
❤💙 ***Gengs Bab yang kemarin double udah diperbaiki yaa Bab 177...178
Kalian balik dulu ya ke bab sebelumnya*** ❤❤❤💙
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Itu bagus, nampaknya dia menemukan seseorang yang tepat. Aku turut senang untuk kalian."
Kata-kata Fred terdengar seperti sebuah ironi takdir. Kami tak di takdirkan bersama setelah berpisah. Tapi ditakdirkan menemukan kebahagiaan bersama yang lain.
Ini jalannya. Sudah ditetapkan. Tak bisa dirubah lagi, satu sama lain hanya harus menerima kami sudah bahagia dengan keadaan yang telah berjalan.
"Kau juga tampak sehat, kau akan segera punya bayi, sesuatu yang kau inginkan dari dulu, keadaan akan semangkin baik, kau beruntung." Aku memberinya selamat.
"Kalian tak ingin mengobrol berdua, pergilah berjalan-jalan, kalian sudah lama tak bertemu." Tiba-tiba James mengatakan itu padaku.
"Tak usah..." Aku bersamanya sekarang, tapi dia memotongku.
"Tak apa Jen, kalian sudah lama tak bertemu, aku di sini tak kemana-mana." Dia memberiku kesempatan untuk bicara dengan Fred. "Pergilah..."
"Baiklah, aku akan memastikan dia diantar ke sini lagi. Jen?" Fred mengajakku berjalan.
"Tunggu aku di sini, kau berjanji tak pergi bukan."
"Aku tak akan pergi. Kau tahu itu." Entah kenapa mendengarnya terasa melegakan.
"Kalau begitu aku pergi sebentar." Dia mengangguk.
Aku dan Fred pergi sekarang. Aku dan Fred berjalan di keremangan malam, lampu-lampu jalan menyinari kami. Perasaanku sebenarnya kacau.
"Aku minta maaf."
"Fred tak ada yang perlu kumaafkan. Sudah takdir kita. Yang pasti aku senang kau baik-baik saja."
"Kau sudah lama mengenal James?"
"Dia, sahabat kakakku, dulu tetanggaku, aku mengenalnya dari 4 tahun kurasa."
"Kau mendapat seseorang yang sangat mengerti dirimu. Aku senang kau baik-baik saja akhirnya. Jen yang kukenal akan bertahan melalui apapun. Aku yakin itu..." Mataku memanas sekarang.
"Kau jahat ..." Dan tanpa bisa kutahan, air mataku mengalir begitu saja. Dia menarikku ke dalam pelukannya.
"Aku tahu, aku jahat. Maafpun tak cukup untukku, kau boleh memaki, memukul, apapun yang kau inginkan. Kau benar aku jahat...aku berjanji akan kembali.. tapi aku mengingkarinya. " Aku menggeleng, tak sanggup bicara hanya air mataku yang terus mengalir dan dia yang memelukku terlalu erat sekarang.
"Aku hanya...." Aku tak tahu kenapa aku berkata begini, harusnya aku gembira, tapi di saat yang sama aku juga merasa takdir kami tak adil.
"Aku tahu.... Tak usah katakan apapun aku tahu." Ketika akhirnya aku bisa memeluknya lagi keadaan tak lagi sama. Sesaat kami hanya saling memeluk dan menangis.
"Istrimu pasti cantik..." Dia tertawa sedih dalam isakannya sendiri, rupanya kami sama-sama menangisi pertemuan kami ini.
"Pacarmu juga level tinggi." Ganti aku yang tersenyum.
"Aku senang... Aku baik-baik saja, kau tak usah khawatir. Kita akan baik-baik saja." Dia mengelus kepalaku membuat aku menangis lagi. "Aku tak tahu kenapa aku menangis begini. Jangan perdulikan aku, ..."
"Aku tahu." Aku mencoba tersenyum padanya.
"Kau tak membuka bengkel lagi?"
"Iya aku akan buka bengkel, pasti banyak mobil rusak setelah bertahun-tahun." Aku tertawa.
"Kau pasti akan berhasil seperti biasa."
"Aku benar-benar senang kau sekarang terlihat baik-baik saja. Jika di masa depan kau butuh bantuan telepon saja aku. Ohh ya aku belum punya sekarang." Dia jadi binggung.
"Ini nomorku, aku orang penting sekarang." Kuberikan nomorku padanya. Fred tertawa.
"Baiklah kau orang penting. Aku akan memberikan nomorku padamu begitu aku punya nomor."
"Kapan kau kembali ke Dallas?"
"Setelah Mom siap, aku baru datang dua hari yang lalu." Aku mengangguk.
"Baik-baiklah di sana. Aku begitu senang bisa melihatmu lagi, entah kenapa aku selalu punya perasaan kau masih hidup, walaupun Ibumu mengatakan padaku untuk merelakanmu. Kini aku tahu aku benar."
"Aku berharap kau bahagia dengan James. Dia kelihatan sangat gentleman. Bahkan membiarkan kita bicara begini."
"Dia tahu aku menangisimu berbulan-bulan. Dia memang terlalu baik."
"Aku senang mendengarnya." Kami bisa sama-sama tersenyum setelah bicara begitu banyak sekarang.
"Jangan mengingatku, jangan menyebutkanku pada istrinu, nanti istrimu cemburu." Dia tersenyum.
"Kalau begitu kita harus pulang, James juga menunggumu."
Kami akhirnya berjalan pulang.
James masih di sana mengobrol dengan Ibu dan Ibu Fred. Dia tersenyum melihat kami kembali. Aku kembali ke sampingnya, mengenggam tangannya.
"Mom lebih baik kita kembali ini sudah malam."
"Baiklah."
"Brother, senang berkenalan denganmu. Jika ada kesempatan kita bisa mengobrol lebih banyak di masa depan. Aku harus kembali ke Dallas." Fred dengan gentleman mengembalikanku ke James.
"Tentu saja. Berhati-hatilah dalam perjalanan."
"Jen, aku pergi. Baik-baiklah."
"Kau juga. Jaga dirimu."
Kami saling melambai satu sama lain. Dia baik-baik saja, senang melihatnya baik-baik saja akhirnya.
"Kau baik?" James melihatku.
"Aku baik. Senang melihatnya baik-baik saja... Aku punya kau di sini. Ini sudah takdir."
"Aku memang akan tetap di sini."
Aku tersenyum padanya. Dia masa depanku sekarang, aku percaya tak ada takdir yang salah. Kami hanya harus menjalani sebaik-baiknya.
💜💜💜💜💜💜
😁😁 FRED UDAH PULANG PEMIRSAAHHH
Takdir mak otor udah tergenapi 😜😜😜🤣
Tinggal menutup Season 1
maap yang belum follow IG mak follow dong
IG: margaretraegis