
Nampaknya semua berakhir dengan baik setelah aku bertemu Svetluny. Itu sesuatu yang membuatmu merasa bersyukur.
Moskow tak lagi menjadi tujuanku, walaupun tujuanku berubah, hanya mengèjar kemenangan di atas kertas tapi rasanya tidak ada yang hilang. Semuanya lebih membahagiakan.
Minggu pagi bersama Svetluny, setelah dia pulang dari Milan ini adalah Minggu biasa, tapi terasa istinewa, hanya dengan kopi dan sarapan, duduk bersama bicara hal yang seserhana, ini membahagiakan setelah beberapa bulan yang lalu aku kehilangan kehadirannya.
"Kau tak akan pergi lagi bukan?"
"Tidak, hanya mungkin beberapa pekerjaan di NY, aku tidak ke Eropa lagi."
"Baguslah jika begitu, aku tak akan kehilangan kau lagi."
"Jangan berlebihan Tuan Mafia."
"Aku tak berlebihan, aku hanya ingin menghabiskan akhir pekan seperti ini denganmu."
Dia hanya tersenyum dengan kata-kataku.
"Makan sarapanku, kau hanya sedang merayuku." Menyuapkan potongan toast ke mulutku, aku tahu dia senang kurayu.
Sekarang ponselku berbunyi, nomor ini? Nomor Sergie? Apa perlunya lagi denganku.
"Kau bangsat, berani-beraninya kau memperlakukanku seperti mengemis minta maaf." Sebuah semburan pernyataan langsung di katakan di depanku.
"Kenapa kau meneleponku marah-marah?"
"Ban*gsat gil*a, kau tak ingat apa yang kau minta dari pamanku." Aku baru ingat sekarang, aku hampir melupakannya. Rupanya itu baru dibicarakan dan dia langsung melesak marah.
"Ahh itu, jika kau tidak ingin melakukannya tak usah cerewet. Kau memang tak akan pernah meminta maaf, jadi apa gunanya."
"Jika kau ingin orang meminta maaf padamu kau tak perlu berlaku begitu menuntut. Kau minta Ibuku dan aku ke Montreal, kau sangat keterlaluan!"
Sebenarnya aku tak punya masalah dengan Sergie awalnya, kupikir sumber masalah adalah Margarita, tapi setelah pengumuman lomba itu rupanya dia tidak rela aku mengambil bagian kue yang lebih besar darinya. Sungguh didikan Jovovich yang picik.
Jika memang tak ada damai diantara kami biarlah begitu.
"Anna apa kita mendapatkan janji temu dengan pemilik dengan Medcare?" Aku menelepon Anna sebentar.
"Sudah, aku sudah mengatur pembicaraan dan poin-poin kesepakatannya. Mereka menunggu jawaban darimu."
"Baik, kita bicarakan besok." Bukan mereka saja yang bisa menambah asset dengan signifikan aku juga bisa menandinginya.
Svetluny yang disampingku melihatku terganggu dengan telepon itu bertanya padaku.
"Ada apa?"
"Anak kesayangan mengamuk." Kuceritakan garis besar ceritanya, bagaimana aku bertemu dengan patriarch keluarga Jovovich di Moskow dan membuat tuntutan yang menurutnya sangat menyinggung itu.
"Kau memang mencari masalah." Svetluny menggelengkan kepalanya setelah mendengar itu.
"Sudahlah biarkan saja, anggap saja Jovovich dan aku sama sekali tidak bisa di damaikan."
Svetluny melihatku dengan banyak pikiran berjalan.
"Kau tak usah mendamaikan kami, itu akan sia-sia. Ibunya saja tak pernah minta maaf padaku, mana mungkin anaknya akan minta maaf padaku." Malaikat bulan ini selalu berpikir bagaimana sebaiknya perbedaan di damaikan.
Svetluny menghela napas panjang, lalu tak membicarakannya lagi. Seperti kataku percuma untuk membicarakannya. Kebencian sudah mengakar bertahun tahun diantara kami.
Hampir tak tersisa ruang untuk memaafkan kebencian yang sudah menurun ke generasi ke dua ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=