
"Tak apa. Itu bisa dimengerti. Menangislah sepuasmu." Dia menepuk bahuku. Aku menyembunyikan wajahku di lipatan lututku.
"Dia tetap baik padamu bukan."
"Ya selama ini dia menganggapku hanya adik. Tentu saja dia baik. Hanya rasanya begitu mengecewakan hanya dianggap adik, setelah kupikir perhatiannya terlalu ..." Aku tak ingin bicara lagi, ini begitu mengecewakan.
"Banyak hal yang belum pasti sekarang. Mungkin dia masih perlu waktu. Kau tahu keadaan sekarang serba sulit." Aku langsung memotongnya.
"Tak usah menghiburku Gilbert, aku tahu apa konsekuensiku sendiri."
"Aku hanya mengatakan pikiranku, kurasa seorang pria tidak akan bersusah payah melakukan sesuatu jika dia tidak bermaksud demikian. Entahlah aku tetap merasa kau masih punya harapan."
"Dia menganggapku tanggung jawab karena melihat kakakku. Kami bahkan sudah kenal dari sejak kami kecil." Aku menjelaskan kebenarannya.
"Benarkah? Jika begitu, yah mungkin dia memang ingin sebatas itu. Maaf ini tidak berhasil untukmu."
Aku sudah bicara terang-terangan, jika sampai sekarang dia membiarkanku, maka artinya tak ada yang diharapkan lagi.
Malam ini kupuaskan menangis dan menerima kenyataan saja. Orang yang memang tak punya hati denganku.
Aku ternyata memang tak beruntung.
Esok paginya aku bangun dengan mata merah dan sembab. Aku sudah berjanji menerima hasilnya sebelum ini . Apapun hasilnya aku tidak akan membenci James. Walaupun aku sudah menangis semalaman, tidak ada yang akan berubah pagi ini.
Tapi hari ini Mama meneleponku. Aku mengangkatnya dengan senang hati. Berharap teleponnya bisa menghiburku sedikit.
"Mom? Kau bisa mendapat akses ponsel?" Yang mendapat akses ponsel terbatas sekarang. Hanya personel penting, jika tidak kau hanya bisa mengirimkan dan menerima pesan yang diliverynya kadang lama. Untungnya karena aku assisten utama James aku mendapatkan akses ponselku.
"Iya hari ini Ibu mendaftar untuk meneleponmu. Jen, kau disana baik? Katanya daerah tempat kalian bekerja berbahaya."
"Kami menangani infected Mom, membersihkan wilayah Florida, ini memang bagian berat tapi kami punya protokol keamanan. Dan obatnya berhasil." Aku bercerita panjang untuk menenangkan kekhawatirannya.
"Iya kata orang-orang kemungkinan seluruh daerah US akan jadi green zone dalam waktu dekat. Kita sudah punya obat syukurlah. Mungkin kau bisa kembali ke rumah lagi Jen."
"Seharusnya Mom. Kita hampir dua tahun tak bertemu, aku sangat merindukanmu."
"Mom merindukanmu, untungnya Mom tahu kau ada James yang bisa melihatmu di sana. Teman kakakmu itu, kau beruntung bisa bertemu dengannya lagi. Kemarin Mom sempat bicara dengannya dia bilang kalian baik-baik saja. Tak usah mengkhawatirkanmu..."
"Iya Mom, aku baik-baik saja. Kau di sana apa kau kekurangan sesuatu? Kau tak usah menelepon James dia sibuk."
"Kau selalu mengatakan semuanya baik-baik saja. Kau tak mau Mom khawatir, Mom mau tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mom ada di kota aman, semuanya di sini baik-baik saja. Kau tak usah khawatir, Mom yang selalu mengkhawatirkan tugasmu. Kalian di kota perintis, makanan terbatas, kondisi berbahaya, Mom jadi tahu kau beberapa kali mendapat bahaya, tapi kau di militer, itu resiko, jika entah bagaimana jasa pengiriman itu masih ada akan Mom kirimkan sesuatu untukmu. Mom mendapat cerita kalau di kota perintis itu makan sesuai dengan hasil panen yang ada, kebanyakan kalian menanam kentang dan sayuran, tak punya roti, tepung. Hanya ikan dan unggas jika kalian beruntung. Apa kau bisa makan."