
"Di bangsal membuatku depresi seperti orang sakit. Aku lebih baik di sini saja."
"Kau memang sakit. Lihat kepalamu itu. Kau pikir kau bisa bekerja? James akan memarahimu habis-habisan. Kau tak tahu khawatirnya dia, saat masuk ke UGD dia memarahi semua orang. Sampai Noah harus yang mengambil alih penanganan karena dia terlalu emosional."
"Benarkah?"
Mungkin dia pikir aku ada sesuatu yang serius terjadi saat aku pingsan, kami memang harus menempuh perjalanan sulit, tak ada penerangan memadai, aku pingsan setengahnya mungkin karena memang trauma ringan itu, lainnya murni kelelahan dan kedinginan. Itu menjelaskan kenapa dia juga memarahi Andrew kemarin, dia hanya terlalu khawatir, walaupun sebelumnya dia bersikap cukup tenang.
"Katanya dia melarang Andrew melihatmu? Semalam hampir terjadi keributan?" Susan rupanya sudah mendengar kejadian semalam.
"Kau sudah mendengar kejadiannya. James hanya kuatir berlebihan kurasa. Padahal ini kecerobohanku sendiri."
"Aku setuju dia memarahi Andrew, ..." Susan mengatakan pendapatnya. "Andrew memang kelewatan kadang.
"Sudahlah tak ada gunannya kita membahas itu, aku sudah berniat melupakannya. Aku keatas juga untuk melupakannya." Perkataanku membuat Susan dan Maria berpandangan.
"Ya sudah, kami tak akan membahasnya lagi." Maria tersenyum simpatik padaku. Lalu mulai memberi tahu soal eskrim blueberry yang akan kami dapatkan karena aku mendapatkan blueberry. Susan membalas dengan senang. Sementara aku membagi kepada mereka blueberry yang dibawa Maria.
Aku senang aku pagi ini punya teman untuk bicara. Sebentar lagi mereka harus bertugas.
Ada seseorang mengetuk pintu.
"Boleh aku masuk." Ternyata Andrew. Apa dia ingin dihajar James lagi jika dia tahu dia berani ada di sini.
"Andrew,..."
"Kau baik?" Dia masuk sekarang.
"Aku baik. Tak apa..."
"Kami akan pergi saja, aku harus masuk shift pagi." Susan beringsut pergi.
"Maaf kemarin James memarahimu, dia hanya terlalu khawatir."
"Tak apa aku memang pantas dimarahi, aku menerimanya. Aku memang pantas menerima kemarahan itu. Bagaimana perasaanmu?" Aku tersenyum getir mendengar perkataannya.
"Aku baik, banyak yang menjagaku di sini. Lagipula ini hanya terbentur. Bukan hal yang harus di khawatirkan."
"Seperti kata James aku memang bersalah untuk ini."
"Sudahlah, kita sudah membicafakan ini sebelumnya. Hanya mungkin aku akan menghindarimu beberapa saat nanti. Aku perlu waktu untuk melupakan. Itu saja, jadi mungkin kau tak perlu muncul di depanku nanti. Supaya lau tak mendapat bogem mentah dari James juga. Aku akan baik-baik saja."
"Kau bisa selalu minta bantuan apapun padaku. kau tahu itu."
"Iya aku tahu, aku tak akan menyalahkanmu. Kau juga tahu itu. Kita bisa menjadi teman, nanti setelah aku bisa mengangap semuanya biasa lagi. Sekarang lebih baik kita saling menghindar saja. Nanti kau akan dihajar James lagi jika kau mencoba bicara denganku."
"Iya aku tahu."
"Kau harus pergi, jika James melihatmu di sini dia benar-benar akan menghajarmu."
"Aku benar-benar minta maaf." Dia melihatku dengan tatapan bersalahnya.
"Sudahlah. Hindari aku saja untuk sementara waktu. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih buat kemarin. Pergilah, kau pasti punya banyak pekerjaan."
"Baiklah, aku pergi. Cepatlah sembuh."
Aku tersenyum padanya. Entahlah perasaanku campur aduk kurasa melihat sosoknya. Dia menghilang di balik pintu, aku menghela napas.
Ya setidaknya masih ada James yang memikirkan blueberryku. Besok ada es krim blueberry. Hari tak begitu buruk, aku hanya harus bersabar menunggu rasa ini menghilang.
Bersabarlah. Ada saatnya kau akan bahagia lagi.