
"Sudah kubilang padamu, apa yang terjadi padaku bukan tanggung jawabmu. Yang kulakukan adalah murni karena aku ingin melindungimu. Tak ada hutang diantara kita, jika akau tak melakukannya aku akan menyesal seumur hidupku."
"Tetap saja aku merasa berhutang nyawa padamu seumur hidupku."
"Kau sudah membayarnya dengan menjagaku seminggu ini. Kita sampai di sini tak usah membahas hutang apapun." Dan mataku memanas ketika dia mengatakannya sambil tersenyum ringan dan tanpa beban.
"Kenapa kau baik sekali padaku sekarang. Dulu kau tak begini." Dia menghela napas mendengar kata-kataku.
"Aku terlambat menyadari aku mencari ke tempat yang salah sampai kau direbut yang lain. Seperti yang kubilang aku menyesal tidak memperlakukanmu lebih baik sebelumnya dan saat aku sadar kau sudah bersama yang lain. Tak salah kau tak bisa menerimaku, kesalahanku sendiri, selama ini kita lebih seperti teman baik bahkan keluarga dekat. Apa yang kukatakan padamu tiba-tiba seperti itu memang tidak adil. Aku memang payah. Sudah ku bilang itu satu-satunya penyesalanku jika saat itu aku mati." Dia malah tertawa kecil, aku diam tak bisa menjawabnya dan tak bisa membalas tatapannya.
"Sudahlah... Aku tahu pembicaraan ini memojokkanmu. Lupakan aku mengatakan ini." Dia menepuk lenganku lembut dan mengalihkan pandangannya, mengalihkan pembicaraan ke beberapa hal kemudian.
Andrew memang baik, aku tersentuh dia mengerti apa yang kurasakan soal pengakuannya yang tiba-tiba dan bersedia tidak memaksakan segala sesuatunya. Seperti yang dia katakan, hatiku sudah milik yang lain.
\=\=\=\=\=\=\=
Aku kembali ke Montreal, Bibi ada di rumahnya saat aku mengantar Andrew sampai ke rumahnya, ini memang kewajibanku.
"Sayang terima kasih kau sudah mengurus bayi besar ini. Bibi tahu kau yang terbaik dan bisa diandalkan."
"Bibi sudah kewajibanku, aku yang berhutang besar kepada Andrew."
"Hutang apa, dia melakukannya memang karena menyayangimu. Benar bukan anakku." Aku hanya bisa tersenyum tak tahu bagaimana harus menjawab ini.
"Baiklah, terima kasih sudah mengingatkan Bibi dia berniat untuk bekerja dengan kondisinya yang belum baik. Dia tidak akan kemana-mana sebelum dokter mengizinkannya."
"Andrew memang selalu mementingkan pekerjaan Bibi."
"Eliz, pulanglah." Dia menyuruhku pulang sekarang.
"Baiklah, jika kau butuh apapun, kau tahu dimana mencariku. Aku akan melihatmu besok." Bagaimanapun di depan Bibi aku harus bersikap lebih baik, Andrew terluka karena masalahku.
"Iya aku tak apa, kau tak usah khawatir. Pulanglah." Dia dengan baik hati mengusirku pergi.
"Kau bisa datang kapanpun kau ingin sayang. Menginapun boleh di sini, ini rumahmu juga." Bibi tersenyum padaku dan berharap sangat hubungan kami lebih dari yang seharusnya.
"Iya nanti aku pasti akan ke sini lagi Bibi. Aku pulang dulu. Andrew aku pulang." Aku hanya dalam posisi mengatakan aku akan datang lagi karena itu yang baru bisa aku janjikan sekarang.
"Iya pulanglah. Tak usah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja. Lakukan pekerjaammu."
Entah bagaimana aku bisa bertahan dari harapan Bibi, kuharap dia tidak memaksaku terlalu jauh, bagaimanapun ini perasaan pribadi kami. Walaupun Andrew mengerti, .... tapi jika dia memang bicara dengan Ibuku dan Ibuku mendukungnya, aku harus bersiap menghadapi kekecewaan banyak orang.
Kuharap Mom membiarkanku memilih sesuai hatiku.
\=\=\=\=\=\=\=\=