BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 53. Still Fight!


Pembersihan Tulsa dan Broken Arrow.


Kota ini dipilih karena dekat dengan pusat pertanian, banyak pengungsi akan direlokasi kesini untuk mengerjakan pertanian untuk sementara, menunggu kota mereka dibebaskan. Dan hidup akan mulai berjalan dengan kerja keras dalam komando militer, tapi setidaknya mereka aman, punya makanan, bisa bekerja untuk menjaga  anak-anak mereka jika mereka masih punya anak di perlindungan mereka.


Begitu juga yang terjadi di simpul-simpul semua kota aman di semua daratan dunia, berusaha  untuk hidup dan memenuhi kebutuhan dasar. Komunikasi tetap bisa berjalan, semua kota yang bisa melindungi dirinya diperintah oleh otoritas milter dan polisi untuk menjaga ketertiban dan bahu membahu menjaga kotanya, menumbuhkan makanan mereka sendiri, ekonomi tentu saja hancur. Tapi manusia yang bertahan berusaha untuk hidup sekarang.


Ada ribuan pengungsi juga yang sudah bergabung karena aman disini, mereka mengerjakan tugas di dapur umum tentara dan kebersihan, dan pertanian di lahan luas disamping komplek. Dapur umum  besar yang memasok kebutuhan 4000 tentara yang sedang berjibaku di garis depan.


Aku merasa lebih bersemangat, kenapa? Mungkin karena kembali ke kota dan menempati gedung besar ini, setelah kurang lebih tiga bulan terjebak di kontainer dan daerah pedalaman. Plus harapan kota Tulsa dan Broken Arrow ini akan jadi shelter permanen setidaknya untuk sementara kami. Sebelum kami nantinya akan melanjutkan tugas ke kota pesisir timur yang sangat berat kondisinya. Sedangkan pesisir barat hanya satu kota besar yang terkena total tak bisa dihuni, dan sedang dalam pembersihan total seperti Black Arrow, begitulah yang terjadi setidaknya kami tidak jatuh total, pesisir barat bisa bertahan setelah berbulan-bulan.


Kekuatan milìter nampaknya memfokuskan barat dan tengah selesai sebelum kami beralih ke medan perang terberat kami pesisir timur.


“Dokter James, kau tidak makan  siang dulu? Sepertinya kontrol bilang tidak ada insident?”


“Oh baiklah.”  James terlihat stabil. Tapi sesuatu mengubahnya, kematian Ibunya dan kekasihnya disaat yang berdekatan membuat dia seperti lebih tenang, sekaligus terlihat lebih getir, kurang bisa tersenyum lagi. Dia melewati rangkaian kematian orang tercintanya.


Akupun mungkin akan jatuh ke wilayah  yang sama jika dikondisi yang sama. Walaupun semua kondisi  ini membuat semua orang  jarang tersenyum, merubah pandangan tentang dunia. Tapi ada sebagian orang seperti Noah tetap berusaha menyebarkan senyuman.


“James. Kau mau makan siang?” Fergie seorang dokter umum keluarga menyapanya, dia adalah dokter sipil yang bergabung di sini, melihat bahasa tubuhnya nampaknya ada sesuatu diantara mereka. Seperti pelepasan ketegangan mungkin, orang seperti James sangat mudah menarik  perhatian wanita. Sesuatu yang tidak bisa disangkal. Dan dimasa settle seperti ini melepaskan sedikit ketegangan memang diperlukan.


“Kau pergi dulu saja,  ada beberapa catatan yang harus  kutinggalkan soal pasien.”


“Baiklah, aku akan menunggumu.” Dokter Fergie pergi dengan senyuman di bibirnya. Tapi James bahkan tidak membalas senyumnya hanya melambai kecil padanya.


“Jen, tolong siapkan ini untuk Tuan Jonny di kamar 7.” Dia memberiku catatan obat yang harus diberikan kepada seorang prajurit cedera dalam tugasnya. Supply obat-obatan sangat jauh dari mencukupi, militer telah berusaha  menjalankan  kembali industri obat dan medis, tapi kami tetap berusaha setiap pasien sembuh.


“Oke Dok.” Aku melihatnya ekspresinya sebentar. “James, kau  baik-baik saja.” Dia melihat kearahku.


“Aku kenapa?”


“Entahlah, aku jarang melihatmu tersenyum belakangan.”


“Aku baik-baik  saja Toothsie, hanya terkadang terlalu pesimis melihat dunia. Tak ada hal yang perlu kau khawatirkan, terima kasih sudah bertanya.”Dan sebentuk kecil senyum muncul dibibirnya. Aku lega  melihatnya entah kenapa, setidaknya kami masih bisa  sedikit tersenyum satu sama lain.


“Aku tidak ingin bergabung dengannya. Aku akan mengambil makanan dan kembali kesini. Jika dia bertanya padamu, bilang aku sedang mengecek pasienku. Kau mau kuambilkan makanan.”


“Tak apa akan kuambil sendiri.”


“Baiklah.” Dia pergi kemudian. Meninggalkanku melihat punggungnya.  Benar nampaknya, dia jadi menghindari hubungan pribadi. Respon psikologis manusia memang berbeda-beda, ada yang mencari pegangan ke orang lain, ada yang mencari kekuatan dalam dirinya sendiri dan menolak membagi kesedihan dalam dirinya. Atau mungkin dia hanya takut kehilangan secara emosional lagi karena terlibat terlalu dekat dengan seseorang.


Sementara Andrew  dalam hampir seminggu sejak kepergiannya ini belum pernah kembali, kudengar dari Susan mereka memimpin salah satu group berisi 100 orang dan menyapu wilayah target mereka yang sudah dibagi-bagi.


Mereka mengatur sendiri operasi, mengatur daerah aman mereka sendiri dan membentuk keputusan mereka sendiri di wilayah  itu. Makanan akan di supply ke base mereka tiap hari . Wilayah Tulsa 520 kilometer persegi itu dibagi ke 40 gugus tugas yang terhubung ke komando utama. Dan mereka tinggal disana selama dua puluh  hari memastikan bahwa wilayah mereka itu bersih dan tak satupun infected tertinggal , sementara listrik dan air kota sudah dipulihkan kebih dahulu. Mereka akan baik-baik saja. Selama dua minggu  ini tak ada yang   cedera serius. Yang masuk ke kami kebanyakan adalah pengungsi yang kelelahan, terluka dan depresi.


“Susan, makan siang?” Noah yang ceria sekarang tiba didepanku menuju dapur umum diseberang sana.


“Ini dia  matahari yang tak pernah padam.” Aku selalu mengatakannya begitu. Dia selalu tersenyum dan terlihat bersemangat. Seorang perawat bernama Darcy mengengam tangannya. Dasar para pria ini tak menyia-nyiakan waktu rupanya untuk mencari hiburan.


“Matahari yang tak pernah padam...” Noah mengulangi kata-kataku.


“Dia memang matahari Jen,...” Darcy  menyetujuinyanya.


“Menjadi matahari itu baik.” Aku setuju soal itu. Apalagi untuk saat-saat seperti ini, perlu matahari untuk membuatmu melihat seberkas sinar.


Aku kemudian mendengar heli-heli penyerang berangkat di lapangan sebelah  timur. Beserta prajurit tambahan tampaknya juga bergerak. Apa ada situasi khusus. Aku mengangkat telepon ke ruang komando, ke seorang pertugas yang biasa bekerja dengan bagian medis.


“Tommy, apa ada situasi  khusus? Kenapa semua heli penyerang berangkat semua.”


“Mereka menemukan daerah terkonsentrasi infected, prajurit tambahan dan amunisi tambahan diberangkatkan ke daerah itu.” Rupanya begitu.  “Mungkin kalian harus bersiap. Ada gabungan dua tim plus tambahan satu tim lagi menerobos daerah ini, dan nampaknya ada infected pintar.”  Aku merinding mendengar kata infected pintar. Aku mendengar ceritanya dari D’Angelo saat mereka mengambil  alih sebuah gudang makanan di Springdale.


Bagaimana jika mereka menyusup melalui jaringan prajurit dan menemukan kamp ini.


“Baiklah, kami akan bersiap.”


Aku langsung memberi tahu semua staff medis kemungkinan kami akan menemukan situasi darurat melalui pengeras suara gedung.