
Akhir pekan yang lain di Montreal,
Saat mataku terbuka dia tidak ada di sampingku. Tak biasanya dia terbangun di jam seperti ini. Aku mencari ke ruangan depan. Kupikir dia pergi tapi ternyata dia ada di sini.
Dia tampak duduk sendiri dengan kopi di tangannya. Aku pasti memberinya saat yang berat. Dia sangat ingin kembali ke Moskow dan aku menahannya disini.
"Kau sudah bangun." Dia mengulurkan tangan menarik aku dalam pelukannya.
"Kenapa kau duduk sendiri di sini." Dan aku merasa bersalah sudah menjadi penghancur cita-citanya.
"Tak apa hanya menikmati waktu sendiri. Kita jalan-jalan hari ini?"
"Kau tak ada pekerjaan menunggu?"
"Tidak."
"Baiklah."
Aku tidak mencoba mengingatkannya masalah apapun, hari ini besok dan seterusnya. Aku sudah mengatakan apa keinginanku. Masalah keputusannya akan berada di tangannya.Dan tiga bulan kemudian aku akan menagih jawabanku.
Selama minggu-minggu berikutnya aku bersikap seperti itu, seperti tak ada apapun terjadi. Alexsey juga tak membicarakannya.
Kami bersikap seperti tidak ada yang terjadi. Aku mencintainya dan saat ini membuatku seperti menikmati saat-saat terakhir bersamanya. Sangat menyedihkam membuatku menangis di malam-malam yang tak terhitung jumlahnya.
"Nona Monica, ...selamat sore." Tapi satu saat kemudian Anna meneleponku.
"Anna? Apa kabarmu?" Aku tak tahu kenapa dia meneleponku saat ini. "Ada apa? Ada sesuatu yang bisa kubantu? Alex baik-baik saja?" Langsung kupikir ada yang terjadi karena tak biasanya Anna meneleponku.
"Tidak. Bukan sesuatu yang bisa kau bantu, tapi belakangan aku menemukan bossku sering melamun dan seperti harinya sangat buruk. Apa kau tahu kenapa? Bukankah kalian baik-baik saja." Anna perhatian ke Alex, dia yang ada di sampingnya pasti melihat perubahan drastisnya.
"Hanya sebuah persoalan kecil. Nanti juga dia akan melupakannya. Apa dia tidak cerita sesuatu padamu?"
"Benarkah. Belakangan nampaknya seperti dia ditimbuni sesuatu masalah besar. Aku bertanya padanya dan dia tak mengatakan apapun." Anna tak percaya tentu saja.
"Hmm, apa yang bisa kukatakan Anna. Aku tak berdaya. Jika dia mau cerita padamu mungkin kau bisa memberinya saran, kau teman baiknya. Tapi mungkin di masa depan kami tak akan bersama lagi." Aku membukanya kepada Anna karena aku berharap Anna bisa memberikannya sudut pandang yang lain, Anna pasti mengerti apa yang kuminta.
"Apa?! Kenapa?! Dia tak main perempuan, aku tahu siapa dia, tak mungkin dia macam-macam padamu, dia mencintaimu, kenapa kau meninggalkannya? gadis mana yang membuatmu marah? Aku akan pergi menghajarnya sendiri." Aku tertawa sekarang, Anna begitu bersemangat.
"Tidak, aku tahu dia tidak berkhianat seperti itu. Bukan seperti itu, persoalan lain. Ini perbedaan prinsip yang tak bisa didamaikan. Kau bisa tanya sendiri padanya. Mungkin dia bisa cerita padamu." Aku menghela napas panjang. "Anna jika kami berpisah nanti, tolong lihat bossmu itu sedikit, mungkin dia akan melakukan hal bodoh..." Anna diam dengan kata-kata sedihku.
"Ya Tuhan Monic, kupikir kalian akan terus bersama dan menikah. Alex sangat mencintaimu, aku tak mengira kalian punya masalah begitu besar." Apa yang bisa kukatakan lagi, aku sudah memberinya batas waktu dan itu akan berlaku sebentar lagi.
"Anna, tolong perhatikan dia ..."
"Kau harusnya menjaganya sendiri, aku tidak dibayar untuk jadi psikolognya." Anna membuatku tertawa sekarang. Tertawa sedih, aku harus menitipkan kekasihku padanya, karena sebentar lagi aku akan menghilang dari pandangannya.
"Minta naik gaji, psikolog itu mahal." Aku mencoba tertawa walau itu getir.
"Kuharap ini tidak terjadi apapun pada kalian Monic, dia sangat mencintaimu, kulihat itu dari sejak pertama kalian bertemu, kau satu-satunya yang bisa membuatnya mengejarmu sampai kau menerimanya..."
"Aku tahu, tapi cinta saja tak cukup, aku lebih berharap bantuan untuk menjaganya darimu Ann, aku tak ingin membuatnya sedih, tapi semuanya sudah ditakdirkan begitu."
"Monic, ada apa sebenarnya dengan kalian."
"Tanyalah Alex, mungkin dia mau memceritakannya."
Pembicaraan yang begitu menyedihkan. Aku berharap aku cepat melewati masa-masa ini. Rasanya sangat melelahkan harus menangis setiap hari dan melihat awan kelabu menutupi hariku.