
"Ya perjanjian tetaplah perjanjian." Aku mengangguk paham, tapi aku jadi mengetahui banyak hal dan berhasil menjebaknya kali ini dengan pembicaraannya sendiri.
"Mungkin Andrew menyesal. Mungkin setelah keadaan membaik dia akan mencarimu." Aku tertawa dengan kata-kata itu.
"Mungkin dia sudah kehilangan kesempatannya."
Setelah berbulan-bulan, ada lagi yang mengingatkanku pada Andrew, padahal sudah lama aku tak memikirkannya.
Ternyata dia masih memikirkanku.
"Aku harus tidur. Mungkin besok pasien lebih banyak lagi. Terima kasih sudah menemaniku makan Sir. Selamat malam."
"Malam."
\=\=\=\=\=
Kejadian aku bertemu Komandan Gillian di dapur umum sudah berlalu beberapa hari yang lalu. Tapi hari ini tiba-tiba Rosie menemuiku di Emergency zona merah saat shiftku hampir berakhir.
"Dokter Rosie?" Aku menatapnya berdiri di depanku.
"Aku boleh bicara padamu?"
"Bicara padaku? Soal apa?"
"Tidak di sini." Ini pasti karena Gilbert.
"Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan Dokter Rosie. Kau tahu kita di puncak kesibukan sekarang."
"Aku akan menunggu, jam berapa kau selesai." Aku menghela napas. Harusnya kulempar masalah ini ke sang komandan saja.
"Jam 8.30 oke." Tidak ada korban datang lagi nampaknya. Kami belum menerima konfirmasi kedatangan.
"Baik 8.30. Aku akan kesini lagi."
"Oke." Aku menghela napas melihat dia pergi. Sepertiku dulu yang patah hati. Kasihan dia.
"Hmm...tidak aku tidak kenal padanya. Itu hanya karena dia penasaran melihatku bicara dengan pacarnya."
"Siapa pacarnya?"
"Gilbert."
Dia diam, mungkin perlu berpikir siapa yang bernama Gilbert selain Gilbert Gillian.
"Maksudmu Komandan Utama Gillian?"
"Iya."
"Kau dan Gillian?" Aku melirik pada James, bukankah harusnya dia tak perduli. Atau sekarang dia terganggu. "Kau terlibat dengannya."
"Kenapa memangnya..."
"Kau yakin?"
Apa yang sebenarnya yang ingin dia katakan. Mungkin begini. 'Kakak tidak setuju, kau tak tahu dia itu playboy seperti Andrew. Bla...bla ...bla...'. Sudah kukatakan dia bukan Kakakku. Aku mengabaikannya. Dan pergi mengecek pasien. Dia akan bertanya lagi dan memastikan aku diceramahi panjang lebar. Mungkin aku kerjasama dengan Gillian saja membuat sandiwara. Sayangnya Gillian bukan orang yang bisa dimanfaatkan seperti itu.
"Aku pergi mengecek pasien." Dia hanya memandang punggungku di belakang kurasa.
Jam 8.30, aku bertemu Rosie. Lapar belum makan, akan kuselesaikan ini secepatnya. Sebelum dia bicara aku sudah bicara duluan di selasar remang-remang itu.
"Oke begini, biar aku bicara dulu Dokter Rosie. Aku tak punya hubungan apapun dengan Komandan Gillian. Hanya pernah bertemu dengannya 2x, dan itu kebetulan. Dan tidak tertarik punya hubungan dengannya. Soal hubungan kalian aku tak mau ikut campur. Dia hanya mengatakan padaku kalian punya perjanjian. Dan dari apa yang kutangkap nampaknya perjanjian tetap perjanjian. Sihlakan selesaikan masalah kalian sendiri. Aku tak ingin terlibat apapun. Aku lapar, ngantuk, kelelahan, shiftku dimulai lagi jam 7 besok pagi. Aku selesai dan tak mau terlibat. Selamat malam Dok."
Aku berbalik dan tak memberinya kesempatan bicara. Tapi nampaknya dia tidak mengejarku.
Lurus ke dapur umum yang tinggal beberapa orang. Mengambil makananku dan duduk dengan tenang.
Baru lima menit aku duduk dengan tenang seseorang duduk di depanku. Astaga, Komandan Gillian. Mau apa lagi dia? Baru saja aku diganggu oleh simpanannya sekarang dia sendiri