BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 49. 307 Carlyle Avenue 3


"Iya, aku tahu maksudmu." Tapi aku tahu yang dilakukannya adalah khusus untukku untuk membuatku istimewa. Aku harusnya menghargai itu.


Dia melanjutkan memotong sayur-sayuran yang dia perlukan untuk salad, sambil menunggu dagingnya mencair.


Jika mungkin dia menempatkanku begitu tinggi, mungkin di masa depan dia mempertimbangkan bagaimana perasaanku soal dia harus kembali ke Moskow, tak bisa aku yang langsung mengatakan hubungan kami mustahil karena aku tak mau pindah.


Mungkin, kami bisa mempertimbangkan lagi soal Moskow, aku tak tahu apa yang dia kejar, apa yang dia sedang perjuangkan. Dan untuk bisa bertanya soal itu aku harus bersedia membuat ikatan dulu dengannya, berusaha menemukan kesamaan jalan bersama.


Aku mengambil keputusan, Eliza bilang, cinta akan menemukan jalannya. Jika kami tak menemukannya yang penting kami sudah pernah berjalan bersama, itu lebih baik daripada menjadi pengecut dan hanya diam berharap semuanya akan berhasil tanpa usaha apapun.


"Biarkan aku memotong sayuran dan mengaduk saladnya."


Aku berdiri mengambil sisi yang sama dengannya. Dia melihatku, aku mengambil pisau dari tangannya.


Mangkuk bening salad itu berpindah padaku.


"Kau memakai merk apa untuk sausnya." Dia mengambil saus caesar saladnya.


"Aku memakai Cardini. Kau ingin ditambahkan ayam panggang?"


"Bagaimanapun kalau telur saja tanpa Ayam."


"Boleh. Kurebus telurnya sebentar." Dan pekerjaan dapur itu berjalan seperti kami berdua terbiasa melakukannya bersama.


"Svetluny, kau ingin blini?" Sebuah pertanyaan yang harusnya memerlukan jawaban serius jika itu adalah pertanyaan tersirat.


"Apa membuatnya mudah?"


"Tak lama itu hanya pancake."


"Ehmm ...boleh." Kali ini dia tersenyum. Dia langsung mengambil bahan yang dia perlukan, tepung buckwheat, terigu, ragi, susu hangat, mentega dan telur. Aku melihatnya bahkan hafal semua bahan yang dia perlukan.


"Ini perlu waktu untuk mengembang jadi aku akan membuat toping manis, untuk dessert nanti dengan cream dan selai buah berries." Aku mengangguk dan memperhatikannya mencampur tepung dan ragi, kemudian mengaduknya dengan susu hangat.


"Ditunggu berapa lama?"


"Kira-kira satu jam. Nanti setelah sejam aku akan membuat putih telur kocok, dan setelah mengaduknya dengan mentega dan telur."


"Ternyata cukup mudah. Aku bisa dengan mudah membuatnya sendiri nanti. Tapi terima kasih sudah membuatkannya untukku. Itu sangat baik hati."


Mungkin kata-kataku memang tidak jelas, dia masih binggung apa artinya. Tapi aku ingin menikmati moment ini. Aku kembali ke pekerjaan menyiapkan sayuran dan dia menyiapkan kentang untuk steak, pembicaraan tentang menyiapkan makanan ini menyenangkan.


Beberapa saat pasta dan calamari kami datang, salad sudah siap, aku sibuk mencomot makanan karena sudah kelaparan dan dia fokus pada pan panggangan steak.


"Makanlah." Aku menyuapkan pasta padanya. Dia melihatku dengan pandangan bertanya apa yang kulakukan, sebelum setuju untuk makan. Tapi biarlah, ini ternyata menyenangkan.


"Ada cream di bibirmu." Aku membersihkannya dengan tanganku, karena tangannya sibuk memegang steak. Dia melihatku dengan binggung. Aku menyukai bagaimana dia terlihat binggung.


"Tak apa nanti saja, kau makanlah."


"Buka mulutmu, ..." Tak mendengarkannya garpu pasta itu sudah ada di depannya lagi. Dan dia terpaksa membuka mulutnya. Aku tersenyum senang.


Tak lama steak kami matang dan aku duduk di depannya untuk makan. Walaupun tadi dia nampak mempertanyakan perubahan sikapku kali ini dia tidak menanyakan apapun, dia tetap dengan ketenangannya, membicarakan hal-hal ringan, bahkan kami sediki membicarakan soal Mexico.


Bertepatan dengan selesai makan, adonan blini kami sudah mengembang tinggal ditambahkan kuning telur dan mentega dan terakhir putih telur. Dan kemudian dipanggang di atas pan anti lengket. Aku memotong strawberry, kami menaruh krim diatasnya dan buah. Sebagian lagi di siram dengan maple syrup.


"Buka mulutmu, ..." kali ini dia menyuapkan pancake yang masih hangat itu. Hasil karyanya.


"Apa harus disuapkan begini?" Dia membuatnya dengan ukuran kecil kecil sehingga bisa habis sekali makan.


"Maksudnya..."


"Apa blini harus dimakan dengan saling menyuapkan?" Aku bertanya sambil tersenyum.


"Tidak."


Sebuah suapan lagi kuterima dan selanjutnya aku yang gantu menyuapkan padanya. Di moment itu dia pasti tahu ada yang berubah tentang kami.


Sekarang dia berpindah duduk di kursi sampingku. Dan menatapku dengan ekspresi seriusnya. Jantungku berdebar tak terkendali kali ini. "Senang bisa melihatmu lagi akhir pekan ini. Dan aku senang akhirnya kau ke sini." Kali ini dia memegang tanganku. Dia tak membahas alasanku tersesat di depan rumahnya. Tapi langsung pada kesimpulan. Semua tindakanku harusnya sudah mengatakan semuanya.


"Terima kasih makan malamnya." Aku melihat tangannya yang menggengam tanganku dan kembali ke matanya.


"Harusnya dari awal aku memikirkan bunga matahari." Aku tertawa sekarang, aku tahu dia hanya bercanda. Aku menerimanya bukan karena bunga matahari.


"Aku suka bunga mataharinya."


Dia menghela napas, melihat tanganku yang dia genggamannya. "Apa yang harus kukatakan padamu ?"


Dia malah bertanya padaku.


"Entahlah aku juga tak tahu. Kenapa kau malah bertanyan padaku."


"Jadilah kekasihku? Dulu kau yang membelaku sekarang ganti aku yang akan membelamu dari apapun sekarang." Aku tersenyum, itu sesuatu yang istimewa untuk didengarkan.


"Baiklah, aku akan jadi kekasihmu Tuan Mafia Rusia." Dia menatapku tapi tak melakukan apapun, tidak memeluk, mencium hanya menatapku dan memegang tanganku.


"Aku sangat senang mendengarnya, aku juga ingin jadi kekasihmu, tapi sayangnya aku mungkin tak bisa menjadi kekasihmu sekarang." Aku tertegun.


"Apa maksudmu? Kenapa tak bisa? Apa dia mempermainkanku.


💙💙💙💙💙


Bersambung besok----