BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 105. My Svetluny is Missing 1


Sebuah notifikasi berbunyi dari emailku.


Svetluny? Kenapa dia mengirim email malam-malam? Langsung kubaca emailnya.


...Tuan Mafia, aku akan pergi dari Montreal. Jaga dirimu dengan baik. Aku akan bekerja di kota lain, memberi kita kesempatan untuk tak bertemu lagi dan bergerak maju ke depan....


...Kuharap kau akan baik-baik saja, semua karier dan pekerjaanmu berjalan dengan baik. Jika kita sudah bisa saling melupakan, entah apa aku bisa melupakan, mungkin kita bisa mengatakan hallo satu sama lain lagi dan nomormu tak kublokkir lagi....


...Kau tak akan bisa menghubungiku. Karena kita harus saling melupakan, dan aku akan jadi penghalangmu. Jika kau berubah pikiran kau bisa bicara kepada Albert dan meminta nomorku....


...Aku tahu tidak adil bagimu aku menghilang begini, tapi aku sudah mengatakan yang harus kukatakan. Kau tidak bisa meninggalkan kebencianmu, aku tak ingin hidupku dipenuhi bahaya. Kuharap kau akan menemukan seseorang yang baik di depan. Svetluny mu ini kan baik-baik saja , kuharap kau akan baik-baik saja....


Aku mencintaimu, sangat. Tapi cinta saja tak cukup...


Apa-apaan ini? Kenapa dia menulis surat seperti ini!? Sudah kubilang aku akan mengurus ini. Tapi dia malah memberiku email ini.


Segera kutelepon dia. Teleponku tidak bisa masuk? Dia benar-benar memblokirku!? Sial! Kucoba dengan pesan, beberapa saat mencoba sama sekali tidak ada notifikasi pesan masuk. Dia benar-benar memblok nomorku. Di mana dia sekarang, dia harusnya di DC bukan?! Di tempat Eliza.


Kutelepon Eliza. Butuh waktu dua kali percobaan untuk dia mengangkatnya.


"Apa?" Tanggapan yang tidak menyenangkan langsung kudapat.


"Eliza bisa aku bicara dengan Monic?"


"Dia tidak di sini. Sudah pergi, bukankah dia sudah memblokirmu. Sudahlah tak usah mencarinya lagi. Tak usah menganggunya lagi. Kalian tidak bisa mencapai kesepakatan dan ini hasilnya."


"Eliza, kumohon biarkan aku bicara dengannya." Tidak mungkin aku membiarkannya pergi seperti ini tak ada kata-kata dia langsung menghilang dengan sepotong pemberitahuan dari email.


"Aku akan menjamin keselamatan keluargaku. Kau pikir aku tak punya kemampuan untuk menekan mereka." Eliza tidak tahu apapun tapi dia pikir aku tak melakukan apapun.


"Ohh baiklah, mobilmu yang ditabrak kemarin jaminan keselamatan, Monic yang diikuti oleh agen tak jelas juga jaminan keselamatan. Astaga Alex, yang Monic mau darimu adalah kehidupan normal, bukan menghadapi keluarga psychopath ibu tirimu. Dia berharap kalian bisa berdamai, hidup tanpa bayang‐bayang ketakutan, dia bahkan perlu kawalan karena takut keluarga ibu tirimu itu melakukan sesuatu, dia hanya minta keamanan dan hidup normal, kau tidak bisa menyediakannya, kau ingin membalas dendam pada Ibu tirimu dan menyeret Monic. Kau sangat keterlaluan." Eliza langsung memotongku. Diam diantara kami, aku berpikir bagaimana menjawab Eliza ketika dia langsung menyambung.


"Alex, sudahlah, kau dan Monic tak bisa bersama. Kau punya tujuan hidupmu sendiri, jika kau ingin membalas dendam di Moskow maka Monic tidak akan mengikuti mu , bahkan kami tidak akan setuju jika dia megikutimu. Monic sudah menimbang siang dan malam apakah dia bisa mengikutimu tapi jawabannya adalah tidak. Jadi jangan paksa dia lagi. Dia sudah cukup menangis karenamu, kalian tidak bisa bersama. Cukup sampai di sini..." Eliza hanya orang luar aku perlu bicara dengan Monic sendiri.


"Berikan aku kesempatan bicara dengannya. Aku ingin bicara dengannya ..."


"Dia tidak ada di sini, dia sudah bekerja di Eropa. Dalam waktu dekat dia juga tak akan kembali ke Montreal. Dia pergi untuk melupakanmu. Kau jangan ganggu dia lagi. Yang dia inginkan darimu adalah keluarga normal, jika kau tak bisa maka lepaskan dia. Itu saja Alex."


"Eliza, tidak bisa begini."


"Memang begini kenyataannya Alex. Apa lagi yang kau inginkan. Sudahlah ini sudah malam. Aku mau istirahat, jika kau merubah keputusanmu bicaralah dengan Albert."


Dalam sedetik kemudian sambungan diputuskan. Aku melihat layar ponsel dengan tak percaya. Dari yang semua baik-baik saja tiba-tiba langsung hilang kontak.


Jadi semua kata-katanya itu serius. Aku tak percaya dia pergi tanpa peringatan seperti ini. Dia tidak mengancam, kupikir dia mau menunggu tapi tiba-tiba dia menghilang.


Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah membalas emailnya, dia pasti menerimanya.


Moon, aku tak bisa menerima kata putusmu. Tidak ada putus diantara kita. Dimana kau? Aku akan kesana menemuimu.


Tidak ada jawaban. Ini membuatku sakit kepala malam akhir pekan ini. Aku menunggu balasannya sejam, dua jam dia tidak membalasku.


Aku butuh bantuan Anna menghubunginya besok.