
Setelah pasta dan steak sempurna yang datang aku senang dia mengajakku ke sini.
"Restoran ini bagus, makanannya juga enak. Terima kasih mengajakku ke sini."
"Aku senang kau menyukainya. Aku pernah diajak rekan kerja ke sini. Kuputuskan ini memang restoran yang bagus. Dan disini memang cukup ramai."
"Anggurnya juga bagus, mereka masih punya anggur Merlot. " Anggur merah dengan rasa plum itu punya rasa yang kusukai. "Bersulang Jenderal..."
"Jangan memanggilku Jenderal, pangkat itu membuatku terdengar tua." Aku tertawa, aku menyukai memanggilnya begitu. Seperti kata Monica perlu bintang tiga untuk menaklukkanku, good looking saja tak cukup.
"Baiklah, bersulang Gilbert,..."
"Itu lebih baik." Dentingan gelas yang renyah terdengar di telingaku.
Aku senang malam ini. Tapi kemudian seseorang yang kulihat membuat kesenanganku sangat terganggu. Wajahku berubah dengan cepat, bajin*gan Dave Thomas itu ada disini?! Dengan wanita?! Bajin*gan! Aku akan membuat perhitungan padanya sekarang.
"Apa yang kau lihat?" Gilbert menyadari perubahan air mukaku tentu saja, itu sangat kentara.
"Bangsat yang menjual adikku sebagai kelinci percobaan. Akan ku*bu*nuh dia." Aku berdiri dan melesat ke mejanya. Jika giginya tak tanggal malam ini jangan panggil aku Eliza lagi.
"Tunggu!" Gilbert mencoba menghentikanku, tapi aku sudah setengah berlari ke mejanya.
"Hei apa yang kau lakukan?!" Langsung ku cengkram kerah bajunya. Keluarganya lima teratas orang kaya di Kanada, aku sama sekali tak perduli. Apa dia disini untuk lari dari penangkapan?!
"Apa yang kau lakukan?! Bajingan kau masih bertanya." Selesai kalimat itu adalah saat tinjuku melayang menghantam wajahnya. Dan wanita yang dibawanya berteriak takut.
Aku sudah lama tak latihan akibatnya pukulan yang kulakukan tak telak dan buku jari tanganku malah sakit karena salah sasaran. Tapi aku tak perduli. Sekali lagi pukulanku menghantam aku ingin mematahkan hidungnya. Dan kali ini berhasil. Dar*ah mengucur di pukul*an kedua. Lalu ketiga dan keempat, sebenarnya aku tak sadar lagi berapa pukulan yang kulayangkan ke wajahnya.
"Hei Nona!? Hentikan!" Dua orang pengawalnya berlari dengan cepat ingin memisahkan kami.
"Ohh mengandalkan pengawalmu?! Dasar lemah!" Sekali lagi aku menghantam wajahnya dengan masih mencengkram kerah kemejanya.
"Kalian tak usah ikut campur!" Gilbert menghalangi pengawalnya. Tapi mereka merangsek maju tentu saja. Tapi nampaknya Gilbert bisa diandalkan. Orang-orang itu merangsek memukulnya tapi dia bisa nenghindar dan memukul balik mereka. Gilbert bisa menangani pengawal, aku diatas angin, tambah semangat untuk menghajarnya.
"Kau perempuan gila?!" Sekarang dia melindungi kepalanya takut kupukul lagi. Tak mendapat kepalanya aku menghajar sela*ngka*ngannya dengan kakiku. Kali ini tubuhnya langsung terlipat ke depan. dan terakhir lututku menghajar wajahnya. Kupastikan giginya patah! Untungnya aku memakai pa*nts yang membuatku bisa menghaja*rnya dengan puas. Dia terkap*ar meringkuk di lantai.
"Makan itu bajin*g*an! Sebentar lagi aku akan membawamu ke penjara." Selera makanku hilang sudah.
Aku berjalan dengan cepat menuju ke meja kasir di iringi tatapan orang-orang. "Mana manager?! Aku bayar kerusakannya dan billnya!" Sebenarnya aku tak merusak apapun, aku hanya merusak gigi dan mematahkan hidungnya, semoga ball - (telur)- nya juga rusak.