
"Rekan kita di sebelah sana bukan di arah sebaliknya. Nampaknya ada kelompok pengungsi hidup di daerah sini." Prajurit lain yang bicara.
"Untungnya mereka di sebelah sana. Keuntungan nampaknya kita dijauhkan dari sumber bunyi."
"Kau benar. Aku akan coba melihat apa mereka sudah menjauh." Seorang prajurit sekarang mengendap melihat keadaan.
Dia memberi tanda kondisi sudah aman ke kami. Jadi kami kembali ke mobil.
"Apa kalian menembak tadi? Kurasa kami mendengar suara tembakan?" Pimpinan misi langsung mengecek kami.
"Bukan Capt, nampaknya ada pengungsi lain di kota ini yang punya senjata, mereka yang melakukan penembakan. Itu di sebelah utara kota, malah menguntungkan kita menjauhkan para infected itu."
"Baik, kalian masih harus menunggu di sana. Kami masih berusaha mencari jalan."
Dan kami harus menunggu setengah jam setelahnya. Untuk mendapatkan kepastian rute. Dan beberapa tembakan masih terdengar kemudian. Sejam kemudian setelah berhati-hati kami berhasil melewati pinggiran kota untuk kemudian masuk ke Little Rock.
"Perjalanan biasa hanya satu jam, tapi ini kita sudah menempuhnya selama lima jam. Baru masuk ke pinggir kota." Aaron mengomentari perjalanan kami. Kemungkinan besar hampir matahari terbenam baru kami bisa masuk ke pangkalan militer.
"Kau benar. Sungguh di zona hitam sangat menakutkan."
Untunglah saat memasuki pinggir kota kami bisa melihat kendaraan penjemput. Setidaknya mereka mengenal rute aman kota ini.
Kami masuk ke zona militer aman jam 7 malam, walau matahari masih bersinar, tapi jelas perjalanan hampir 7 jam itu sangat melelahkan.
Aku menghempaskan diri ke hangar untuk meluruskan kaki setelah mengecek kondisi Aaron, semoga benar dia kebal, hari ini suhunya benar-benar normal.
"Mam, kau yang bernama perawat Jennifer?" Salah seorang prajurit menghampiriku.
"Iya."
"Telepon untukmu dari Dokter James. Mari ikut saya."
"Ohh baik." James mungkin mengecek kondisi pasiennya. Aku berlari mengikuti prajurit ke ruangan komando.
"Jen? Bagaimana pasienmu?" James langsung pada persoalan.
"Dia baik, hari ini dia tidak demam sama sekali malah."
"Dia tidak demam sama sekali?! Benarkah?"
"Aku memantaunya sekali dalam perjalanan dan sekarang, dia tidak punya siklus demam sama sekali, semua tanda vitalnya baik. Sekarang dia sedang makan dengan lahap, ngobrol dan beristirahat. Kami baru sampai disini setelah perjalanan 6 jam."
"Kalian tidak bertemu banyak infected?"
"Ada kantong infected di jalur utama, kami harus memutar jauh ke dalam hutan, itu ribuan. Mengerikan sekali dikepung seperti itu..." Aku secara tak sadar langsung menceritakan kisah perjalananku. Tapi setelah kupikir lagi mungkin itu mungkin membuatnya khawatir.
"Apa aku harus mengirimkan bantuan tambahan? Kalian baru tiba 6 jam setelah pergi?"
"Ohh tidak, kau tak usah khawatir. Mereka sudah berpengalaman sekarang. Kami tak akan lewat situ lagi, kami sudah tahu jalan yang harus ditempuh. Besok perjalanan akan lebih singkat. Kami harus mencari jalan memutar di kota sebelum Little Rock karena itu lama, tapi nanti tak akan lama lagi. Tak usah, semua masih terkendali, jika kau mengirimkan bantuan akan membuat masalah dengan kapten pimpinan misi. Aku baik-baik saja." Dia tetap perhatian seperti Andrew yang biasa.
"Lebih banyak orang lebih baik."
"Tidak perlu! Benar-benar tidak perlu, mereka bisa menjamin keselamatanku. Kau tak perlu melakukan apapun. Aku menghargainya, tapi itu benar-benar tak perlu."
"Itu bukan masalah besar." Dia berkeras mengirimkannya.
"Andrew bisa kau percaya saja pada permintaanku. Aku akan kembali sebelum makan siang besok."
"Tidak, kenapa aku harus menurutimu jika aku bisa melakukan sesuatu." Dan aku tak mau dia melakukannya demi dia juga.
"Jika kau percaya padaku aku akan kembali padamu. Dan mulai belajar mempercayaimu." Aku berpikir mungkin di ujung dunia ini aku bisa menerima orang yang berusaha untuk melindungiku. Tak ada yang tahu besok, mungkin besok kami tak punya kesempatan lagi, seperti tadi, jika kami tak bisa lolos dari kepungan infected itu, bagaimana jika aku tak punya kesempatan lagi.
"Maksudmu?"
"Kau tahu apa maksudku Tuan Walikota." Dia diam dengan kata-kataku.
"Berjanjilah untuk kembali padaku dengan aman. Dan temui aku sebelum makan siang besok." Akhirnya dia menyerah menyuruh orang lain menjemputku. Aku tertawa kecil.
"Aku akan menemuimu, aku sudah rindu kembali ke Hot Spring. Itu kota aman terindah."
"Istirahatlah dengan benar malam ini."
"Apa James tahu sesuatu tentang kita."
"Iya tentu saja dia tahu." Aku tak percaya dia juga mengatakan hubunganku dengan James.
"Aku bahkan belum menerimamu." Dia tertawa.
"Sekarang sudah." Dengan kata-kata itu dia menutup telepon.