
"Aku pergi oke." Dia menciumku keningku, saat aku mengantarnya pergi. Aku cukup kaget dia mencium keningku, itu manis dan tak terduga.
"Kau membuatku akan merindukanmu Jenderal. Nanti aku sakit hati kau tinggalkan."
"Kita akan bertemu lagi wonder woman." Aku tersenyum.
"Benarkah."
"Tapi jika kau punya kekasih baru kau bebas menolakku, katakan saja. Aku tak akan menganggumu." Entah kenapa memikirkan kami akan bertemu saja aku sudah senang. Hanya janji temu sederhana. Mungkin teman yang saling mengunjungi.
"Aku boleh meneleponmu bukan."
"Tentu saja boleh."
"Baiklah. Kalau begitu sampai nanti."
Aku melambai padanya. Dia memang tak menjanjikan apapun, tapi akhirnya pertemuan kami menjadi sebuah pertemuan yang berarti.
\=\=\=/\=\=\=
"Lihatlah wajahmu itu. Kau tak kembali semalam, bahkan tak menelepon dan pagi ini ..." Monica menyindirku habis-habisan sekarang, aku hanya bisa meringis lebar padanya. "Ehm ...kalian? Cerita padaku." Dia menunggu ceritaku.
"Itu hanya cerita semalam Monic sayang, kau tahu kami terpisah jarak. Dia bekerja di Washington kita kebanyakan di Montreal. Bagaimana kami bisa punya hubungan lebih, yah mungkin hanya teman mesra, tapi tak berkembang jadi apapun. Kita berdua tahu itu. Aku hanya menyukainya saja..."
"Hmm ... apa sesedih itu Kakak?" Monica ikut bersedih.
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya." Dan aku sudah memikirkannya sekarang. Rindu itu berat. Memulai menyukai seseorang dan tahu kau harus menekan harapanmu sedemikian rupa itu rasanya sedih. "Menyedihkan bukan. Tapi mari menertawakannya saja." Sekarang Monica menepuk bahuku dengan simpati.
"Mungkin tak sesedih itu kakak, mungkin entah bagaimana kalian punya kesempatan nanti."
"Aku tak tahu bagaimana mengatakannya. Tapi kurasa aku tak akan berharap apapun walaupun aku menyukainya."
"Ya sudahlah, mungkin ada kesempatan tak terduga yang terjadi nanti, kuharap kita bisa pulang siang ini saja, aku sudah tak betah di sini."
Dokter James datang ke kami. Mata Monica berbinar melihat dokter tampan itu, ada dia di sini merupakan hiburan.
"Hasil tes-mu bersih. Kau bisa pulang."
"Akhirnya, aku mau kembali ke Montreal Dok."
"Dok, kau terlibat tahu kasus lab penelitian yang menculik Monica?"
"Aku mendengarnya, katanya CDC pusat mengirim orang untuk melihat datanya, tapi aku tak terlibat secara langsung, sekarang labnya di tutup dan militer menjaga tempat itu."
"Kau kenal pemiliknya?"
"Tidak, kudengar pemodalnya adalah oligarki Rusia, Rusia tidak terdampak besar. Mereka seperti Kanada, tapi bagian Eropa lain terdampak juga sebagian besar Asia. Mereka mencari cara untuk mendapatkan obat kedua untuk mendapatkan cash dalam jumlah besar. Mereka berusaha, dan sekarang mereka akan mendapat kesulitan karena dianggap sebagai ancaman."
"Oligarchy Russia, kau tahu namanya?"
"Vladimir Mashkov."
Dimana aku pernah mendengar nama itu. Apa mereka punya bisnis di Kanada. Aku lupa sekarang. Mashkov, mungkin aku pernah bertemu seorang Mashkov di Kanada?
"Mashkov, seperti Alexsey Mashkov?" Monica menyebutkan seseorang yang dia kenal.
"Ehhh benar juga. Aku dari tadi berpikir dimana aku pernah mendengar nama itu."
"Kau mengenalnya Monica? Aku ingat Ayah pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu dan aku ikut dalam pertemuan itu."
"Well, dia cukup terkenal, setidaknya di kalangan teman-temanku. Dia tampan, kaya, misterius, tak ada yang tahu banyak soal dia. Kalau dia datang ke sebuah acara selalu ada pengawal di sisinya, dan selalu ada wanita di sampingnya, wanita cantik berambut pirang orang Rusia, kata teman-temanku itu juga pengawal sekaligus asisten pribadinya. Orang seperti itu secara otomatis menarik perhatian.
"Hmm , sok penting sekali."
"Mungkin dia memang penting."
"Aku tak tahu, Dokter James kami akan pulang saja, aku akan menyelesaikan administrasinya saja. Thanks Dok."
Kami kembali ke Montreal. Mashkov ini, jelas dia akan menyalahkan CEO-nya, walaupun mungkin itu idenya.