
"Florida sudah selesai, mereka akan segera deklarasi seluruh bagian Timur sudah green zone." Dua minggu kemudian aku mendapatkan kabar baik. Setelah di televisi dan radio pemerintah mengatakan bagian tengah dan barat sudah sepenuhnya green zone dua hari yang lalu.
"Kurasa kau akan di berikan pilihan untuk kembali ke markas awal atau memilih penugasan baru segera. Susan dan D'Angelo sudah dua minggu lalu kembali. Katanya D'Angelo sebagian di liburkan dan masih menunggu penugasan baru."
"Benarkah, nampaknya mereka mulai mengatur kembali penempatan militer karena sekarang sudah banyak daerah aman. Kami masih belum tahu kapan kembali karena baru dua hari yang lalu sebenarnya mereka menyelesaikan zona terakhir. Tempat ini cukup bagus... kau tahu kawasan pantai mereka yang sudah selesai malah memilih liburan di sana." Aku tertawa.
"Aku juga sempat berpikir kita akan menghabiskan hari terakhir dengan mengunjungi pantai di Florida. Sepertinya sangat menyenangkan."
"Aku akan menunggu sebentar setelah selesai deklarasi, nanti aku akan bertanya pada Professor Hans apa aku bisa kembali ke El Paso."
"Iya tak apa, Ibu dalam kondisi yang stabil sekarang, screeningku juga masih belum selesai, aku harus menyelesaikan beberapa batch pelatihan yang melatih tenaga medis yang akan disebar di seluruh Texas nanti. Dokter Ibu bilang dia masih bisa menunggu."
"Baik kalau begitu. Aku akan menunggu saja sebentar lagi."
"Ada yang menggodamu di sana." Aku merubah pembicaraan.
"Selalu banyak yang menggodaku, entah kolega atau pasien. Kau tahu itu." Dia tertawa di ujung sana, dia ingin membuatku cemburu bukan.
"Kalau begitu cepatlah ke sini." Dia tambah tertawa.
"Kapan aku tergoda jika aku tidak menginginkannya. Bahkan kau pun tak bisa menggodaku Toothsie." Dia masih memanggilku dengan panggilan yang kubenci itu. Nampaknya panggilan itu tak akan bisa dirubah.
"Awas kau, ingat aku masih punya banyak mata-mata di sana."
Aku tahu dia tak akan macam-macam, aku hanya merindukan bisa memarahinya.
Menyusul Susan banyak teman-teman sesama perawat militer yang kukenal pulang juga ke El Paso. Suasana menjadi ramai kembali dengan teman-teman lama. Kurasa jika aku harus menjadi donor nanti mereka bisa banyak membantuku juga.
Kota semangkin ramai dengan kepulangan banyak prajurit minggu-minggu berikutnya dan hari yang kutunggu-tunggu pun akhirnya tiba.
"Aku bisa pulang ke El Paso." Akhirnya aku mendengar kata-kata itu.
"Bagaimana kau akan pulang."
"Aku kemungkinan besar mengikuti jalur kereta yang sudah di pulihkan di seluruh Amerika. Jalan masih banyak penghalang tapi kareta api sudah berjalan seluruhnya untuk keperluan militer dan mobilisasi kembali. Mungkin butuh minimal 4 hari untuk mengikuti seluruh jalurnya tapi aku akan sampai."
Dia satu-satunya di Florida yang berasal dari resimen El Paso Texas seperti aku, maka kepulangannya sulit, tak mungkin mengharapkan bantuan terus dari Gilbert, itu hanya benar-benar untuk keadaan darurat.
"Baiklah, rencanakan perjalananmu dengan hati-hati. Aku menunggumu di sini." Dalam.tiga hari kemudian dia berangkat dari Florida. Ada beberapa orang yang berangkat bersamanya tapi tak sejauh jalur yang harus di tempuhnya.
Aku menunggu harap-harap cemas dia kembali. Dia mengirimkan pesan di sela-sela perjalanannya di mana dia, untungnya dia bilang sebagian besar jalur masih dimanfaatkan oleh militer sehingga tak ada yang menggangu perjalanannya. Perjalanannya relatif aman, walaupun dia kebat-kebit karena kadang harus menginap di stasiun tapi di hari ke 5 akhirnya dia berhasil mengarah ke tujuan akhirnya El Paso.
Aku sudah tak sabar mendapatkan senyumnya di depanku. Dia kembali ke rumahnya, walau itu ditempati pengungsi ternyata ada house keeper yang juga mengunsi di sana Rumahnya nampaknya aman dan bersih. Saat dia sampai kubiarkan dia beristirahat dulu, aku menunggunya di rumah sakit keesokan harinya.
"Kau datang akhirnya." Dia terlihat baik-baik saja. Aku sudah rin*du memelu*knya.
"Bagaimana kabarmu."
"Aku merindukanmu." Sekarang dia tersenyum. Aku merindukannya, ingin memeluknya. Kami tak berani terlalu ekspresif di ruangan umum tentu saja, kondisi banyak orang kadang mereka masih berduka, lagi pula ini tempat kerja.
"Aku harus melapor untuk bertugas kembali, nanti kita bisa bicara banyak. Aku juga harus mengecek perkembangan Ibumu."
"Iya pergilah." Sementara aku punya pekerjaanku sendiri. Kamipun berpisah untuk bertemu kembali kemudian.