BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 26. We Will Meet Again 2


"Kau tak membalasnya?"


"Membalasnya?


"Dengan kata-kata pedasmu sendiri."


"Aku lebih suka mengabaikannya kurasa. Tak berguna membalas orang seperti itu. Tapi dia membuatku mengejar karierku lebih giat. Anggap saja itu cambuk pedas, di setiap peristiwa ada sesuatu yang bisa diambil, akhirnya hanya tergantung cara bersikap saja." Aku melihatnya dengan perasaan kagum.


"Bukankah itu sudah enam tahun yang lalu."


"Iya, kira-kira tiga tahun kita di masa pandemi. Belakangan dia muncul lagi. Dia membuatku teringat kejadian itu lagi.


"Jenderal aku menyukaimu." Dia melihatku dan tersenyum kecil dengan kata-kataku.


"Kau tahu apa yang kukatakan semalam. Aku tak bisa memberimu janji apapun."


"Aku tahu. Aku hanya ingin mengatakan hatiku. Karena mungkin kita tak bertemu lagi. Aku tak akan meminta janji apapun padamu. Tapi aku menyukaimu."


"Alasan kau menyukaiku..." Dia bertanya menggodaku dan merengkuh pinggangku dengan kepemilikan.


"Kau terlalu panas." Dia tertawa.


"Kau bisa memikirkan alasan yang lain, wonder woman."


"Bahkan wonder woman butuh sang jenderal di sisinya menurut ceritanya, bahkan mati untuknya. Walaupun sang Jenderal kembali hidup lagi. Aku bukan wonder women, aku hanya wanita biasa yang sedikit punya keberanian menghajar orang."


Dia hanya memandangiku. Aku tahu walaupun dia juga mungkin menyukaiku, tapi dia juga sangat menghargai kariernya. Hubungan kami tak mungkin.


"Aku tahu hubungan kita sulit, mendapatkanmu sebagai teman baik, itu sudah menyenangkan. Kau tak usah menganggap aku serius soal aku mengatakan aku menyukaimu."


"Aku tak mengatakan kita tidak bertemu lagi. Jika aku ke Montreal boleh aku meneleponmu?"


"Tentu saja boleh, kenapa tidak. Kau bilang kau mau bertemu Kakak bukan."


"Iya. Mungkin kita akan bertemu lagi. Lagipula kau penghubung bisnisku di US. Aku akan banyak minta bantuanmu kurasa."


"Kakakku yang mengurus dakwaannya dari sana. Aku belum menelepon sebenarnya, mungkin akan ada masalah, tapi aku tak takut."


"Kenapa dia di USA?"


"Aku akan mencoba menelepon Albert." Kuambil ponselku sekarang dan kutelepon Albert dalam pelukan sang Jenderal.


"Albert, kau tahu semalam aku menghajar bangsat Dave Thomas saat aku makan bersama temanku di restoran, kau punya ide kenapa dia bisa muncul di NY?"


"Mereka akan menangkapnya hari ini, dia muncul di NY? Dia kabur?


"Berarti dia kabur."


"Yang penting mereka sudah mengamankan assitennya semalam, dia yang menghubungi partner mereka di US, tunggu saatnya saja dia di dakwa."


"Ohh baiklah, kurasa jika hasil tes hari ini bagus besok kami akan kembali ke Montreal. Mom tak apa bukan."


"Tak apa. Dia baik-baik saja."


"Sampai jumpa besok jika begitu."


"Baiklah." Aku menyudahi telepon.


"Assistennya sudah di tangkap, tapi dia belum. Dia mungkin akan jadi buronan, penculikan atas 4 orang bukan hal main-main."


"Kami juga akan mempersulit perusahaannya yang ada di US. Dia tak akan lolos. Obat itu penting untuk kami, yang berusaha membuatnya dengan cara kriminal tak akan mendapat ampun. Jika dia buron ke sini, pihak kalian bisa memberikan permintaan pencarian resmi nanti kami akan bantu."


"Baiklah, aku akan mengatakan pada penyidik yang bertanggung jawab."


"Ayo, kutemani kau sarapan. Sekitar jam 9 aku harus sudah pergi oke."


"Ayo."


Hari ini berakhir, tapi mungkin ini bukan yang terakhir.