
POV Alexsey
Margarita ini sangat berani! Ular tua ini memang perlu diberi pelajaran. Tak bisa bersaing dengan jalan yang benar dia malah mencari masalah dengan kekasihku.
"Metode yang sama Sir.. Seseorang dengan indentitas kabur memberi perintah ke pelaksana lapangan dan membayar dengan bank crypto." Kepala pengawal yang ditugaskan memberikan detail interogasi padaku.
"Apa perintahnya?"
"Perintahnya adalah detail photo dan aktivitas harian selama 15 hari. Tapi tidak ada tindakan lain Walaupun dia bertanya kepada mereka berapa harga membuat tindakan.
"Hmm baiklah, untuk sementara yang akan mengawal Nona Monica dua orang. Pukul mereka sampai babak belur, katakan jika mereka berani kembali di masa depan tak akan ada pengampunan apapun."
"Mengerti Sir."
Setelah meredam kemarahanku sekarang aku bergegas menelepon ular tua ini. Mungkin ancaman tidak bisa berguna lagi melawan Jovovich ini.
Setelah dua deringan dia langsung mengangkat teleponku.
Sebelum aku bisa bicara, ular tua ini sudah bersuara keras.
"Apa lagi?! Barusan kakak kekasihmu meneleponku dan menuduhku macam-macam. Sekarang kau lagi! Kalian menuduhku tanpa bukti, bisa jadi itu musuhmu sendiri atau keluarga pacarmu yang bermasalah! Kau sekarang menjadikanku kambing hitam?! Aku sudah lelah kalian pojokkan!" Semburan kemarahan itu membumbung tinggi tanpa meninggalkan kesempatan untukku mengucapkan satu katapun.
Aku diam dengan rasa kemarahan Margarita. Sesaat ragu, apa dia benar-benar tidak tahu apapun soal ini. Tapi apapun itu metode yang dipakai oleh orang ini sama. Tapi mungkin saja ular tua ini berakting seperti yang biasa dilakukannya. Mempercayainya sama saja dengan kebodohan.
"Kau tak usah marah-marah seperti orang gila, kali ini aku tak akan mengampunimu lagi. Tidak bisa menjangkauku kau menggangu kekasihku. Kau benar tercela!"
"Siapa yang menggangu kekasihmu ban*gsat! Aku punya banyak urusan daripada menggangu kekasihmu!" Dia masih mengamuk dengan nada tinggi.
"Kau pikir aku akan percaya pembelaanmu?"
"Kau tak punya bukti apapun! Kau menjadikanku sasaran tembak! Jika kau di depanku sekarang aku akan mengadu nyawa denganmu!" Ular tua ini masih melawanku seperti dia sama sekali tak bersalah.
"Kau selalu berdalih aku tak punya bukti. Jika aku tak punya bukti jangan pikir aku tak bisa melakukan sesuatu padamu. Keluargamu sudah terlibat terlalu jauh, aku akan minta ke Vladimir bicara ke menteri pertahanan dan menyeret nama keluargamu terang-terangan."
"Kau punya hubungan ke Menteri pertahanan? Jangan membuatku tertawa. Kau bahkan hanya melewatkan seminggu dari sepanjang tahun di Moskow." Dia tertawa, meremehkan ancamanku.
"Ohh kau mungkin lupa siapa yang berjasa menemukan formula obat infected. Siapa yang membawa kejayaan untuk Rusia. Bagaimana jasaku tak dianggap dan namaku tidak dikenal. Bahkan Ayah mendapat nama sendiri karenaku. Sekarang bukan hanya Jovovich yang punya nama di Kremlin, tapi juga Mashkov."
Dia diam sekarang, tahu apa yang kukatakan benar. Aku tidak perduli keuntungan perusahaan itu, bahkan Ayahpun tidak, perusahaan itu hanya jalan bagi Mashkov untuk menorehkan nama lebih dalam lagi di Kremlin. Jika dulu mungkin kami hanya dikenal karena satu Paman kami pernah duduk menjadi menteri, sekarang orang militer juga mengenal kami, bahkan Ayah punya kesempatan bertemu Presiden karena aku.
"Ayahmu tak akan mau mengungkap aib keluarga! Dan aku tak pernah mengusikmu! Kau sengaja menjadikanku kambing hitam! Tindakanmu sangat tercela! Siapapun bisa membayar dengan crypto bank, termasuk kau, kau ban*gsat licik!"
"Sayangnya kau tak bisa mengelak ketika nomor yang memberi perintah itu diaktifkan dari area kantor keluargamu. Kau pikir aku akan percaya semua sandiwaramu!" Nadaku juga naik saat ular tua ini sangat berkeras bahwa dia tidak melakukannya.
"Apa?" Nada suaranya langsung turun. Hal ini tak pernah diungkap, nomor yang hanya dipakai sekali itu jelas menunjukkan area di mana kantor keluarga Jovovich.
"Aku tak pernah..." Tiba-tiba dia diam diujung sana. Reaksinya langsung memicu beberapa pikiran di benakku. Dia terdiam sesaat sebelum bicara lagi. "Kau memang mahir mengarang cerita. Jikapun itu datang dari area kantor keluargaku, itu tak bisa dihubungkan langsung."
"Oh, aku mahir mengarang cerita..." Jadi dia memang tidak tahu?
Selama ini aku berpikir memang ular tua itu yang merencanakan menyerangku. Tapi dia berkeras bukan. Jadi jika bukan siapa? Anak emas itu? Sergie? Aku tidak pernah berpikir seperti itu.
Tapi nampaknya aku harus berpikir kembali.
Dia berpikir aku sengaja mengarang cerita ini dengan mengatur orang menabrakku, dan aku berpikir dia bermain drama berbohong seperti biasa. Ternyata dia memang tak tahu, dan Sergie bertindak sendiri. Ini kejutan, tak kusangka aku menemukan hal seperti ini...
"Kau jangan mengangguku lagi, aku muak dengan ocehanmu." Dia sesaat merendahkan suaranya.
"Jadi jika bukan kau siapa yang mengatur semua ini."
"Kau punya banyak musuh rupanya. Mana kutahu siapa yang membencimu dan dengan siapa kau membuat musuh. Kau baru saja diblack list pemerintah US, musuhmu lebih banyak dari semua orang. Tapi yang jelas adalah adalah kau menjadikanku kambing hitam." Walaupun dia tadi menangkap bahwa kemungkinan Sergie yang melakukannya dia tetap melakukan drama seperti biasa.
"Mungkin yang memerintahkan ini Sergie bukan..." Aku memancingnya untuk mengaku sekarang.
"Jangan berani-berani kau menyebut anakku!" Nadanya langsung membumbung tinggi lagi.
"Jika bukan kau berarti Sergie. Itu mudah. Siapa lagi yang punya akses ke Paman Besar KGBmu." Kakak pertama Margarita, menjadi kepala KGB, itu posisi yang bisa memerintahkan banyak hal. Kakak kedua dan ketiganya adalah pengusaha yang menjalankan bisnis keluarga, yang sekarang hampir bangkrut dan mengandalkan kredit lunak dari Ayah.
"Bangsat kau! Jika kau berani menyebut Sergie, aku sendiri yang akan ke Montreal dan membunuhmu."
"Seperti kau punya kemampuan saja Ibu tersayang. Jika Sergie memang melakukannya dia memang punya nyali. Mau membunuhku? Sangat serius. Tapi sayangnya karena diancam Ayah jika sesuatu terjadi padaku dia tidak mendapatkan apapun dia tidak bisa melakukan itu lagi. Sekarang dia menyasar kekasihku."
"Sialan kau! Kau memang pengadu domba. Jika kau berani..."
"Aku berani, jika kau tak ingin aku mengadu pada Ayah bilang pada anakmu untuk menyingkir dari kekasihku. Jika tidak akan kuseret keluargamu lebih jauh, dan ingat kau masih perlu perlu kredit lunakku, jangan sampai aku mempersulit kalian."
"Kau bergaya seperti kau sudah memegang pimpinan."
"Aku sudah mengatakan yang ingin kukatakan. Jika ada kejadian lagi jangan salahkan aku melakukan ancamanku. Aku tak pernah bermain curang, tapi kalian memang bangsa*t. Kali ini tak kusangka adik tersayangku berani bertindak sendiri, nampaknya kau harus bangga dengan didikanmu..."
"Sudah kubilang aku tak terlibat!" Tak ada gunanya melanjutkan ini.
"Bilang ke Sergie jangan macam-macam! Jika tidak akan kuambil tindakan untuk menyeret kalian semua! Camkan itu!"
Dan dengan kata terakhir itu aku menutup telepon.
Sergie Mashkov, hari ini aku tahu kau maju sangat jauh. Lain kali kita bertemu Kakakmu ini akan memberimu pelajaran dengan tanganku sendiri.