BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 164. Always With You 2


"Sebulan yang lalu, Ibumu meneleponku." Aku berhenti, matanya langsung tertuju padaku karena ini menyangkut Ibunya.


"Bibi bilang, dia ingin menitipkanmu padaku kalau sesuatu yang buruk menimpanya."


"Apa maksudmu sesuatu yang buruk?" Sekarang dia duduk tegak.


"Kau tahu kebiasaan buruk Ibumu. Sekarang itu berdampak pada kesehatannya." Dia melihatku, aku tahu dia mengerti apa maksudku. Pasti dia bisa menebaknya.


"Sirosis..." Sekarang dia meremas tangannya dengan cemas. "Bagaimana kondisinya ...apa dia ... kenapa dia berkata dia menitipkanku." Dan Jen mulai terisak sekarang.


"Aku sedang mengusahakan kau bisa pulang menemuinya. Sebulan yang lalu aku benar-benar tak punya cara. Tapi sekarang aku bisa meminta izin. Peluang terbaiknya hanya transplantasi, sekarang donor tak mungkin bisa dicari. Dokternya bilang kemungkinan besar kau bisa menjadi donor karena golongan darah kalian sama. Tapi kau harus ada di sana, aku akan mengawasi perkembangannya dari sini."


"Bagaimana aku bisa pulang, kau tahu kita tak mungkin punya izin pulang."


"Sekarang sudah berbeda, kau tak mendengar cerita Gilbert, mungkin kita bisa deklarasi total green zone sebelum akhir tahun, dan kemungkinan bisa izin pulang segera. Tapi aku mengusahakan secepatnya, aku sudah meminta izin khusus kau di tempatkan di El Paso lagi dengan menceritakan kondisimu ke Professor Hans, assistennya pernah di selamatkan olehmu jadi dia mengizinkan sebagai balas budinya. Dan Gilbert mungkin bisa mengatur menitipkanmu ke pesawat transport militer ke El Paso."


"Dia sakit begitu siapa yang merawatnya? Kenapa dia tidak pernah cerita apapun, malah dia menitipkanmu."


"Di rumah Ibumu menerima pengungsi, mereka membantu merawat Ibumu. Mengantarkannya ke dokter dan semuanya. Dokter juga memantau kondisinya secara berkala." Aku menepuk tangannya yang sekarang dingin. "Ibumu tidak ingin kau cemas dan sedih, dia bilang seumur hidupnya dia telah membuat kesalahan dengan mengabaikanmu. Dia tidak ingin kau merasa cemas tidak bisa melakukan apapun untuknya, karena dia tahu, kau juga tidak bisa kembali walaupun kau ingin. Jadi dia memilih cara ini, dengan tidak memberitahumu apapun."


"Dia masih bisa tertolong bukan? Kau bicara dengan dokternya?"


"Angka keberhasilan transplant liver tinggi, semoga kau cocok. Dan kalian diberi waktu lebih lama bersama. Kita berusaha oke, yang terbaik... Dengan obat yang sudah perlahan kembali ada dokter bilang saat ini transplant mungkin bisa dilakukan."


...----------------...


** Transplantasi Liver bisa dengan menganti sebagian jaringan, jaringan liver (hati) pendonor hidup bisa tumbuh dan pulih kembali walaupun telah di donorkan sebagian.


Bisa juga dengan donor full, yang mengambil dari organ orang yang sudah meninggal.


...----------------...


Dia duduk diam disana. Meremas tangannya dengan khawatir.


"Kau jangan membuat Ibumu khawatir. Nanti setelah kita punya schedule perjalanan. Kau boleh memberitahunya. Aku sudah bicara dengan dokter yang merawatnya, dia bilang Ibumu menuruti semua pengaturan dokter untuknya, dia tahu menjaga dirinya sendiri. Dia juga punya teman sesama pengungsi yang merawatnya dengan baik."


"Benarkah, mereka tetap saja orang luar."


"Lalu benarkah aku bisa pulang, Gilbert benar bisa mengusahakannya?"


"Sedang diusahakan oke. Kau harus sedikit bersabar. Gilbert mau membantu kita..." Dia terlihat sedikut menghela napas lega.


"Aku selalu menyusahkanmu bukan." Dia menunduk seperti anak yang bersalah. Aku tersenyum padanya, seperti yang kuharapkan dia mengerti apa yang aku lakukan.


"Tak apa Tootsie. Kapan aku pernah pergi dari sampingmu." Dia memandangku sekarang, menyeka air mata kekhawatirannya. Mungkin bertanya apa arti perkataanku barusan.


"Apa artinya itu? Kau berjanji tidak akan pergi? Kau berjanji akan di sampingku?:


"Aku tak akan pergi kemanapun."


"Kau tidak perlu terbeban dengan perkataan Mom. Kau sudah melakukan banyak hal. Sebulan ini aku sudah belajar tidak berharap padamu." Dia tertawa kecil dengan leluconnya se tapi air matanya mengalir lagi. Aku tak tahan melihatnya, kupeluk saja dia sekarang.


"Tootsie yang keras kepala, kau pernah merasa aku menjadikanmu beban? Jika aku akan menjadikanmu beban kau akan berakhir seperti Michelle. Kau akan baik-baik saja." Dia malah tambah menangis. "Apa yang kau tangisi."


"Kau memang menyebalkan." Dia memukulku. Dia masih kesal karena aku bungkam saat dia bersama Gilbert.


"Maaf, aku membiarkanmu memainkan drama itu. Saat itu aku pusing bagaimana menanggapi permintaan Ibumu. Jika kau tahu kau akan membenciku, tapi keinginan Ibumu bisa kupahami. Baru beberapa hari ini aku menemukan cara memulangkanmu. Dan aku baru berani terus terang sekarang."


"Kau menahan semua ini sebulan!"


"Iya-iya baiklah aku salah. Tapi seperti yang kubilang, ku tak pernah meninggalkanmu."


"Aku akan pulang sendiri ke El Paso? Aku harus menghadapi ini sendiri juga. Tapi demi Mom...Aku senang aku masih punya kesempatan ini. Terima kasih. Kau memikirkan semuanya."


"Kau tak usah berterima kasih. Jika aku punya kesempatan kembali, aku akan langsung kembali. Kau dengar kata Gilbert bukan, mungkin sebelum akhir tahun aku bisa kembali. Yang penting kau dapat kembali ke Ibumu, memastikannya tak merasa sendiri dan membantunya melewati ini."


"Iya. Semoga Gilbert bisa mendapatkannya secepatnya." Dia melihatku. "Kenapa rasanya aku lebih menganggapmu seperti kakak bukan kekasih." Sekarang aku tertawa.


"Mungkin karena aku juga memang menganggapmu adik kesayangan dari dulu."


Dia memang adik kesayanganku. El Paso telah mempertemukan kami kembali dua tahun lalu. Dia telah membuatku punya sesuatu untuk dilindungi lagi. Punya tujuan lagi, saat ku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi.


Dan kali ini aku mengakuinya, aku tak bisa lagi kehilangan Tootsie kecilku.