
Rasa bersalah, menunggu dalam ketidakpastian, terasa membebani. Bom telah dijatuhkan. Aku harus menanggung kerusakan yang mungkin terjadi.
Cepat atau lambat aku harus melakukan sesuatu tak bisa terus bersembunyi begini.
Dan hari ini, seseorang pria datang ke UGD, kalau tidak salah aku pernah melihatnya. Dimana?
"Iya Sir?"
"Nona, Komandan mengirimkan memo untuk Anda." Ternyata staff Gilbert. Rupanya dia yang tidak sabar sekarang.
Aku membuka memonya. 'Bertemu di makan malam hari ini, tapi sebelumnya ke kantorku sebentar jika bisa saat istirahat siang jam 1.' Hmm... mungkin Rosie itu masih benar-benar membayanginya.
"Ya baik." Staff itu pergi. Aku punya sedikit waktu di istirahat siang. Aku naik ke kantornya dan langsung di suruh masuk.
"Aku tidak melihatmu belakangan. Kau kemana?"
"Aku makan di tempat kerja. Maaf, aku tidak memberitahumu."
"Kenapa kau ingin mundur?" Dia melihatku dengan tangan terlipat ke depan.
"Tidak, aku hanya merasa bersalah dan tidak yakin. Tidak aku tak akan mundur. Aku sudah lelah dengan status quo dan menebak jawaban yang tak pasti."
"Kupikir kau menyerah dan jadi pengecut. Bagus, menurutku kau memang hanya perlu sedikit mendorongnya."
"Tidak, aku bukan pengecut, akan kuhadapi sekarang." Aku sudah memutuskan karena aku sudah bicara dengan jelas.
"Duduklah. Kau ingin minum."
"Kau punya minuman?" Dia mengeluarkan sebotol vodka.
"Bukankah kau bekerja." Nampaknya dia takut aku menakar dosis yang salah atau tak bisa menemukan nadi pasien.
"Sedikit saja." Dia memberiku satu sloki kecil, itupun tak penuh. Rasa pahit dan terbakar yang sudah lama tak kurasakan, membuat mataku terbuka dan keberanianku terpompa. "Apa yang kau ingin aku lakukan. Rosie masih mengejarmu?"
"Iya, Aku terganggu Kalau begitu nanti malam semejalah denganku, aku makan malam jam 8.00, kau bisa mengusahakan satu malam ini makan malam bersama?"
"Tentu, aku juga tak ingin kau meninggalkan energency."
"Aku harus bersikap bagaimana?"
"Terpesonalah padaku." Ya aku bisa melakukannya kalau hanya harus terpesona padanya.
"Hmm...oke." Aku mengangguk mengerti.
"Dan mungkin kau harus kembali bersamaku." Aku tak mengerti.
"Kembali ke mana maksudmu?"
"Ke kamarku. Hanya sebentar saja, bukan aku menyuruhmu tinggal semalaman. Yang penting menunjukkan kita pergi ke sebuah tempat private. Apalagi yang dilakukan di tempat private. Itu pasti yang dipikirkan oleh Rosie."
"Begitu." Ini tidak akan berbahaya bukan. Jika dia berani melakukan hal-hal aneh akan kuhajar dia. Gilbert melihatku menimbang sendiri dalam pikiranku.
"Kau takut aku yang berbahaya atau pikiranmu yang membawamu dalam bahaya." Ternyata dia dengan cepat membaca pikiranku.
"Kau terlalu percaya diri Komandan." Dia tertawa mendengar jawabanku. "
"Tak ada masalah jika begitu. Lagipula aku tak keberatan jika sesuatu terjadi. Kau aman di kamarku, tenang saja, jika sesuatu terjadi maka itu pasti karena kau minta sendiri." Dia tertawa menggodaku.
Dasar pengambil kesempatan. Awas saja jika dia mencoba, walau aku yakin dia tidak sebodoh itu.
"Itu hanya ada dalam mimpimu. Kita bertemu nanti malam jam delapan." Aku pergi dari depannya segera.
"Oke jam 8 malam."
Kurasa James juga makan malam pada jam yang sama. Sandiwara ini juga akan menyasar dua orang.
Apa ini akan berhasil. Taruhannya entah aku menangis atau tertawa.