
Nampaknya sebulan ini sejak pertengkaran kami dan berujung hampir berpisah semuanya baik-baik saja. Kami jadi dekat lagi tak ada yang salah. Dia menganggap mantan pacarnya itu bagian dari masa lalu dan tidak menemuinya lagi.
"Kubilang juga apa, Andrew hanya menganggapnya sebagai mantan yang sudah berlalu." Susan masih menganggap aku berlebihan.
"Iya kuharap kau benar , lebih baik begitu. Aku juga ingin menganggapnya seperti itu." Baiklah mungkin yang kulihat itu salah. Dia hanya kaget seperti katanya.
"Dia pria baik, kau beruntung mendapatkannya." Susan menyengolku dan membuatku tersenyum.
"Aku memang beruntung." Tentu saja aku bersyukur, aku mendapatkan perhatian sang walikota tanpa perlu berusaha keras seperti wanita lain yang ingin mendapatkannya.
Aku sudah mulai melupakan masalah itu. Semua akan baik-baik saja kupikir, sampai suatu sore Donna mantan Andrew itu muncul di depanku dengan muka pucat.
"Donna? Kau kenapa?" Aku kaget tentu saja mendapatkannya datang ke UGD. Aku langsung menghampirinya dengan khawatir, bagaimanapun aku tak punya permusuhan dengannya.
"Lambungku sakit, penyakit lama sudah lama tak kambuh. Tapi ini akumulasi kurasa, aku tak bisa makan dengan baik beberapa hari ini mual dan muntah. Asam lambungku naik sehingga aku mendapatu dadaku sepertu terbakar, sekarang minum saja muntah. Aku punya obatnya biasanya, tapi sudah habis dan sering terlambat makan sebelum masuk ke sini."
"Punggungmu tidak terasa sakit bukan."
"Ehm, tidak kurasa hanya gejala yang kusebutkan. Kenapa aku harus sakit punggung? Apa sakit punggung ada hubungamnya dengan sakit lambung seperti ini?" Dia langsung heran.
"Ada itu artinya kau sudah dalam perforasi usus." Dia langsung menggeleng.
"Tidak hanya gejalan yang kusebutkan belum sampai sakit punggung."
"Kau tunggu di sini. Kupangilkan dokter segera " Noah sekarang datang membantuku. Bertepatan dengan itu Andrew datang, dia melihat Donna dengan muka pucatnya.
"Kenapa kau Donna." Dia langsung menghampiri saat Donna diperiksa oleh Noah.
"Ini hanya penyakit lama. Tak usah khawatir, hanya maag bandel yang memutuskan membuat masalah."
"Kau harus opname .di sini bair kami bisa mengontrol kaadaanmu. Maagmu menjadi kronis, jika berkembang lebih jauh lagi akan berbahaya. Noah memutuskan penanganannya.
"Opname dokter? Lalu bagaimana dengan pekerjaan dan yang lainnya. Ini musim panen." Dia masih mengkhawatirkan pekerjaannya.
"Kau mulai tak bisa minum dari kapan?" Noah yang bertanya lagi.
"Baru pagi ini kurasa."
"Harusnya kau melapor dari kemarin, kenapa menunggu sampai parah begini." Sekarang Andrew yang memarahinya tanpa merasa sungkan. Dia perhatian kepada mantan pacarnya itu. Tak apa dia sakit, orang sakit memang harus diberi perhatian, itu bukan berarti apapun. Aku mencoba berbesar hati.
"Benar kata Andrew harusnya kau langsung melapor jangan terlampau parah begini. Stok.obat sekarang cukup memadai. Kami harusnya bisa melakukan intervensi agar kau tak perlu menderita begini."
"Terima kasih Dok, terima kasih Susan, maaf menyusahkan kalian."
"Kau ini, kami memang bertugas merawat orang sakit tak ada yang direpotkan."
"Kau pucat seperti hantu." Andrew yang berkomentar sekarang.
Para perawat memasukkannya ke salah satu kamar inap sekarang. Obatnya ada dan mulai berjalan, dia terlibat lebih tenang sementara Andrew juga mengunjunginya akhirnya.
"Jen, boleh aku bicara padanya." Dia malah meminta izin padaku.
"Tentu saja boleh. Kenapa harus meminta izin "
"Nanti kau mendiamkanku lagi." Aku tertawa.
"Tidak pergi jika kau ingin menjenguknya, kamarnya di 12A."
...----------------...
...----------------...
bersambung besok .....