BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 79. Little Rock 5


"Menjauh!" Aaron yang langsung bergerak memukul salah satu dari mereka dari bak truk. Sopir yang mendengar keributan berlari dengan pemukulnya sendiri.


"Aku spontan berteriak karena kaget tadi maafkan aku." Tiga sopir yang tinggal di truck membantu mengeroyok dua infected itu sampai mereka tidak bergerak lagi. Sementara pasukan mungkin sudah bergerak beberapa ratus meter di depan kami.


"Kita harus berjaga, jika ada yang datang lagi tapi satu tinggal untuk mengawasi radio. Nona, kau mengawasi radio oke, kami menjaga empat arah. Jika tidak kita tidak akan melihat ada bahaya datang." Seseorang memberikan usul.


"Aku setuju." Sopir yang lain menyetujui.


"Tuan kau bisa membantu berjaga?"


"Tentu, aku baik." Aaron nampaknya sedang tidak dalam demam sekarang. Dia bisa menghajar orang itu walaupun dia positif terkena parasit itu.


"Baiklah, kita berbagi daerah pengawasan oke." Aku diajarkan mendengarkan radio dan membalasnya jika perlu.


Percakapan perintah dari pimpinan unit kemana mereka harus mengarah terdengar di depanku. Mataku melirik spion kiri dan kanan, tak mau mendapatkan kejutan yang tak kuinginkan lagi.


Waktu terasa berjalan lambat. Di ujung spionku salah seorang tentara memukul kepala infected yang berlari tertatih-tatih ke arahnya. Infected itu rubuh tak bergerak lagi karena otaknya remuk.


Infected yang sudah lama tak mendapatkan asupan makanan mudah dihadapi, asal kau jarang mendapatkan infeksi karena bersentuhan dengan cairan tubuhnya secara langsung. Entah darah atau cairan menjijikkan lainnya. Tapi tidak akan tertular jika hanya terkena kulit.


Rupanya memang ada yang terpancing karena keributan barusan. Akan ada yang lain.


Detik berikutnya yang lain juga terlihat waspada salah satu prajurit memberi tanda 3 setelah mengintip di sebuah belokan. Tapi dengan tangan digenggam tanda mereka harus menunggu. Aku juga menunggu dengan menahan napas.


Dua orang prajurit lainnya, bergabung dengan prajurit pertama. Sementara Aaron diperintahkan menjaga sisi lainnya.


"300 meter utara, kita tak bisa lewat situ, itu kantong infected." Radio berbunyi dengan kabar menakutkan. Yang berarti kami harus mencari jalan lain.


"Beralih ke sisi selatan, lihat apa kita bisa lewat."


Sementara tiga orang prajurit lainnya sudah bersiap di sisi tersembunyi untuk menghabisi infected yang akan datang itu. Dan detik berikutnya tiga orang itu sudah sibuk menghajar tiga infected itu.


Dan nampaknya mereka akan lebih sibuk lagi. Di sisi lain dua infected datang berlari menghampiri mereka, Aaron bersiap satu orang yang sudah selesai datang membantunya sekarang. Pertarungan brutal itu selesai dalam sepuluh detik kemudian.


"Kami disini baik, saya perawat Jen, yang lainnya menjaga parameters, tapi ada 6 infected mendatangi kami. Tapi semua bisa diatasi Capt."


"Kabarkan kami jika kalian butuh bantuan."


"Mengerti Capt."


Keadaan menjadi tenang kembali sekarang. Tak ada pergerakan selama beberapa saat. Sebelum aku melihat mungkin puluhan, kurasa tiga puluhan di depan kami dari kejauhan berjalan tanpa arah muncul dari arah kiri belokan. Kami jelas tak bisa menghadapi ini hanya berempat.


Seorang sopir pindah dan masuk ke mobil hampir tanpa suara.


"Lapor Capt, di depan kami ada mungkin sekitar 30 infected berjalan lambat. Kami harus meninggalkan tempat dan bersembunyi sampai mereka lewat dulu."


"Mengerti. Kami belum bisa memutuskan rute. Bersembunyilah dulu. Matikan radio di mobil dan beralih ke mobile agar tidak menarik perhatian."


"Mengerti. Out."


"Nona kita keluar bersembunyi." Dia mematikan radio dan kami perlahan-lahan keluar, dia memberikan tanda kepada temannya untuk mematikan radio dan bersembunyi."


"Kita ke bangunan itu?" Teman-temannya setuju. Aku dan Aaron mengikuti mereka. Kami di sebuah jalan dengan banyak pertokoan yang di tinggalkan. Ada sebuah sudut yang dulunya mungkin taman kecil yabg sekarang berubah menjadi taman rimbun tak terawat, tanaman rambatnya memungkinkan kami menyembunyikan diri kami.


"Kita tunggu mereka lewat saja?" Aku bertanya kepada salah seorang prajurit.


"Iya, sia-sia kita membuat keributan. Rute belum diputuskan, lebih baik tidak menghabiskan amunisi sebelum mencapai pinggiran Little Rock."


Kami merunduk diam, mengintip sambil menahan napas mereka yang lewat di samping kami dengan langkah-langkah perlahan mereka. Benar saja mereka terus melangkah tanpa melihat ke arah kami.


Hampir selesai kami melangkah, sebelum kami mendengar tembakan di lepaskan di kejauhan. Sial aku kaget, apa ada anggota kami yang memulai menembak. Apa mereka berani mulai menembak? Bukannya itu malah mengundang bahaya. Beberapa saat kemudian rentetan tembakan terdengar lagi.


"Siapa itu?"