahku menjadi hilang. Dia tak membenciku dan menyalahkanku, itu sebuah kelegaan.


"Kau tahu, aku hanya tidak ingin kau terluka lagi. Gillian dia tak mencari hubungan serius di sini. Kenapa kau terlibat dengannya. Kau tahu apa yang kukatakan benar." Akhirnya dia bicara soal Gillian.


"Kau tak perlu memikirkannya, aku tahu apa yang kulakukan. Aku tak mau membicarakannya denganmu. Jangan mencoba memulai, sudah kukatakan kau bukan Kakakku, kau tidak bertanggung jawab atas hidupku..." Aku meneruskan makanku, berusaha keras terdengar biasa saja.


"Kenapa kau begitu keras kepala."


"Entah. Mungkin karena sudah terbiasa sendiri, terima kasih kau sudah berada di sini, memperhatikanku selama bertahun-tahun ini, tapi aku juga ada saatnya tak ingin memberatkanmu selamanya kau tahu itu, terima kasih untuk itu, di masa depan nanti ada saatnya kau juga akan pergi bukan. Aku juga akan sendiri, jadi apa bedanya sekarang atau nanti. Kau tak usah khawatir. Aku tahu siapa dia."


Dia melihatku dengan pikirannya sendiri, aku tersenyum kecil padanya. Jika kali ini dia tidak maju, aku akan menganggap dia memang hanya ingin menganggapku adik.


Beranikah dia berjanji tidak pergi. Dia diam tak bisa menjawabku. Mungkin waktunya tidak tepat.


Tapi tak ada yang sempurna dalam hidup, waktu yang sempurna itu tak ada, aku jadi mengerti apa yang dilakukan Susan dan D'Angelo. Kadang tidak ada waktu yang tepat, kau hanya harus menjalaninya dengan orang yang tepat.


Masalah akan selalu ada, tapi janji bersama tetaplah akan menjadi janji.


Ucapkan itu sekarang atau aku akan meninggalkan harapanku. Pilihan yang harus dia pikirkan sendiri jawabannya.


"Aku pergi. Masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Pergilah makan malam, kau tak akan kenyang dengan hanya mencicipi makananku. Setelah ini aku akan langsung tidur. Besok masih panjang hari kita."


Aku menghela napas, rasanya lega sudah mengatakan yang harus kukatakan. Hasilnya tergantung keberuntunganku kukira.


Mungkin aku akan beruntung, mungkin juga tidak. Tapi apapun itu, yang pasti kami berdua akan tetap jadi teman baik dan saudara baik...


\=\=\=\=\=\=\=\=